One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Jessy dan Justin



Richard menatap penampilan Alicia dari bawah sampai atas. Wanita itu cocok dengan pakaian yang ia kenakan.


"Aku akan memberikan kalian waktu untuk melihat baju yang aku buat." Pamit Yosie yang langsung pergi meninggalkan Richard dan Alicia berdua.


Richard berjalan mendekati Alicia, memutari tubuh Alicia dan melihat detail atas baju itu.


"Kau suka?" Tanya Richard yang langsung diangguki Alicia. Wanita itu tersenyum senang dan melihat kearah cermin.


"Ya. Aku sangat menyukai ini." Richard tersenyum kecil. Ia sedikit menjauh dan memperhatikan kembali apa yang kurang dari Alicia.


"Kau perlu sedikit riasan agar semakin sempurna." Gumam Richard pelan. Namun Alicia masih bisa mendengar nya. Alicia manatap wajahnya dicermin, ia tampak polos dan hanya mengenakan make up seadanya. Alicia tersenyum kearah Richard, apapun akan ia turuti agar pria itu senang.


°°°


Sementara di suatu tempat, tepatnya di kawasan Elite Atherton di California. Seorang pria tengah serius dengan layar ponselnya, ia menatap foto seorang wanita yang akan menjadi targetnya.


"Lumayan cantik untuk seorang psikiater." Gumamnya.


Ia menatap cermin besar yang ada di kamarnya, memperhatikan dengan baik wajah  yang sangat ia banggakan.


"Dalam sekali pertemuan pun semua wanita akan luluh." Gumam Justin. Sudah lama ia tak menggunakan wajahnya untuk mendapatkan seorang wanita. Sepertinya ia akan kembali menjadi seorang bajingan.


Tak lama sebuah notifikasi muncul, membuat Justin dengan cepat memeriksa nya.


"Wow. Dia langsung membalas."


[Apa aku boleh membuat jadwal kunjungan ke tempat praktik mu besok?] Justin mengirimkan pesan, berharap wanita itu membalasnya dengan cepat.


[Besok aku akan pergi. Bagaimana jika hari ini? Kau bisa konsultasi kan dulu masalahmu pada ku.]


[Bisa kau memberikan alamat mu? Aku akan kesana sekarang.]


[Kita bertemu saja di cafe. Aku akan kirimkan alamatnya.] Jessy harus melihat dulu orang yang akan ia periksa, ia tak akan memberikan alamatnya pada orang lain sebelum menurutnya aman.


Tak berapa lama Jessy benar-benar memberikan sebuah alamat dan nama Cafe yang akan menjadi pertemuan awal mereka. Justin sudah merancang apa saja yang akan membuat wanita itu langsung luluh padanya.


-


Justin masuk kedalam cafe yang cukup ramai didalam nya. Ia mencari Jessy, wanita itu mengatakan duduk disebelah jendela, dan yang membuat Justin sedikit kesal adalah semua sisi cafe ini dikelilingi jendela.


Ponselnya bergetar dan nama Jessy tampil dilayar ponselnya.


"Hallo."


"Hallo, aku disebelah kanan." Justin mengedarkan pandangannya kesegala penjuru. Terlihat seorang wanita cantik mengangkat sebelah tangannya sedangkan sebelah tangannya lagi memegang ponsel.


"Aku melihat mu." Sahut Justin langsung mematikan panggilan itu dan berjalan cepat kearah Jessy.


"Hai. Maaf menunggu mu lama." Justin duduk dihadapan Jessy, melepaskan topi hitam dan sedikit menyombongkan wajah tampannya. Jessy tersenyum ramah dan mematikan ponselnya.


"Tidak masalah. Kau sudah memesan minum?" Justin menggelengkan kepalanya, lalu tiba-tiba Jessy mengangkat tangannya pada seorang waiters.


"Kau mau coffee?" Tanya Jessy.


"Ya. Coffee latte." Tak lama seorang waiters berdiri dihadapan mereka, Jessy mengulang pesan Justin.


Setelah waiters itu pergi, Jessy mulai fokus pada wajah Justin yang terlihat blasteran. Darah timur tengah begitu terasa kental dalam raut wajah pria itu.


