
Richard beberapa kali melirik Alicia yang tengah sibuk dengan ponselnya, ia sedikit iri tak diperhatikan wanita itu.
"Hai!" Pekik Alicia saat ponselnya diambil tiba-tiba oleh Richard, pria itu dengan kerutan di wajahnya melihat-lihat ponsel Alicia. Dari mulai layar, sisi ponsel hingga belakang ponsel.
"Apa yang menarik disini?" Tanya Richard, sedikit sindiran sepertinya akan membuat Alicia mengerti bahwa dirinya juga ada disampingnya, bukan hanya ponsel ini saja.
"Aku sedang menghubungi teman ku. Ia menghilang begitu saja, aku sedikit khawatir." Alicia mengambil kembali ponsel miliknya, tak memperdulikan wajah kebingungan Richard. Sejak kapan wanita ini memiliki teman? Ah Richard tau.
"Bella menghilang?" Alicia menggelengkan kepalanya.
"Bukan Bella."
"Memang kau memiliki teman selain Bella?" Tanya Richard begitu jujur, membuat Alicia sedikit meringis, apa semenyedihkan itu hidupnya? Hingga ia tak memiliki teman.
"Jessy, teman baru ku. Sudah beberapa hari ini ia tidak bisa dihubungi, rumahnya pun gelap seperti tak ada orang." Richard berdecak pelan, jangan bilang ini semua kelakuan bocah itu. Mengingat ayahnya saja sebejad itu, pasti anaknya tak kalah jauh dari kelakuan ayahnya. Hanya hitungan jam bocah itu mendapatkan cerita masalalu Alicia, Richard menjadi takut Justin melakukan sesuatu yang lebih parah.
"Apa mungkin dia dibunuh?" Gumam Richard, Alicia yang mendengar itu langsung menatap tajam kearah Richard.
"Tidak. Jangan berfikiran seram seperti itu." Protes Alicia.
°•°•°•°
Sementara disana, seseorang yang sedang dicemaskan oleh banyak orang tengah asik berjemur, kacamata hitam itu menghalangi silaunya terik matahari. Suara ombak yang tenang ditelinga nya sedikit membuat hatinya tenang. Orang-orang berlalu lalang dengan berbagai ekspresi dan beberapa percakapan yang bisa Jessy dengar.
"Tenang Jessy, jangan menganggap ini masalah besar. Umur mu 25tahun, dan memang sudah seharusnya kau melepaskan segel itu." Ucap Jessy meyakinkan dirinya sendiri, kata-kata itu bagaikan mantra yang harus ia ucapkan saat pikirannya mulai kacau.
Jessy menggelengkan kepalanya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia ingin berteriak dan meninju wajah tampan itu.
"Aku sudah menjaganya selama ini. Bagaimana bisa seseorang yang baru aku kenal merampasnya begitu saja?! Akhhh sialan." Kini Jessy sudah sepenuhnya gila, ya, itu anggapan orang-orang yang melihatnya. Ia berbicara sendiri, emosi lalu menenangkan dirinya sendiri kembali.
"Minum lah." Jessy membuka matanya, ia duduk dan mengambil botol minum itu, meneguknya sampai isi air itu setengah lagi.
"Apa sangat berat menjadi seorang dokter kejiwaan? Aku tak tega melihat adik ku sendiri tertular gila seperti ini."
Jessy melirik pria dihadapannya. Ia mengembalikan botol minum itu.
"Aku tidak praktek di rumah sakit jiwa. Aku.." Jessy menggantung ucapannya.
"Cerita lah, sudah 4 hari kau di Meksiko." Jessy menatap ragu kakaknya.
"Apa salah jika tertarik dengan pasien sendiri?" Tanya Jessy tiba-tiba. Robert seketika tertawa.
"Kau menyukai orang gila?" Tanyanya tanpa menghentikan tawa. Membuat Jessy berdecak kesal.
"Aku menangani orang-orang yang tertekan bukan gila!" Protes Jessy.
"Sudahlah, aku tak ingin lagi bercerita."
"Jangan cepat marah seperti itu. Ayo lanjutkan cerita mu." Jessy diam tak memperdulikan pria itu, ia kembali berbaring dibawah kehangatan matahari.
"Kau sudah menemukan pria yang sesuai kau inginkan?" Jessy tak bisa terus dia. Ia mengangguk.
"Wajah tampan? Dan berkarisma?"
"Tidak, apanya yang berkarisma! Dia petakilan, dia kurang ajar, tapi dia benar-benar tampan." Jawab Jessy tak sadar. Robert mendekatkan dirinya pada Jessy, memegang sebelah bahu Jessy dengan kencang.
"Apa yang sudah ia lakukan pada mu? Apa kau dileceh kan? Aku akan menghabisi nya." Ucap Robert murka.
Jessy menggelengkan kepalanya, ia menepis tangan Robert.
