One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Direstui?



Kini waktu makan malam pun tiba. Alicia berdiri depan sebuah pintu besar yang terbuka dengan lebar. Jantung nya berdegup kencang.


"Tidak usah gugup. Hanya ada mama dan sepupu ku." Richard menaruh tenagannya dibelakang tubuh Alicia, membimbing wanita itu untuk masuk kedalam bersamanya.


Alicia tersenyum kaku pada beberapa pelayan yang menyambutnya.


"Apa riasan ku tidak berlebihan?" Tanya Alicia pelan.


"Tidak. Kau cantik." Bisik Richard pelan. Mereka masuk kedalam ruangan, meja bundar dengan berbagai masakan pun tersedia diatasnya. Entah akan dihabiskan oleh siapa makanan sebanyak ini. Di kursi meja tersebut sudah diduduki oleh 3 orang.


Alicia menajamkan matanya, ia seperti kenal dengan seorang perempuan yang tengah berbincang dengan mama Richard.


"Felly?" Gumam Alicia pelan. Ia panik dalam seketika. Ia takut dituduh mengambil Richard darinya.


"Oh.. Richard sudah datang." Pekik Felly. Semuanya menatap kearah mereka.


"Kenalkan, ini Felly, sepupuku." Ujar Richard, ia bisa menebak kebingungan Alicia yang melihat Felly ada disini.


"Apa?!" Pekik Alicia sedikit terkejut.


"Aku akan menjelaskan nya nanti. Kita duduk terlebih dahulu." Potong Richard dan sedikit mendorong Alicia agar berjalan kearah meja makan. Richard memundurkan kursi untuk Alicia duduki.


"Alicia? Kau cantik." Kata Felly tak berbohong, ia suka dengan penampilan Alicia yang anggun.


"Kenalkan ini tunangan ku." Pria itu tersenyum dan mengangguk sekali sebagai perkenalan yang langsung dibalas senyuman oleh Alicia.


"Apa benar ini Alicia? Oh kau membuat ku terpukau." Puji mama Richard. Seorang pelayan masuk menuangkan air putih kesetiap gelas yang tersedia.


"Terimakasih." Ujar Alicia senang.


"Aku jadi penasaran dengan wanita yang akan dibawa Richard. Apa ia sudah datang?" Tanya mama Richard sangat antusias, ia mengambil gelas yang sudah dituangkan air oleh pelayan tadi.


"Alicia." Kata Richard sedikit keras. Membuat mama nya yang sedang minum terdiam sesaat, menunggu kelanjutan ucapan yang akan Richard katakan.


"Wanita yang akan aku kenalkan adalah Alicia, ia kekasih ku."


"Uhukk." Wanita itu terbatuk, ia tersedak minumannya sendiri. Felly menepuk pelan bahu wanita itu, ia sendiri sedikit terkejut, apalagi ibu nya.


"Oh, sepertinya aku butuh udara." Wanita itu berdiri dan berjalan kearah balkon, Felly dengan sigap membuntuti kemana wanita itu pergi.


"Tenang lah. Mama hanya terkejut saja." Ucap Richard.


Felly mengelus bahu mama Richard dengan pelan. Wanita itu kini sedang menghirup udara.


"Aku rasa kau harus menerima nya."


"Bagaimana aku harus menerima nya! Anak ku yang sempurna itu hanya mendapatkan seorang sekertaris untuk pasangan hidupnya?"


"Sttt, tidak boleh berbicara seperti itu. Bukannya kau mengatakan Richard sudah sempurna? Ia sudah memiliki semuanya. Yang ia butuhkan hanyalah seorang wanita yang bisa mendampingi nya, seorang wanita cantik dan pintar yang bisa memberikan nya keturunan sempurna. Apa kau mau menunggu Richard sampai 40 tahun dan memutuskan tidak bersama wanita manapun." Wanita itu terdiam. Semua ucapan Felly ada benarnya, apalagi yang diharapkan nya untuk wanita Richard. Ia hanya membutuhkan wajah yang cantik, pintar dan perilaku sopan.


"Lagi pula mereka baru sepasang kekasih, tidak ada yang tau kedepannya seperti apa, yang penting untuk saat ini adalah Richard memiliki pasangan."


"Huh. Baik lah, terimakasih sudah menenangkan ku. Sepertinya aku akan benar-benar menerimanya." Mama Richard sedikit tersenyum dan berusaha setenang mungkin, pikirannya sudah sedikit terbuka.


-


Alicia memperhatikan kedua pria dihadapannya sedang berbincang. Ia sudah pasrah dan tak berharap lebih, lagi pula ia hanya kekasih kontrak Richard, apa yang harus ia cemaskan? Namun hatinya bertolak belakang dengan ucapannya sendiri, ia cemas dan kecewa, hatinya sudah ia buka lebar untuk Richard, namun kenyataan harus membuat nya menjadi sadar diri.


Tepukan ringan dibahunya menyadarkan Alicia dari lamunan.


"Alicia. Maaf ya, aku hanya terkejut mendengar kabar ini. Aku merestui kalian." Ucapan itu seperti mimpi bagi Alicia. Ia tak bisa menahan senyumnya.


"Terimakasih." Ujar Alicia dan Richard bersamaan.


Richard sedikit tersenyum, ia tau mama nya berat menerima ini. Namun bagi Richard sebuah kenyamanan lah yang ia butuhkan. Richard senang melihat Alicia yang tersenyum, ia pun senang wanita itu sudah menunjukkan perasaannya pada Richard. Namun Richard belum bisa menegaskan hatinya, masih ada yang harus di cari tahu. Jika Alicia berusaha menyembuhkan trauma nya, Richard juga berusaha membalaskan dendam pada seseorang yang membuat Alicia trauma.


Richard mengepalkan tangannya. Sepertinya hanya berita kematian 'orang itu' saja yang pantas untuk menebus kesalahannya pada Alicia!.


-


Thank you,


DHEA


IG: Dheanvta