"Aku sudah melihat biodata yang kau kirimkan. Ternyata wajah mu lebih ke timur tengah." Jessy berusaha membuka pembicaraan awal mereka, Justin mengangguk pelan.


"Ibu ku orang Pakistan." Jessy menganggukan kepalanya beberapa kali, ia mengeluarkan pulpen dari dalam tasnya, menekan ujung pulpen dengan ibu jarinya.


"Sebelum memulainya aku ingin menanyakan sesuatu. Apakah kau memiliki lisensi dan izin praktik resmi yang dapat divalidasi?" Tanya Justin menyelidiki. Jessy tersenyum dan mengangguk dengan pasti.


"Aku memiliki nya. Jika kita sudah sepakat dengan kelanjutannya aku akan memperlihatkan nya di tempat praktik ku." Justin setuju dan percaya dengan ucapan Jessy.


"Apa kau mengalami perubahan suasana hati, pikiran, dan emosi yang sering kali terjadi secara tiba-tiba?." Tanya Jessy mulai bertanya.


"Tidak." Jawab Justin. Ai sedikit tertarik melihat wajah ramah wanita itu, rambut yang terselip dibelakang telinga Jessy membuat Justin dapat leluasa memperhatikan wajah Jessy dengan jelas.


"Mengalami gangguan halusinasi, misalnya mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain?" Tanya Jessy yang lagi-lagi dijawab gelengan kepala pria itu.


"Tidak."


"Mengalami depresi, cemas, merasa takut berlebihan, gangguan tidur?"


"Tidak."


Wajah Jessy yang tadinya ramah kini berubah sedikit ketus.


"Lalu apa keluhan mu? Kenapa semuanya kau jawab tidak?. Bisa kah kau fokus dengan konsultasi ini? Berhenti menatap ku seperti itu!."


"Semua tebakan mu salah, dan aku menjawabnya dengan jujur." Justin menjeda ucapannya sebentar.


"Lagi pula wajah mu lebih menarik untuk diperhatikan." Alih-alih membuat Jessy bersemu merah, wajah wanita itu malah memperlihatkan aura kemusuhan.


"Pertama, aku tidak bermain tebak-tebakan, harusnya kau peka dan langsung menyebutkan keluhan mu. Kedua, aku tidak suka pria yang kurang ajar seperti mu."


"Apa akan ada poin ketiga?" Tanya Justin masih santai. Ia menikmati reaksi Jessy yang menghibur nya.


"Ada! Ini poin ke tiganya." Jessy menuliskan sebuah alamat pada kertas kecil yang selalu ia bawa. Awalnya memang Jessy sedikit mengagumi pria ini, wajah tampannya terlihat santai, ada sedikit ke misterius-an diwajahnya. Namun ia harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Pria itu kini begitu menyebalkan dan tidak bisa diajak serius.


"Ini. Poin ketiganya. Aku pergi." Jessy membereskan barang-barang kedalam tas. Sedangkan Justin sedikit tertawa mendapatkan alamat tersebut.


"Kau memberi ku alamat mu?" Tanya Justin tak menyangka. Ternyata wanita ini begitu frontal dan tidak berbasa basi.


"Ya. Itu alamat rumah sakit jiwa, banyak dokter yang cocok untuk mu disana." Jessy menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa seorang pria tertawa saat marahi oleh orang yang baru ia temui.


Jessy berdiri dan segera pergi dari meja. Namun langkahnya terhenti saat tangan Justin menghentikan nya.


"Aku pernah berusaha menghentikan hidup ku." Kata-kata itu langsung membuat Jessy menengokan kepalanya. Wajah pria itu kini tampak serius.


"Entah depresi atau apa. Namun yang aku rasakan hanyalah hampa dan kosong." Jessy tertarik, ia menarik tangannya dengan cepat dan berdiri didepan Justin.


"Kau berkata serius?"


"Aku serius. Bisa kau duduk? Tadi hanya sebagai sapaan diawal pertemuan."


°°°


Justin.



Thank you,


DHEA


IG: Dheanvta