"Dia menghilang begitu saja, dia hanya memanfaatkan ku." Jawab Jessy. Ia tak mungkin jujur dengan apa yang sudah Justin lakukan, namun saat melihat cctv Justin memotret kertas dilacinya cukup membuatnya curiga. Apa yang sebenarnya Justin rencanakan dari awal?.
"Dia hanya mengatakan seorang penulis. Tapi aku tak menemukan satu novel pun karya Justin Alfranz."
"Apa? Itu artinya dia hanya pengangguran Jess, tidak pantas untuk mu. Ayah dan Ibu kita seorang pengacara yang terkenal, kau lebih pantas dengan seorang dokter, pengacara, atau pengusaha." Jessy berdiri, sudah cukup acara berjemurnya, dan telinganya pun sudah cukup sakit mendengar ucapan Robert. Ia salah memilih teman bercerita.
°•°•°•°
Alicia dan Richard masuk kedalam sebuah kamar mewah disebuah hotel New York. Pemandangan yang disuguhkan pun begitu memanjakan mata.
Alicia membalikan badannya, menatap pria tampan yang berhasil membuatnya jatuh cinta itu tengah duduk memperhatikan sesuatu yang entah apa ditangannya itu.
"Apa benar tidak apa-apa kita sekamar?" Tanya Alicia ragu. Ia tak enak saat mengetahui ada beberapa orang yang ikut dalam perjalanan bisnis ini. Apa yang akan mereka pikirkan saat mengetahui sekertaris satu kamar dengan CEO nya sendiri?.
"Apa yang perlu dicemaskan Alicia. Mereka tak akan mengecek atau menanyakan apa yang kita lakukan." Jawab Richard santai. Ia memperhatikan kedua benda kecil ditangannya. Ucapan Justin kembali mengiang di telinganya.
'Ini ada GPS tracker, kalian bisa menempelkan ini dibagian tubuh mana saja. Dan ini adalah monitornya, aku menyimpan ini didalam kamarku. Walaupun tidak akan ada yang terjadi pada kita nantinya, kita harus tetap memakai ini, untuk berjaga-jaga.'
'Satu untuk ku, Harry, kau dan Alicia. Jangan sampai wanita itu tau ada alat seperti ini. Aku sudah mengirimkan email tentang kebusukan John pada temanku, police di New York, kita akan diberi kabar lagi nanti Rabu. Jadi ada 2 hari untuk kita fokus pada proyek.'
Richard melirik Alicia yang mulai menggulung rambutnya, membuat Richard tersenyum, ia tau harus menyimpan benda ini dimana.
"Satu jam lagi kita akan rapat, aku akan mengganti baju dulu."
"Apa tidak bisa dua jam lagi?" Tanya Richard sambil berdiri mendekati Alicia.
"Tidak. Kita terlalu lama dimakan siang tadi." Alicia sedikit bingung saat Richard berdiri dibelakangnya, seakan mencoba melepaskan ikatan rambutnya.
"Aku ingin belajar mengikat rambut mu." Alicia menengok, ia tersenyum kecil dengan raut wajah sedikit bingung.
"Untuk apa?"
"Bukan untuk apa-apa." Richard melihat rambut Alicia terurai hadapannya, lalu menyiris lembut dengan jarinya dan mengumpulkan semua rambut Alicia di tangan kirinya.
"Rambut mu halus." Richard mulai menempelkan benda itu di bawah rambut Alicia, terhalang sedikit oleh rambut pendek halus dileher belakang wanita itu. Mencoba memastikan letak itu tak dicurigai oleh Alicia. Selain kecil benda itu tipis seperti solatip.
"Bagaimana cara mengikatnya lagi?" Tanya Richard bingung. Ia kesulitan mengikat rambut Alicia kembali.
"Sini biar aku saja." Alicia menggulung rambutnya dan mengikat asal. Richard melihat kembali benda itu, tidak tersembunyi dengan sempurna namun yang terpenting Alicia tak melihatnya.
"Jangan pernah menggulung rambut mu diluar sana. Hanya boleh didepan ku saja." Alicia hanya menganggukan kepalanya, memang semenjak pernyataan cinta pria itu dikapal, Richard jadi tambah mengaturnya dan lebih cerewet.
"Aku akan mengganti baju dulu." Ucap Alicia, meninggalkan Richard yang masih diam ditempatnya. Richard jadi sedikit ragu membawa Alicia ke New York. Ia takut terjadi apa-apa pada mereka saat tau Harry merasa diikuti.
"Aku hanya berlebihan." Gumam Richard pelan, ia tidak bisa berhenti sampai disini, ia harus melihat secara langsung John ditangkap atas tindakan ilegal nya.
°°°
Guys, karena banyak yang nanyain kelanjutan Jessy dan Justin, aku bikin novel baru aja ya tentang mereka. Karena gak mungkin aku fokusin Jessy dan Justin lagi dicerita ini, jadi nanti malem aku mulai up SHOW ME! cek aja setelah Maghrib di beranda aku ya🙌 untuk cerita ini aku slow update, tapi pasti tamat kok yaa.
Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌
Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta