One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Kejujuran yang berharga



Richard mengepalkan tangannya, bukankah tadi pagi bocah itu mengatakan akan mendapatkan semuanya saat ini? Tapi apa yang Richard dengar sekarang, bocah itu gagal dalam misinya.


Yang Richard inginkan hanyalah mengetahui cerita masalalu Alicia, dan saat di New York nanti Richard sudah bisa memulai balas dendam.


Richard menggapai ponselnya dan mencari sebuah nomor yang sudah lama ini sepertinya tak menghubunginya kembali.


"Hallo Rich. Aku sedang bersama kekasih ku, nanti aku akan menghubungi mu lagi."


"Sebentar. Kau punya kekasih?" Tanya Richard tak percaya. Ia kira temannya itu tidak akan pernah ada yang mau.


"Ck. Jangan terkejut seperti itu. Kau merendahkan ku. Bagaimana jika malam ini kita bertemu di tempat biasa? Aku akan mengenalkannya kepada mu."


"Baiklah. Aku juga sedang tidak ada acara, aku akan menunggu malam ini disana."


°°°


Alicia merapikan tas nya, ia bersiap akan pulang. Namun suara pintu terbuka mengalihkan perhatian nya.


"Kau pulang?" Tanya Alicia bingung. Richard mengangguk pelan dan duduk di atas sofa dengan wajah lelah. Melihat itu, Alicia langsung melangkah kan kakinya mendekati Richard. Ia duduk disebelah Richard.


"Ada apa?" Tanya Alicia pelan.


Richard menggenggam tangan Alicia lembut, ia sudah lelah dengan rasa penasarannya.


"Ada sesuatu yang membuat pikiran ku kacau."


"Apa itu?"


Richard menatap mata indah Alicia, memastikan apakah wanita ini akan jujur atau tetap menyembunyikan nya.


"Aku ingin mengetahui masalalu mu." Tubuh Alicia menentang. Ia menatap Richard tak percaya.


"Untuk apa? Itu hanya masa laluku."


"Aku hanya ingin tau. Apa salah jika aku ingin mengetahui itu? Ceritakan dengan rinci awal kejadiannya." Alicia menggelengkan kepalanya pelan.


"Kita hanya kekasih kontrak, aku meminjam uang kepada mu, dan kau membutuhkan aku untuk melayani mu. Aku rasa terlalu berlebihan jika kau sampai ingin tahu masalalu ku." Richard diam. Sorotan mata kecewa ia berikan pada wanita dihadapannya.


"Jadi itu yang ada dipikiran mu? Kau tidak melihat ketulusan ku?" Gumam Richard. Ia seperti di jatuhkan kedalam jurang oleh Alicia.


Alicia berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Bukan itu yang aku maksud. Bisa kah kita tidak membahas masalalu ku?"


Richard terbatuk kecil, membersihkan tenggorokan nya yang seakan penuh dengan kata umpatan. Ia merapikan jasnya dan bersiap hendak pergi.


"Kalau begitu kita jalankan peran kita masing-masing, aku tunggu kau malam ini di apartemen ku. Kau harus bisa melayani ku dengan baik, ingat, itu adalah tugas mu." Ucap Richard dengan nada arogannya.


Alicia menggapai tangan Richard yang hendak pergi.


"Aku akan menceritakan nya nanti." Richard menarik nafasnya pelan.


"Kenapa harus nanti? Bukankah sama saja jika hari ini?"


"Kau tidak mengerti." Ujar Alicia frustasi, ia bingung harus menjelaskannya bagaimana, itu cerita yang menjijikan, bagaimana bisa pria itu menyuruhnya harus menceritakan itu.


"Ya! Aku tidak mengerti karena kau tidak pernah menjelaskannya. Aku bisa mencari tahunya sendiri." Alicia menutup matanya kencang, ia berdiri dan menatap Richard dengan tajam.


"Demi tuhan, Richard! untuk apa kau mencari tahunya? Disaat aku ingin melupakannya kau malah ingin mengoreknya kembali? Apa yang kau harapkan dari masalalu yang menjijikan itu?!" Mata Alicia mulai berkaca, dan itu adalah kelemahan Richard, ia tak bisa melihat wanita itu menjadi rapuh.


