One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Mobil baru



"Ya sudah aku saja yang memilihnya."  Richard menarik kembali majalah itu.


"Kau ingin warna apa?" Tanya Richard. Alicia menghirup nafas nya panjang, ia tak mengerti lagi dengan jalan fikir orang-orang dengan kelebihan harta seperti Richard.


"Utang ku sudah terlalu banyak. Jika ditambah mobil.." Alicia tak bisa meneruskan ucapannya, sampai mulut nya berbusa pun Richard tidak akan mengerti keadaanya.


"Aku tidak bisa mengganti semua uang yang sudah kau keluarkan untuk ku." Ucap Alicia pada akhirnya.


Richard mengangkat bahunya dengan wajah datar.


"Aku tidak meminta mu mengganti nya. Sudah lah Alicia, kau hanya perlu menunjuk mobil mana yang kau mau." Alicia memijat keningnya, ia rasa pening mulai menjalar dikepalanya.


"Pilihkan aku yang paling murah saja, kalau ada mobil bekas juga tidak masalah, aku tidak ingin menyusahkan Bella terus." Richard tersenyum puas, akhirnya rasa bersalah nya sudah ia tebus.


Richard berdiri dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"Kalau begitu kau boleh memulai pekerjaan mu Alicia, nanti sore kita akan melihat mobil baru mu." Alicia menggelengkan kepalanya pelan, ia berdiri dan merapikan rok hitamnya.


"Kalau begitu aku permisi dulu sir." Richard menahan tangan Alicia yang hendak pergi.


"Sir?"


"Richard maksud ku." Gagap Alicia.


"Bagus. Silahkan." Alicia berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Ia tidak terbiasa dengan kegiatan menghamburkan uang seperti Richard, ia terbiasa membeli sesuatu dengan menabung dan bekerja keras dalam waktu yang tidak sebentar. Tidak seperti tadi, hanya disuruh memilih dan nanti sore akan ada, benar-benar diluar logikanya.


'Pantas saja orang kaya tidak suka dibantah, mereka harus bisa mendapatkan apa yang mereka mau dengan sekejap mata' pikir Alicia. Ia masuk kedalam ruangan kacanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


°•°•°•°


Suara dering telepon berdering, membuat fokus Alicia yang tengah mengetik sedikit buyar.


"Hallo. Selamat siang."


"Sore ini aku ingin bertemu dengan Mr. Alvaron. Tolong buat kan jadwal untuk ku." Alicia melihat lembar jadwal Richard yang ia letakan disebelah laptop.


"Sore ini Mr.Al.."


"Buat kan saja. Aku tidak ada waktu lagi untuk kesana." Alicia menghela nafasnya, seperti ini lah orang-orang kaya yang menyebalkan, apapun yang mereka katakan harus mendapatkan jawaban YA.


"Tapi.."


"Katakan saja, aku Justin."


"Bisa kah kau mendengar kan aku dulu?" Ucap Alicia sedikit keras. Suara ini terdengar masih muda, sombong dan tidak tau sopan santun.


"Aku tidak tau siapa aku?" Lagi-lagi pria itu bernada sombong. Alicia menarik nafasnya pelan, berusaha bersabar menghadapi yang seperti ini.


"Yang pertama aku akan membicarakan jam yang tepat agar bisa aku catat dijadwal karena jam 3 sore ini akan ada rapat. Yang kedua aku tidak tau siapa dirimu, jadi bisa kah kau menjelaskan siapa diri mu ini?" Alicia mengambil pulpennya dan selembar kertas dengan kesal.


"Jangan mempersulit ku. Catat saja, aku Justin, jam 4 sore ini aku sudah sampai di tempat." Suara itu terdiam sebentar.


"Katakan juga aku ingin membahas kembali proyek di New York." Lanjutnya.


Alicia baru akan membuka mulutnya, namun panggilan itu sudah terputus.


"Astaga. Menyusahkan saja." Gerutu Alicia. Ia bergegas keluar dari ruangannya, mengetuk pelan ruangan Richard.


"Masuk." Alicia membuka pintu itu perlahan.


"Dari jam 11 kau disini, apa tidak ada niat untuk pergi?" Seru Richard. Jika Richard mengatakan wanita yang selama ini ia ceritakan adalah Alicia mungkin David tidak akan berani menggoda Alicia seperti tadi.


"Aku baru pulang dari Perancis dan kau malah mengusir ku?" Tanya David tak menyangka. Richard berdecak dan menatap tajam David, kehadirannya mengganggu Richard untuk bisa berduaan dengan Alicia.


"Baiklah. Aku pulang!." David memasukkan ponselnya sambil berdiri, merapikan bajunya dan kembali mengedipkan sebelah mata kepada Alicia.


"Alicia, aku pulang dulu ya, jika ada waktu luang aku ingin mengajak mu makan malam."


"Tidak bisa kah kau langsung pulang? Cari pekerjaan dulu yang benar jika ingin menggoda wanita." Ejek Richard, tidak akan ada makan malam Alicia dengan pria mana pun, hanya Richard yang boleh.


"Aku ini seorang penulis dan seniman, kau mengatakan itu seperti aku ini seorang pengangguran saja." Gerutu David, ia berjalan malas keluar dari ruangan dan menutup ruangan dengan kencang.


Alicia menatap Richard saat ia sadar kini hanya mereka berdua yang ada diruangan ini.


"Ini jadwal terbaru mu." Alicia menyodorkan kertas dengan tulisan indah diatasnya.


"Kau kan sudah tau Alicia, aku tidak menerima pertemuan disore hari, apalagi mendekati jam pulang."


"Maaf. Tapi pria ini terus mengatakan bahwa dirinya adalah Justin, ingin membahas proyek di New York." Richard menghembuskan nafasnya panjang. Bocah itu ternyata benar-benar angkuh seperti ayahnya.


"Padahal mereka masih dibawah ku. Tapi mengapa mereka angkuh ini." Gumam Richard pelan sambil tersenyum miring.


"Apa?" Tanya Alicia, ia melihat Richard berbicara namun tak ada suara apapun yang ia dengar.


Richard menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Kalau begitu batalkan saja rapat sore ini, kita harus menyambut anak Alex yang selalu membuat onar." Bagaimana pun Richard masih ingat, Justin yang membuat onar pada malam itu, jika bocah itu tidak membuat onar mungkin rencana busuk ayahnya pada Alicia akan berhasil dan Richard tidak akan pernah menyadari kecantikan sekertaris nya sendiri yang terpengaruh obat. Mengingat malam indah itu membuat Richard sedikit melonggarkan dasinya.


"Sepertinya aku mulai bangkit." Gumam Richard kembali.


Lagi-lagi Alicia mengerutkan keningnya. Mengapa hari ini ia tidak mengerti dengan ucapan Richard?.


"Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Alicia.


"Tidak, kemari lah." Alicia dengan ragu berjalan kesebelah Richard, pria itu membuka sebuah gambar di laptopnya.


"Mereka merekomendasikan mobil ini yang cocok untuk mu. Jadi aku langsung memesannya." Ucapan Richard sukses membuat Alicia menutup mulutnya.


"Ini sangat cantik." Gumam Alicia di sela-sela keterkejutannya.


"Kau suka?"


"Ini pasti sangat mahal? Berapa harganya?" Alicia membungkuk kan badannya, ia menatap gambar indah itu.


Richard menikmati ekspresi Alicia, namun harum wanita itu kini terlalu dekat dengannya, Richard mendekatkan wajah dan melahap kecil telinga bawah Alicia dan menyapunya dengan lidah Richard.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Alicia, ia langsung berdiri tegap karena terkejut dengan perlakuan Richard.


"Kau membangun kan adik kecil ku Alicia." Alicia mengerutkan keningnya, ia langsung menatap apa yang ditunjuk Richard, wajahnya bersemu merah.


"Tapi ini masih jam kerja!"


°°°


Jangan lupa like dan berikan bunga ya🖤 Btw cerita ini lagi ikut kontes, dukung terus ya semuanya🙌