
Alicia menautkan kedua jarinya. Hari ini pun sama seperti kemarin, Richard masih bersikap dingin dan tak menyapanya sama sekali. Pria itu sibuk dengan laptopnya dan entah apa yang dikerjakan pria itu.
"Kau masih mau diam disitu?" Suara Richard menghentikan lamunannya.
Alicia membuka mulutnya hendak berbicara, namun satu kata pun tak keluar dari mulut Alicia. Ia menatap jam dinding menunjukkan pukul 4 sore, satu jam lagi menuju jam pulang.
"Ada apa?" Richard yang melihat tingkah aneh Alicia langsung menutup laptopnya, ia berjalan mendekati Alicia.
"Apa ada yang bisa aku bantu? Kau terlihat sibuk dari kemarin, sedangkan pekerjaan ku sudah selesai." Kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Alicia, bukan pertanyaan mengapa Richard seperti menjauhinya.
"Tidak perlu. Aku akan menyelesaikan ini sendiri, aku harus mempercepat proyek yang ada di New York. Jika kau ingin pulang, pulang lah duluan." Alicia sedikit menghela nafasnya lelah. Masuk keruangan ini saja Alicia harus mencari alasan meminta tanda tangan Richard, dan sekarang pria ini malah memintanya untuk pulang.
"Tapi.."
"Sudah lah Alicia, besok ibu mu pulang, kau harus merapikan pakaian dan barang-barangnya." Alicia menatap Richard. Wajah pria itu terlihat lelah. Ia juga sedikit tersentuh karena Richard masih mengingat ibu nya akan pulang dari rumah sakit.
"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu. Aku akan membereskan ruangan ku." Alicia bangkin dengan wajah murung, sia-sia saja ia masuk keruangan ini.
"Alicia." Sedikit senyuman Alicia muncul, ia berbalik dan menatap Richard yang memanggil nya.
"Ya?" Alicia berharap seperti dulu lagi, ia tidak ingin mimpi indahnya kemarin harus terhenti sampai sini.
"Laporan penjualan tidak akan kau bawa?" Tanya Richard bingung. Wajah Alicia bersemu merah, ia malu. Dengan cepat Alicia berjalan mendekati Richard dan mengambil berkas itu.
"Terimakasih." Ujar Alicia buru-buru, ia menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat, sepertinya.
°°°
"Ini laporannya, sudah ditandatangan." Alicia menyimpan dengan pelan map berwarna merah. Ia duduk dan menyimpan kepalanya diatas meja coffee.
"Ohh, terimakasih Miss. Padahal aku saja yang meminta tanda tangannya." Ujar Taylor manis. Ia mengaduk kembali americano yang sudah di campur gula, mencicipinya sendiri dan menambahkan kembali sampai rasa manis yang ia inginkan.
"Kau mau coffee?" Tawar Taylor. Alicia mengangkat sedikit kepalanya sambil mengangguk, lalu menyimpan kembali kepalanya, dengan pikiran yang beterbangan entah kemana.
"Aku mau 1." Gumam Alicia pelan. Taylor terdiam sesaat, ia melirik kembali Alicia yang tampak tak bersemangat.
"Tidak. Aku sedikit lelah dengan hati ku sendiri." Gumam Alicia kembali. Taylor mengangguk pelan, ia mulai memasukkan 1 sendok coffee kedalam portafilter, lalu menekan pelan dengan tamper. Taylor sedikit bingung, biasanya Alicia hanya tersenyum dan jarang bicara, wanita itu pun jarang sekali bersosialisasi dengan karyawan disini, namun hari ini Alicia malah seperti mendekati nya, membantunya mendapatkan tandatangan CEO yang ia takuti.
"Apa kau sedang patah hati?" Tanya Taylor pelan.
"Entah lah."
"Kau baru putus dengan kekasih mu?" Tanyanya lagi, entahlah, mulutnya ini susah sekali dikontrol untuk tidak berbicara dan bergosip.
"Tidak. Aku tidak punya kekasih." Gumam Alicia pelan, ia hanya punya kekasih kontrak.
"Lalu kenapa hati mu lelah?" Alicia mengangkat wajahnya, membuat Taylor seketika membungkam mulutnya, seperti ia terlalu banyak bicara.
Alicia menatap ragu Taylor. Ia bingung mencari pertanyaan yang tepat untuk ditanyakan.
"Apa kau pernah didekati oleh seorang pria?"
"Ya. Aku memiliki banyak mantan. Mereka semua yang awalnya mendekati ku."
"Bukan itu maksud ku." Alicia menjeda ucapannya.
"Pria itu seperti mengejar mu, membelikan mu ini itu, membuat mu nyaman dan menjadi menaruh hati padanya. Namun tiba-tiba pria itu kembali dingin dan tidak hangat seperti dulu."
"Itu sudah biasa, mereka hanya pria hidung belang yang senang mematahkan hati wanita."
"Tidak. Dia bahkan dingin pada wanita lain."
"Itu tandanya kau terlalu membosankan, atau pria itu sudah mempunyai wanita lain." Ujar Taylor tak sadar, ia mengamati kopi yang mengalir dari mesin itu.
"Apa aku membosankan?" Gumam Alicia, seketika Taylor menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Astaga. Apa yang aku ucapkan!" Pekik Taylor.