"Apa yang menjijikan Alicia, apa? Apa yang sudah ia lakukan pada mu? Bukan kah aku pernah berjanji akan membunuh bayangan itu? Aku hanya ingin kau lepas dari bayangan itu, hanya aku yang boleh ada dibayangan mu." Alicia mengalihkan pandangannya, matanya yang sudah berkaca-kaca sudah tidak bisa ia tahan.


"Sudah cukup. Maaf terlalu memaksa mu, aku hanya tidak ingin kau tersiksa sendiri dengan masalalu mu." Gumam Richard pelan. Dagunya ia simpan dipuncak kepala Alicia, memperdalam pelukannya.


"John Donzello." Ujar Alicia pelan namun Richard masih bisa menangkap nama itu.


"Apa?" Richard melonggarkan pelukannya, menatap wajah yang tengah menunduk itu.


"Dia bayangan itu." ucapnya pelan.


°°°


Richard meneguk kembali gelas kecil dihadapannya. Hatinya begitu hancur dan ingin cepat menangkap pria bejad itu. Setelah mendapatkan nama itu, Richard langsung menyuruh Justin mencaritahu semua data tentang pria itu. Ia tidak ingin mendengar kata gagal untuk kali ini.


"Hai. Kau sudah minum duluan?" Richard menatap tajam pada David yang menepuk bahu nya terlalu kencang. Dibelakangnya terlihat seorang wanita cantik tengah tersenyum menggoda pada Richard.


"Kenalkan, Barbara." Ujar David. Wanita itu menjulurkan tangannya, dan Richard dengan ragu membalas uluran tangan itu.


"Barbara."


"Richard."


David melepaskan kedua tangan itu. Ia takut kekasihnya menjadi terpana oleh Richard.


"Kau ingin minum apa sayang. Pesan lah." Setelah wanita itu pergi, David duduk disebelah Richard.


"Ada apa? Kau seperti sedang ada masalah."


"Jika aku membunuh seseorang kau masih akan menganggap ku teman?" David merebut gelas yang ada ditangan Richard dan meneguknya sampai tandas.


"Aku akan melaporkan mu." Jawab David cepat. Rasa panas menjalar di tenggorokan nya.


"Kau begitu jujur." Gumam Richard.


"Kau ingin membunuh seseorang?" Bisik David. Ia takut ada mendengar pembicaraan mereka yang sensitif.


"Ya. Aku akan membunuh seseorang di game mobile ku."


"Sialan! Sejak kapan kau senang game. Kau berhasil membuatku takut, aku ke toilet dulu." Richard menggulum senyumnya. Ia pun tidak akan semenyeramkan itu, mama tidak mendidiknya seperti itu. Mungkin jika ia meringkus pria bejad itu kepihak berwenang akan lebih baik, biar mereka yang menindak lanjutinya.


"Hai." Barbara duduk disebelahnya sambil meletakan gelas beer diatas meja.


"David sedang ke toilet." Ujar Richard sebelum dirinya ditanya.


"Aku tidak menanyakannya. Apakah kau sendiri dari tadi?" Tanya Barbara, kini wanita itu mendekatkan diri apa Richard.


"Ya." Jawab Richard dingin.


"Apa tidak ada wanita yang menemani mu?" Kini tangan wanita itu mulai berani menelusuri jas Richard, namun saat tangan itu mulai berani masuk menyentuh kemejanya, Richard menggenggam tangan Barbara.


Barbara tersenyum saat tangannya disentuh Richard, pria tampan yang baru ia liat sudah bisa menarik perhatiannya. Hatinya makin bersorak saat senyuman miring menghiasi wajah tampan itu.


"Maaf, aku tidak suka tubuh dan jas mahal ku disentuh oleh sembarang orang. Jadi jauhkan lah tangan kotor mu ini dari tubuh ku." Ucapan itu santai namun tegas. Membuat harga diri siapa pun akan merasa terhina mendengarnya.


Wajah Barbara merah padam, ia tak menyangka dipermalukan seperti ini. Dengan angkuhnya Richard berdiri dan merapikan jasnya.


"Sampaikan pada David. Aku pergi. Tidak ada yang menarik disini."


°°°


Jangan lupa like, follow dan hadiah 🐣