One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Daddy!



Richard menatap Justin heran, untuk apa ia membawa seorang pria tua masuk?. Pria itu tampak menundukkan wajahnya, seakan tak berani memperlihatkan wajahnya.


"Siapa yang kau bawa?" Tanya Richard tegas. Justin melangkah dengan cepat, ia berbisik sambil menunjukkan sebuah foto.


"Kau ingat orang difoto ini?" Bisik Justin. Richard menatap foto itu dengan teliti, sedikit terkejut dengan pikirannya sendiri.


"Marten?" Tanya Richard pelan. Justin mengangguk dan sedikit menjauhi Richard, kembali mendekati pria tua itu.


Sedangkan Alicia tampak bingung, ia masih senang disudah dilamar oleh Richard.


"Siapa?" Tanya Alicia pelan pada Richard.


"Mungkin kau akan terkejut, tapi dia adalah ayah mu." Bagai ada petir disiang bolong, Alicia menggapai foto yang berikan Richard, ia menatap foto dan orang yang menunduk itu bergantian.


"Daddy?" Gugup Alicia. Pria itu mulai mengangkat wajahnya, air mata sudah bergenang dimata.


"Alicia.. aku hanya merindukan mu dan ingin melihat mu saja, aku.. aku tidak akan menggangu mu." Alicia menutup mulutnya, pria itu benar-benar ayahnya yang sudah 10 tahun tak ia temui. Wajah itu tampak tak terurus dengan rambut dan jambang yang sudah panjang. Pakaiannya pun kebesaran dan kotor. Mengapa ayahnya menjadi seperti ini?.


"Daddy!" Alicia bangkit dari tidur dengan susah payah, namun dengan sigap Richard membantunya.


"Aku hanya memperbolehkan kau duduk." Bisik Richard, namun Alicia yang memusingkan ucapan itu, ia terlalu rindu pada ayahnya, sudah beberapa kali ia menanyakan tentang ayahnya namun Sophia selalu marah dan ia pun mengerti kenapa ibunya sangat marah. Semua ini bermula karena Marten yang kecanduan bermain judi.


Richard seperti memberikan kode pada Justin, dan dengan sekali anggukan, Justin berjalan pelan mendekatkan kedua manusia yang berhubungan darah itu. Seorang ayah dan anak. Justin melihat wajah tampan di balik wajah tak terawat itu, ia sekarang sudah yakin jika ini benar-benar Marten, Marten yang berubah 180° dari foto.


"Apa kabar Alicia? Aku.. aku tak menyangka bisa melihatmu lagi." Kini air mata Marten tak terbendung, ia menangis haru, mengelap air matanya dengan susah payah dengan kedua tangan yang di ikat. Anaknya begitu cantik dan tumbuh dewasa.


"Daddy aku merindukan mu." Alicia tak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Marten. Namun, pria itu sedikit mundur dan menjauh.


"Aku.. aku kotor Alicia, aku ini gelandangan, aku malu dipeluk oleh mu. Kau tidak jijik pada ku?" Ucapnya panik, ia takut mengotori baju Alicia, ia pun takut Alicia merasa bau dan jijik pada tubuh Marten.


Alicia menggelengkan kepalanya.


Marten semakin menangis haru saat Alicia memeluknya, ia ingin membalas pelukan Alicia, namun apa daya tangan yang diikat borgol. Tak berapa lama Alicia melepaskan pelukannya, air mata Alicia pun sudah bergenang dimata indahnya.


"Kenapa kau bisa ditangkap Dad?" Air mata itu mulai jatuh, ia tak tega melihat ayahnya sendiri. Kenapa jadi seperti ini?.


"Aku tak punya apa pun untuk bertahan hidup Alicia.. aku tak punya pilihan lain untuk tidak mengikuti John."


Hanya perbincangan singkat yang mereka lakukan, sebelum pintu kamar diketuk. Ternyata waktu Marten sudah habis.


"Jaga dirimu baik-baik Alicia, maaf.. maaf aku tidak bisa menolong mu.. dua kejadian dan satupun aku tidak bisa menolong mu." Ucapnya perih. Ia benar-benar tidak berguna.


"Tidak Dad. Jangan berbicara seperti itu. Aku akan membawa Mama untuk menjenguk mu nanti."


"Tidak. Kalian tidak usah mengingat aku lagi, aku hanya ingin melihat mu saja, bahagia selalu Alicia." Air mata Alicia semakin berlinang saat seorang polisi mengambil Marten keluar dari kamar.


Richard memeluk Alicia, menenangkan Alicia di atas dadanya.


"Sudah, aku berjanji, kau akan melihatnya lagi di hari pernikahan kita." Bujuk Richard.


"Apa tidak bisa Daddy dilepaskan?" Richard melirik Justin, pria itu menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Maaf Alicia. Masalahnya ini kasus narkotika, dan Marten yang menjadi perantara transaksi itu, mungkin untuk meringankan hukumannya aku bisa membantu." Alicia mengangguk dalam pelukan Richard.


"Terimakasih sudah menemukan ku dengan Daddy." Isak Alicia. Justin sebenarnya sangat iba, tapi ia tak bisa melakukan apapun.


"Ah, ini ponsel mu kan? Aku mendapatkan nya di jas Mafia itu." Richard menerima ponsel itu, dan Justin pun pamit keluar kamar. Meninggalkan Alicia dan Richard berdua.


"Sore ini kita pulang. Dan besok aku akan mulai menyiapkan pernikahan kita." Ucap Richard, berusaha menghibur Alicia agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.