
Richard dengan perlahan menenangkan kuda itu, dengan sedikit was-was Alicia memegang tali depan untuk pegangannya, ia takut kuda ini mengamuk dan melempar mereka berdua.
"Perjalan perlahan terlebih dahulu." Ucap Richard, kuda itu berjalan pelan, membuat tubuh mereka sedikit rileks.
"Apa kau ingin menunggangi kuda depan cepat?" Bisik Richard. Alicia buru-buru menggelengkan kepalanya. Ia tidak mempunya keberanian sebesar itu.
"Aku tidak berani." Cicit Alicia.
"Cobalah mengendalikan dia." Richard memberika tali yang ada ditangannya.
"Tidak, aku tidak mau."
"Kau harus melawan rasa takut mu Alicia. Agar semuanya bisa kau kendalikan." Alicia terdiam. Kata-kata itu seharusnya ia dengar dari dulu, ia terlalu lemah oleh ketakutan nya sendiri, ia terlalu ditakutkan oleh masa lalunya sendiri.
"Kau akan mengajari ku kan?" Alicia dengan ragu memegang tali itu, terlalu kencang ia menariknya maka akan semakin bertambah kecepatan kuda ini. Alicia tak melakukan pergerakan apapun pada tali itu, ia takut dan tak berani.
"Kudanya akan berhenti jika kau tidak memainkan talinya Alicia." Ingin sekali Alicia mendorong wajah itu agar sedikit menjauh darinya, detak jantung menjadi sangat berdebar jika mengingat kini mereka sedang berdekatan.
"Sepertinya ini saja." Richard menggenggam tangan kedua tangan Alicia, mengajarinya dengan perlahan.
Lambat laun Alicia mulai terbiasa dan Richard mulai melepaskan tangannya, kini ia menikmati udara sejuk dari pepohonan ini.
"Berhenti disana." Richard menunjuk pohon paling besar.
"Aku tidak mengerti cara menghentikan nya."
"Aaaaa." Alicia berteriak saat Richard mengambil alih tali tersebut, membuat kuda itu berlari sedikit kencang.
"Tidak! Jangan secepat ini!" Richard tertawa mendengar suara Alicia yang panik, ia menghentikan kuda dengan mendadak disebuah pohon.
"Ayo kita istirahat dulu." Richard turun terlebih dahulu, sedangkan Alicia, ia memegang jantungnya yang hampir copot, ia lemas seketika.
"Ayo, sebentar lagi kau akan melihat ku memanah." Kata Richard. Alicia sedikit menggerutu dalam hatinya, apakah ia tidak melihat Alicia yang masih syok?!.
"Naik ke punggung ku."
"Tidak. Aku melompat saja." Tolak Alicia. Ia tidak sopan jika sampai menaiki punggung Richard.
"Simpan sebelah kaki mu kesini, lalu naiklah ke punggung ku." Intruksi Richard dengan sedikit paksaan.
"Maaf." Pekik Alicia saat melingkarkan tangannya pada leher Richard, pria itu dengan sigap menopang tubuh Alicia dan kedua tangannya menahan kaki Alicia.
Richard menurunkan Alicia dengan perlahan, ia menalikan kuda tersebut pada pohon.
"Kau mau minum?" Richard mengambil botol minum yang dan dikuda tersebut.
"Tapi minum itu hanya ada satu. Kau saja." Richard tidak suka acara basa-basi ini, ia memberikannya pada Alicia.
"Cepatlah minum. Kita akan memanah, aku akan mengajari mu." Alicia membuka tutup botol itu dan meminumnya tanpa menyentuh permukaan botol. Setelah dirasa tenggorokannya basah dan rasa hausnya hilang ia menutup kembali tutup botol itu.
"Mau minum?" Tanya Alicia ragu. Ia sedikit tak enak menawarkan minum bekasnya pada Richard, tapi ia tau bahwa pria itu juga sedikit kehausan.
"Kau sudah?" Tanya Richard. Alicia mengangguk dengan semangat dan menyodorkan botol itu, Richard menerima nya sambil tersenyum miring.
"Aku bukan ingin minum." Alicia memundurkan tubuhnya saat Richard mendekatinya.
"A,, apa yang kau lakukan?" Alicia semakin mundur, namun tubuhnya sudah membentur pohon.
"Aku ingin bibir manis ini." Richard mengusap pelan bibir bawah Alicia, wajahnya mendekat. Jantung Alicia berdegup kencang, ia menutup matanya erat. Terasa kulit kenyal itu sekarang sudah menempel.
'Lawan rasa takut mu, agar semua bisa kau kendalikan.' Alicia menyakinkan dirinya sendiri, ia mencoba menghapus bayangan gelap itu. Dengan perlahan Alicia mulai memberanikan dirinya membalas ciuman Richard.