
"Kau tidak akan menjemput ibu mu?" Richard masuk kedalam ruangan Alicia, wanita itu masih mengetik sambil melirik catatan yang ia tulis di sebuah buku.
Alicia mengangkat wajahnya, lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 3 sore.
"Astaga aku lupa." Pekik Alicia, ia menatap laptop nya dengan ragu, sebentar lagi selesai.
"Sudah lah. Ini masih bisa kau kerjakan besok." Richard menutup laptop Alicia dengan kesal.
"Baik lah. Aku bereskan dulu barang-barang ku." Ujar Alicia pada akhirnya. Ia harus mendahulukan mama nya yang sudah menunggu Alicia sedari pagi.
"Sudah." Pekik Alicia, ia berjalan mendekati Richard yang semakin harinya selalu bertambah tampan.
Keduanya kini berjalan menuju lift, saling menatap pantulan diri mereka masing-masing, tanpa perbincangan sedikit pun.
"Kita tidak mungkin pisah mobil kan?" Tanya Richard saat mekera keluar dari lift, Alicia akan berbelok ke mobilnya.
"Aku kira kau tak mau semobil dengan ku." Gumam Alicia, ia kembali mengikuti langkah Richard.
"Sebenarnya ada apa dengan mu?" Tanya Richard bingung dengan sikap Alicia yang dari pagi menurut nya aneh.
"Kau ingin mengakhiri kontrak kita?" Tanya Alicia berusaha setenang mungkin. Richard yang mendengar itu langsung berbalik, membuat Alicia membentur dada bidangnya.
"Apa maksudmu?" Kini Alicia mendengar suara berat Richard, ia sudah membuat pria itu marah.
"Kau.. kau menjauhi ku." Gugup Alicia. Pundaknya bergetar menahan sesak yang selama ini.
Richard menghela nafasnya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk mencari tahu masalalu wanita ini, membalaskan dendam yang tidak pernah Richard maafkan atas trauma Alicia. Ditambah ia harus mulai menghindari kontak langsung dengan wanita ini, ia tidak bisa mengontrol dirinya jika selalu berdekatan dengan Alicia.
"Sudah jangan berpikiran yang buruk. Aku tidak akan mengakhiri kontrak kita." Richard mengelus punggung Alicia dan memberikan pelukan ringan untuknya.
"Aku tidak mau jauh dari mu." Kata-kata itu bagaikan semua mimpi bagi Richard, namun ia belum bisa menjanjikan apa-apa untuk wanita ini.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Menjemput ibu mu." Hanya kata-kata itu yang mampu Richard ucapkan. Alicia mengangkat wajahnya saat pelukan Richard sudah lepas, hatinya sudah sedikit tenang.
°°°
"Terimakasih sudah mengantarkan aku dan mama ku pulang. Kau mau mampir? aku akan membuatkan minum untuk mu." Ujar Alicia. Ia melepaskan seat belt.
"Iya. Mampirlah sebentar, mama sangat berterimakasih kepada mu." Kata Sophia lembut. Ia tak menyangka anaknya bisa mendapatkan seorang bos yang begitu baik pada keluarga karyawan nya.
"Baik lah jika kalian memaksa." Jawab Richard dengan nada bersahabat. Alicia keluar dari mobil dan mengambil 2 tas pakaian berukuran sedang.
"Terimakasih." Lirih Alicia pelan. Richard membalas senyuman nya dan mengangguk pelan.
Sesampainya di dalam apartemen, Richard duduk di sofa putih, Alicia memberinya segelas air putih yang langsung tandas dihabiskan oleh Richard.
"Dimana ibu mu?" Tanya Richard.
"Dikamar."
"Aku seperti nya harus pulang sekarang. Apa kau bisa memanggilkan ibu mu?" Alicia menganggukan kepalanya dan berjalan menuju kamar Sophia.
"Ma. Richard akan pulang." Ujar Alicia pelan, mama nya yang sedang merapikan baju langsung menengok dan berjalan pelan mendekati Alicia.
"Kenapa cepat sekali?"
"Mungkin akan bertemu seseorang." Jawab Alicia. Sebenarnya walaupun ia senang melihat Richard berada didekatnya selama 3 jam ini, namun hatinya masih begitu ragu memikirkan hari esok, hari dimana Richard akan membawa wanita lain yang akan dikenalkan pada ibunya.
"Aku lupa dia orang sibuk." Sahut Sophia. Ia sedikit bersemangat bertemu dengan Richard, ingin berterimakasih lagi pada pria baik hati itu.
Alicia mengekori langkah Sophia. Terlihat Richard langsung berdiri dari duduknya saat Sophia keluar dari dalam kamar.
"Kau sudah akan pulang nak?" Tanya Sophia dengan nada lembut. Richard tersenyum dan mengangguk.
"Aku akan pulang. Ini ada hadiah kecil untuk mu. Sehat selalu." Ujar Richard ramah. Sophia menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah terlalu banyak membantu Alicia. Tidak sepantasnya aku menerima hadiah mu."
"Terimalah, ini hanya hadiah kecil." Melihat senyum tulus yang Richard tampilkan membuat hati Sophia menghangat.
"Terimakasih. Oh ini sungguh anting yang cantik." Komentar Sophia senang. Alicia mengerutkan keningnya, ia tak bisa menahan kebingungan nya.
"Jadi anting itu untuk mama?" Tanya Alicia tak sadar.
"Ya. Memang untuk siapa lagi?" Richard tak kalah bingung nya dengan sikap Alicia.
"Aku kira kau akan memberikannya pada wanita lain."
Richard menatap Alicia tajam, lalu berdecak pelan.
"Apa yang kau katakan."