
guysss ini rame banget sumpahhh
Mafia,
Siapa yang tak mengenal mereka? para orang-orang tak punya hati dengan segala kekuasaan dan uang yang melimpah. Mereka semua kriminal dengan setelan rapi, mengenakan topeng dengan wajahnya yang rupawan, ajakan sesat dari mulut manis mereka untuk memperangkap mangsanya kedalam lingkaran hitam.
Mereka pandai, namun licik. Memberikan harapan tinggi, namun menjatuhkan mu sampai ke dasar jurang. Bahkan, mereka membantu mu dari kesekaratan, namun akhirnya mereka sendiri yang membunuh mu, hati mereka sudah mati dan dingin.
___
Meksiko, 2022.
Disebuah gedung tua, terdapat ruangan gelap juga pengap, terlihat dua orang diseret dengan kasar tak bermanusiawi, tanpa rasa iba sedikitpun. Beberapa pria bersetelan rapi tersebar di ruangan ini. "Tuan. Aku sudah mendapatkan mereka." Kedua orang tak berdaya itu bagaikan seekor sapi yang hanya tinggal menunggu waktu mereka untuk di sembelih. Mereka kelimpungan sambil menatap ngeri orang-orang yang berdiri tegap itu, wajah mereka mungkin bersih seperti manusia pada umumnya, tidak semenakutkan seperti monster yang berwajah seram dengan tubuh yang dipenuhi otot besar. Bukan!
Mereka semua bersih tanpa tato ditubuh mereka, pakaian rapi dengan jas dan kacamata hitam. Namun ini lah iblis sesungguhnya, mereka para monster yang sesungguhnya. Sedikit saja melakukan kesalahan, senjata api yang selalu mereka bawa akan menghadang mu.
Seorang pria yang tengah duduk santai diatas kursi hitam mulai membalikan kursi yang ia duduki dengan perlahan. Wajah tampan dengan rahang keras mungkin bagaikan dewa dimata semua orang, ya, memang benar dia seorang dewa, dewa iblis di dunia gelap ini.
"Apa kalian sudah bosan hidup?" tanyanya santai. Ia, Axton Matthew, sang ketua Mafia.
"Tidak tuan. Aku mohon ampun. Berikan aku waktu lagi," ujar salah satu diantara dua orang di tengah sana.
"Jack. Berapa hutangnya?" tanya Axton mulai memutar senjata api tersebut dijari telunjuknya. Sorot mata yang tajam menatap benda itu lebih menarik dari pada kedua manusia lemah dihadapannya.
"$50.000 itu sudah termasuk bunga." Axton tersenyum miring. Memandang rendah kedua pria malang itu.
"Apa! Aku hanya berhutang $7.000," protesnya cepat, tepat di akhir ucapannya seseorang menendang bahu kiri pria itu.
"Oh tuan ku, aku tidak memiliki uang sebanyak itu," ucap pria itu sambil merangkak lalu bersujud dihadapan Axton.
Axton berdecak pelan. "Lalu apa gunanya kau sekarang jika tidak bisa melunasi nya? Aku berikan 2 pilihan, kau ingin mati dalam sekejap atau dalam beberapa hari?"
"Tidak tuan. Aku mohon ampuni aku, beri aku waktu beberapa hari lagi."
Tubuh Axton bergetar samar akibat tawa kecilnya, ia menatap beberapa anak buahnya dengan tatapan tak berdosa. "Kalian tidak dengar?" Pria dibawah itu meneguk air liurnya, keringat dingin mulai muncul didahinya saat Axton berkata seperti itu. "Bawalah dia keruang bawah tanah. Rupanya dia lebih memilih mati beberapa hari."
"Tidak tuan! Tidak, beri aku kesempatan untuk melunasinya!" teriak pria itu histeris. Dua orang menarik paksa tangannya dari belakang tanpa manusiawi.
Kini tinggal satu pria malang, matanya sungguh ketakutan dan sudah hilang harapan. Jantungnya seakan ingin lepas saat Axton berdiri dari duduknya. Berjalan mengelilinginya dengan perlahan. "James. Kau sudah 5 tahun berjudi ditempat ku, kau sudah tau berapa banyak hutang mu?" tanya Axton masih dengan suara tenang. Pria malang itu hanya bisa diam dengan raut wajah mengkhawatirkan. "Aku lihat akhir-akhir ini kau selalu kalah," lanjut Axton.
Seluruh tubuh James terasa bergetar hebat, ia mulai memohon pada Axton. "Tuan aku minta maaf—" ucapnya terputus saat Axton menggeleng kepalanya.
"Tidak. Aku tidak ingin ucapan minta maaf mu. Aku ingin uang ku kembali," Axton menyimpan ujung piston dikepala pria itu. "Aku tidak ingin basa-basi lagi. Kau ingin mati langsung atau bersama dengan teman mu tadi?" tanya Axton.
Pria itu menggelengkan kepalanya cepat, ia beringsut hendak mencium sepatu mengkilat Axton, namun dengan cepat Axton menghindar. "Tidak tuan. Aku memiliki anak perempuan," mohon James terdengar pilu. Axton menghentikan langkahnya yang memutar, senyum iblisnya lagi-lagi keluar.
"Kau ingin membayar hutang dengan anak mu? Ini cukup menarik," ujar Axton.
James mengangkat wajahnya, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak. Bukan itu maksud ku tuan. Dia hanya memiliki aku, jika aku mati dia akan sendirian," jelas James.
"Aku tidak tertarik dengan cerita itu. Kalau begitu bawa anak mu sekarang juga. Jika ia wanita yang biasa saja, mungkin akan menjadi mainan kalian," ujar Axton sambil menatap pria-pria berwajah dingin itu, sepertinya sudah lama ia tidak dihangatkan oleh seorang wanita, dan tawaran ini sangatlah pas. Ia harus membunuh mimpi buruk itu bukan?
"Tidak tuan. Tidak! Dia anak yang baik. Lebih baik aku mati," pekik James. Kini pria itu menangis. Ia tidak ingin melibatkan anaknya.