
Justin tersenyum menatap layar ponselnya.
"Bagus, sesuai rencana." Gumam Justin. Ia mendekatkan jamnya pada mulut, menekan tombol dan berbisik pelan.
"Keluarkan pistol mu." Justin gemas karena Richard tidak cepat menerima perintahnya, pria itu malah ragu-ragu.
"Cepat. Aku pastikan kau aman." Bisik Justin sekali lagi.
-
Richard mengepalkan tangannya, ia takut membahayakan Alicia jika mengeluarkan pistol itu.
"Cepat. Aku pastikan kau aman." Suara Justin lagi-lagi muncul, dengan mengumpulkan keberanian Richard mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada pria disebelahnya.
"Hei! Apa-apaan ini!" Pekiknya panik. Pria bertubuh besar itu terdiam kaku, ia takut Richard emosi dan menembak kepalanya.
John tertawa, ia menekankan ujung pistol pada kepala Alicia.
"Dia hanya anak buah ku. Sepertinya permainan tembak menembak akan seru. Tembak lah, dan kau akan melihat dengan mata kepala mu sendiri kepala wanita ini hancur oleh pistol ku." Richard terdiam, jantungnya berdebar.
"Buang pistol itu bodoh!" Pekik pria bertubuh besar yang ditodong oleh Richard. Membuat Richard menatap tajam kearah pria itu. Berani sekali mengatakan Richard bodoh!.
"Kenapa? Apa aku yang harus menembaknya duluan." Ancam John, bersiap menarik pelatuknya.
Richard mengangkat tangannya, ia melemparkan pistol ditangannya.
"Lepaskan dia!" Teriak Richard frustasi. Tubuh Richard langsung diringkus dari belakang oleh pria bertubuh besar itu.
Tepat saat John hendak menurunkan pistol ditangannya, sesuatu tak terduga terjadi.
'DOR!'
.
.
.
Tubuh Alicia membeku, jantungnya seakan berhenti, pandangannya menggelap. Suara itu sangat kencang.
-
Kedua tubuh itu ambruk bersamaan, membuat beberapa orang masuk dari belakang gedung. Mengelilingi Richard dengan wajah panik mereka, dengan cepat mereka mengeluarkan senjata yang mereka punya.
"Ada yang menembaknya diatas sana!." Teriak pria bertubuh besar yang histeris, ia melepaskan tangan Richard dan tampak frustasi. Richard sendiri panik saat membuka mata melihat Alicia jatuh pingsan diatas mayat John.
Beberapa orang berseragam hitam masuk kedalam gedung, meringkus mereka semua, dan ada juga beberapa orang yang loncat dari atas ikut meringkus.
"Kirim pasukan untuk meringkus markas. Pemimpin mereka sudah tewas, beberapa bukti sudaha da ditangan." Sayup-sayup Richard mendengar semua suara itu. Orang-orang berseragam hitam berlalu lalang menangkap penjahat itu.
Richard menetralkan detak jantungnya, ia tak bisa berfikir, semua kejadian ini begitu cepat dan seperti mimpi.
"Alicia." Gumam Richard. Seketika ia sadar dan berlari kearah Alicia, menaruk kepala Alicia pada pahanya, membuka ikatan mulutnya dengan cepat. Ia tak berani menatap kesamping, wajah John yang tampak mengerikan, bersimbah darah.
"Alicia, sadarlah." Richard menggendong Alicia dengan susah payah, tubuhnya sendiri pun seakan lemas tak bertenaga, Richard bersumpah tidak ingin kejadian seperti ini lagi.
"Masuk lah kedalam mobil." Richard hanya pasrah saat Alicia diambil alih oleh Justin, ia mengikuti Justin yang berlari kearah mobil sambil membawa Alicia.
Richard masuk terlebih dahulu kedalam mobil, Alicia dibaringkan diatas paha Richard oleh Justin.
"Tunggu lah disini, aku akan membantu membereskan dulu semuanya." Richard mengangguk, dengan lemas ia mencium kening lalu pipi Alicia.
"Aku senang kau selamat." Gumam Richard parau. Suara beberapa mobil polisi langsung terdengar kearah gedung, lampu sirine itu bagai cahaya yang menari dikegelapan ini.
Richard menahan dirinya, ia mual mengingat wajah John, ia mengingat jelas peluru itu menembus wajah John.
"Astaga, ini membuat ku gila." Richard mengambil botol minum didalam mobil itu, menghabisinya hingga tandas.
°°°
Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌
Thank you,
DHEA
IG: Dheanvta