One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Rencana jahat



Justin merentangkan tangannya saat keluar dari ruangan itu. Akhirnya ia bisa keluar dari penjara membosankan itu.


"Bisakah kita ke cafe sebelum pulang? Aku butuh coffee." Richard menatap sinis pada Justin yang seperti merengek itu.


"Kau saja sendiri. Aku akan langsung kembali ke hotel." Alicia menatap Richard dengan senyuman kaku.


"Ada apa?" Tanya Richard sedikit ragu.


"Aku juga sepertinya membutuhkan coklat panas dan sepotong kue." Ujar Alicia pelan. Hanya air putih membuatnya kembung dan lapar.


Richard menghembuskan nafas keras.


"Baiklah, kita ke cafe terlebih dahulu." Justin bersorak senang. Lalu menatap sinis sekertarisnya.


"Kau masih ingin ikut dengan ku?" Tanya Justin. Pria itu mengangguk dengan wajah datarnya.


"Tidak bisa kah kau mencari kesibukan lain? Aku membebaskan mu."


"Aku akan terus mengawasi mu." Justin tersenyum garing mendengar itu.


"Aku memilih CCTV berjalan." Ejeknya sambil berjalan terlebih dahulu membuat ketiganya mengekori langkah Justin.


Sesampainya di sebuah cafe, mereka memilih kursi luar, ditemani oleh acara live music, matahari sudah tak tau ada dimana, tak terasa waktu sudah hampir jam 5.


Alicia meminum kembali coklat panasnya, perutnya tak enak sedari tadi. Alicia menghitung tanggal dikepala, waktu datang bulannya sudah lewat seminggu lebih, pantas saja perutnya terasa tak nyaman. Sepertinya ia akan datang bulan malam ini.


"Aku kedepan sebentar." Bisik Alicia pada Richard. Membuat pria itu sedikit menatap tajam.


"Mau kemana?"


"Membeli sesuatu.. urusan wanita." Jawab Alicia. Seakan mengerti Richard pun menganggukan kepalanya.


"Mau ku antar?" Tawar Richard. Alicia menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, itu didepan, kau bisa mengawasi ku dari sini." Richard tersenyum, ternyata Alicia sudah mengetahui kecemasannya.


"Baiklah. Aku akan mengawasi mu dari sini." Alicia tersenyum dan mulai beranjak dari kursinya.


Justin tak memperhatikan sekitar, ia fokus pada ponselnya, ini sudah panggilan nya yang ketiga, namun dokter jiwa itu seperti mematikan ponselnya.


"Apa dia mengganti nomor?" Gumam Justin pelan. Entah hidayah apa yang ia dapatkan saat tiba-tiba saja ia teringat wajah Jessy, ia belum meminta maaf pada wanita itu.


-


Alicia mengambil kembalian dan stuck lalu memasukkan pembalutnya kedalam tas. Saat keluar dari mini market tersebut, Alicia sedikit terkejut mendapati seorang anak jalanan menyodorkan sekotak roti yang terlihat sangat tidak menggiurkan.


"Kak, belilah roti ini, aku harus menjualnya sebelum malam. Adik ku membutuhkan obat." Wajah anak berusia kisaran 11 tahun itu terlihat memelas dan tak terurus, namun siapa yang akan membeli roti dengan kemasan seperti itu.


"Maaf, tapi aku sudah kenyang. Berapa kau menjualnya?" Tanya Alicia yang merasa iba.


"Berapapun kau memberinya aku sangat berterima kasih." Anak kecil ini pandai dengan kata-katanya, membuat Alicia sedikit kebingungan harus memberi berapa.


"Ada apa?" Suara tegas itu mengejutkan keduanya, Richard memasang wajah tak bersahabat pada anak kecil tersebut.


"Ia menjual roti." Jawab Alicia, ia memberikan beberapa lembar dollar yang ia punya.


"Ini rotinya." Alicia mengangkat tangannya rendah.


"Tidak perlu. Untuk mu saja." Jawab Alicia ramah. Ia memeluk lengan Richard yang masih menatap tajam anak kecil itu.


"Sudah. Ayo kita kembali kesana."


"Jika kau tidak ingin membelinya katakan saja tidak. Mereka akan semakin rajin memelas seperti itu. Diumurnya yang masih kecil seharusnya mereka sekolah." Ucap Richard panjang sambil berjalan kembali menuju cafe, ia bingung kemana para orangtua dari anak kecil seperti itu, membiarkan anaknya berjualan dan tak terurus.


"Kau terlalu kaya dan tak akan mengerti kehidupan dengan kekurangan ekonomi, aku saja melakukan apa saja untuk ibuku bukan?" Richard terdiam. Ia merasa ada sindirian diucapan wanita itu.


"Apa maksud ucapan mu? Kau ingin merendah lagi? Alicia, aku tidak ingin mendengar itu lagi mengerti?." Alicia menarik nafasnya panjang, ia tersenyum dan mengangguk.


"Iya aku mengerti." Jawabnya pasrah. Mereka kembali memasuki pagar kecil cafe dan duduk di sebelah Justin yang tengah fokus seperti memotret sesuatu, dengannya pria kaku disebelahnya tengah memandang Justin dengan wajah tanpa ekspresi sambil sesekali meminum kopinya. Benar-benar seperti julukan, Si kaku dan si petakilan.


-


Pria didalam mobil sana tersenyum samar. Mengawasi gerak-gerik Alicia yang tengah berbincang dengan anak buah kecilnya.


"Jadi yang sedari kemarin mengikuti kita adalah suruhan wanit itu?" Pria itu menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukan. Tapi pria yang berjalan mendekati wanita itu. Ia orang kaya, kita bisa mendapatkan banyak uang dari pria itu." Jawabnya licik. Otaknya mulai merencanakan sesuatu yang menyenangkan.


"Kenapa kita seperti orang bodoh seperti ini? Kita culik saja pria kemarin, mereka pasti akan menebusnya." Lagi-lagi suara pria lain seperti mengompori. Pria itu hanya tersenyum miring.


"Aku sudah merasakan akan ada keindahan dari ini semua. Wanita itu." Kedua orang itu menatap arah yang ditunjuk ketuanya.


"Siapa wanita itu?" Tanya kedua orang itu bodoh.


"Kalian ingat anak gelandangan tua itu? Yang sepuluh tahun lalu berhasil ditebus ibunya?" Kedua terdiam. Ada banyak yang sudah mereka culik dan berhasil ditebus oleh ibunya.


"Apakah si gelandangan tua Marten?" Tanya salah satu pria itu.


"Ya. Ternyata ia berhasil tumbuh menjadi wanita cantik."


"Kau akan menculiknya kembali?" Tanya keduanya bersamaan, ia mengetahui arah pikiran ketuanya.


"Kita lihat saja nanti. Biarkan dulu mereka bersenang-senang. Sepertinya kekasih Alicia akan merencanakan balas dendam untuk ku, hingga ia repot-repot mengirim orang untuk memata-matai ku." Gumam pria itu yang tak lain adalah John. Wajah pria itu tak berubah, masih mempesona dan dapat menjerat wanita mana saja. Diumurnya yang sudah menginjak 40 tahun ia masih menginginkan banyak uang. Dirinya menjadi haus uang dan tak merasa cukup dengan apa yang ia punya. Ia pun masih tak ingin hanya bersantai dirumah megahnya, ia masih ingin berakhir mengumpulkan uang-uang setiap harinya. Dan kali jni, ia akan mendapatkan ikan besar.


°°


yang ini ya guys😂



Jangan lupa like🖤