
Felly masuk kedalam ruangannya. Ia menghempaskan tubuhnya dengan keras diatas kursi.
"Permisi miss. Ini ada beberapa dokumen.."
"Simpan saja langsung." Ujar Felly malas.
"Baik Miss." Felly menatap sekilas bawahannya yang hendak pergi itu.
"Tiffany. Sebentar." Wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Felly.
"Apa ada yang bisa aku bantu Miss?" Tanyanya sopan.
"Apa aku pernah memberikan mu sesuatu? Kau sudah kerja bersama ku 1 tahun lebih." Wanita itu tampak berfikir dan tersenyum garing menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Maaf miss. Kau belum pernah memberikan apapun." Jawabnya tak enak. Felly menghela nafasnya dan mengibaskan tangan.
"Keluar lah." Dengan raut wajah yang bingung Tiffany keluar dari ruangan Felly. Ia sedikit bingung dengan atasnya hari ini.
"Aku sendiri tidak pernah ada pikiran untuk memberikan barang kecil pada sekertaris ku." Gumamnya pelan. Ia menyimpan tangannya diatas meja.
"Jadi gosip itu ternyata benar." Felly sudah beberapa kali mendengar gosip miring yang menghentikannya dengan Richard, awalnya ia tak memperdulikan, namun pagi tadi ia melihat langsung mobil yang dikendarai Alicia, mobil yang tak mungkin wanita itu beli.
"Aku tak menyangka wanita sepolos itu bisa memoroti Richard."
°°°
Alicia masuk kedalam ruangan Richard dengan map ditangannya, seperti biasa ia akan memberitahu jadwal pria itu hari ini. Setelah dipikir-pikir, akhir-akhir ini Alicia seperti sekertaris yang merangkap menjadi Asisten Pribadi pria itu, mulai dari membantu pekerjaannya, bahkan keperluan pribadinya, makan siangnya, dan lain sebagainya.
"Ini jadwal mu hari ini."
"Terimakasih Alicia."
"Ah, ya. Nanti sore teman ku akan kemari. Kau pulanglah terlebih dahulu."
"Apa benar tidak apa-apa jika aku duluan?" Richard mengangguk yakin. Ia akan berdiskusi dengan Justin dan memecahkan masalah ini.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan melanjutkan pekerjaan ku dulu."
"Alicia." Panggil Richard. Alicia menghentikan langkahnya dan menengok kearah Richard.
"Minggu depan aku akan memeriksa proyek di New York, apa tidak masalah kau disini sendirian? Aku akan memilih siapa yang bertanggung jawab menggantikan ku disini, kabari apa pun yang menurut mu janggal atau merasa tidak beres."
"Apa? Untuk berapa hari?" Tanya Alicia. Ini terlalu mendadak dan Richard tidak pernah mengatakan apapun sebelumnya.
"Minggu seminggu atau lebih." Jawab Richard santai. Melihat raut wajahnya Alicia yang sedih membuat Richard sedikit gemas dengan wanita itu, ia ingin menyentuh wajah cantik yang menggemaskan itu.
"Kalau kau ingin ikut juga tak masalah."
Raut wajah Alicia berubah, seperti mendapat kata-kata yang sudah ia tunggu dari tadi. Namun raut wajah murung kembali terlihat diwajah nya.
"Aku tidak bisa meninggalkan mama selama itu." Kata Alicia yang sukses membuat Richard tersenyum miring.
"Jangan khawatir. Jika kau mau ikut, aku akan menyewa seseorang untuk merawat ibu mu. Aku akan mencarikan seseorang yang bisa akrab dengan ibu mu." Alicia mengangguk senang. Baginya lebih baik mengikuti Richard kemana pun dari pada harus bekerja dengan orang lain lagi. Tak mudah bagi Alicia untuk dekat lagi dengan seseorang, belum lagi jika yang menggantinya nanti adalah Felly, entahlah mungkin wanita itu kecewa, namun yang Alicia rasakan ada rasa tidak suka dihari Felly pada dirinya.
"Aku mau." Richard mengangguk tanpa melepaskan senyumnya. Ia bisa berduaan dengan Alicia disana, menjaganya dan tak membiarkan siapapun menyakitinya.
"Baik. Aku akan langsung menyiapkannya."
°°°
Justin menceritakan semua yang ia rasakan saat itu, memang rasa kecewa dan sakit Justin rasakan saat ibunya memilih pergi meninggalkan nya karena mengetahui Alex tidur dengan wanita lagi. Ah, bahkan pria tua Bangka itu masih melakukan hal bejadnya dengan berbagai wanita. Namun Justin saat itu biasa saja, ia tampak tak terlalu mengambil pusing ibunya yang pergi, kedua orangtuanya serumah dengan Justin, namun mereka tak pernah memiliki waktu untuk anaknya sendiri. Justin banyak menghabiskan waktunya dengan para pekerja dirumahnya.
Namun demi meyakinkan Jessy, ia melebih-lebihkan jika dirinya sangat terpukul dan sangat depresi hingga membuat dirinya ingin mengakhiri hidupnya, namun demi apapun, ia tak pernah serapuh itu, ia tidak pernah memiliki depresi apapun, ia hanya memiliki akting yang bagus.
"Baik. Terimakasih sudah menceritakan nya lagi."
Jessy menaruh kertas yang berisikan cerita Justin kedalam laci yang dikunci. Laci yang tak pernah Justin perhatian dari tadi.
"Apa kau akan mengetik kembali cerita ku?" Terlihat senyum Jessy sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku akan menyimpannya saja, hanya untuk mengingatkan ku, kadang aku lupa dengan masalah apa saja yang dilalui pasien ku." Justin memejamkan matanya, ia mengepalkan tangannya. Sia-sia saja usahanya sedari pagi, ia sudah membobo data komputer Jessy, namun wanita itu malah mengatakan hal yang menyakitkan, ia hanya menulis cerita pasien dikertas, dan laci itu yang seharusnya Justin tuju, data komputer Jessy pun sepertinya tidak berguna.
"Oh, aku merasa tak berguna." Justin menaruh kepalanya diatas meja, semangat nya padam seketika.
"Hai. Ada apa?" Tanya Jessy panik, ia memutari meja kerjanya dan melihat wajah Justin yang lelah.
"Apa kau sering seperti ini?".
"Apa?"
"Mendadak murung saat wajah mu ceria seperti tadi?" Justin mengangguk pelan, ia sudah lelah dengan sandiwara ini.
"Sepertinya aku sudah gila." Gumam Justin tak bersemangat. Jessy menggelengkan kepalanya.
"Aku akan mulai memeriksa mu." Justin mengangkat wajahnya, ia tak ingin diperiksa, ia ingin cerita Alicia dan Richard akan segera memberikan uang.
"Aku merasa kosong disini." Justin menarik tangan Jessy kedadanya, ia sudah tak bisa berfikir, dan melakukan hal seperti orang gila mungkin dapat sedikit meringankan beban otaknya. Ia sudah bekerja keras dan mendapatkan hasil yang kosong!.
"Apa yang kau lakukan." Pekik Jessy sambil menarik kembali tangannya. Ia menatap tajam pria dihadapannya, namun wajah seperti anak ayam itu membuat Jessy menelusuri wajah pria itu dari dekat, bulu mata lentik dan alis tebal dengan beberapa bulu halus dirahangnya.
"Bolehkan aku pulang? Aku rasa aku kurang tidur. Kita bisa melanjutkan ini nanti kan? Aku merasa benar-benar lelah."
"Aku bisa melakukan terapi agar kau sedikit rileks." Justin menutup wajahnya, sekarang ia tak bisa berfikir untuk melepaskan diri dari tempat ini.
"Aku ingin pulang dan tidur. Aku.."
"Kau tidak akan bunuh diri kan?" Tanya Jessy hati-hati.
"Tidak cantik. Jika aku bunuh diri, aku tidak akan bisa melihat bidadari seperti dirimu lagi."
°°°
Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌
Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta