
Richard dan Sam baru saja selesai bertemu dengan orang dari pihak kantor, kini mereka masuk kedalam kamar rawat Alicia, duduk disebuah sofa panjang. Richard melirik sekilas pada dua wanita yang sepertinya masih asik berbincang, padahal hampir 1 jam lebih Richard dilantai bawah tadi.
'Brak'
"Maaf aku tertidur." Ucap Justin panik, ia masuk kedalam kamar dengan buru-buru. Richard bercedak, walaupun bocah itu datang pun hanya membuat malu pastinya.
"Lihatlah dasi mu, pakaian mu, rambut mu!" Gerutu Richard. Semua yang dikenakan Justin berantakan, dan kini bocah itu berdiri dihadapannya.
"Ya, ya, ya, aku tau aku berantakan, tapi ini bukti bahwa aku benar-benar panik. Aku berniat tidur 5 menit, tidak menyangka akan 1 jam."
"Sudah selesai pertemuan nya." Jika yang berbicara adalah Richard, mungkin Justin akan biasa saja. Namun, yang berbicara kali ini adalah Sam. Asisten pribadinya! Benar-benar kurang ajar.
Justin berjalan kesebelah Sam, tak peduli umurnya yang lebih tua atau tidak, ia melipat kedua tangannya dengan angkuh.
"Pakaian mu lebih rapi dari atasan mu?! Tidak bisa kah kau membangunkan ku lebih giat lagi tadi? Tidak ada kah niat mu untuk merapikan dasi dan pakaian ku? Kau ini sangat tidak berguna, mau aku pecat?"
Sam menghela nafasnya, bahkan dikantor pun jika Justin tidur dijam kerja dan dibangunkan secara paksa akan mengamuk dan wajahnya sangat tidak bersahabat.
"Pecatlah. Mungkin aku akan melamar ke Alvaron Group." Justin yang kesal langsung melipat tangannya di belakang leher Sam, seperti anak kecil yang sedang mengajak gulat.
"Ck, tidak bisa kah kalian diam! Benar-benar seperti anak kecil." Gerutu Richard saat Justin mengunci kepala Sam dan tubuh Sam memberontak ingin dibebaskan, seperti pemandangan adik dan kakak berkelahi.
Justin tersenyum puas saat Sam tak bisa melakukan perlawanan apapun. Namun, senyum Justin memudar, ia pun perlahan melepaskan Sam. Sepasang mata dengan menatapnya tajam, aura wanita itu seakan hendak membunuhnya.
Justin mengerjapkan matanya, sedikit memijatnya pelan.
"Apa aku berhalusinasi?" Gumam Justin.
"Aku melihat dokter wanita disana. Apa aku sudah gila?" Gumam Justin kembali. Suasana hening, Richard hanya diam untuk masalah ini, ia tidak ingin berbawa masalah. Sedangkan Alicia dan Sam bingung dengan keadaan canggung ini.
Jessy yang sudah kesal pada pria ini, tak menyangka akan bertemu dengannya disini.
"Justin?!" Jessy bangkit dan menghampiri Justin. Wajah pria itu benar-benar mengesalkan dan membuatnya ingin sekali mengacak-acaknya.
Justin yang panik karena ia sadar ini bukan halusinasi, langsung bersiap saat wanita itu menghampirinya dengan wajah penuh amarah. Beberapa detik yang di anggap Justin pas, ia langsung berlari ke pintu luar, ia harus kabur!.
Jessy mengepalkan tangannya.
"Alicia, tunggu sebentar ya." Jessy tak ingin kehilangan Justin lagi, ia harus memberikan sedikit pelajaran pada Justin. Dengan semangat yang berkobar Jessy berlari keluar, mencari jejak pria tengil itu.
"Apa mereka saling kenal?" Tanya Alicia bingung pada Richard. Sedikit bingung harus menjawab apa, akhirnya Richard mengangkat bahunya.
"Mungkin Jessy pernah di dekati Justin. Atau mungkin mereka pernah satu sekolah?." Jawab Richard. Melihat reaksi Jessy tadi sedikit membuat Richard merasa bersalah karena telah mengenalkan bocah teng itu padanya. Sam berdiri dan bergegas merapikan jasnya.
"Aku akan menyusul mereka, sepertinya aku mencium bau-bau tidak beres." Sam langsung keluar dari kamar rawat Alicia. Meninggalkan Alicia dan Richard berdua disana.
"Akhirnya kita bisa berduaan disini." Kata Richard memecahkan keheningan, Alicia melirik dan tertawa pelan.
°°°
"Hei! Berhentilah!." Teriak Jessy, ia lelah harus menuruni tangga darurat ini.
"Kenapa kau mengejar ku?" Teriak Justin yang sudah dibawah. Mereka berbeda belasan anak tangga.
"Kenapa kau lari?" Tanya Jessy balik bertanya.
"Aku melihat aura pembunuhan diwajah mu." Jawab Justin berteriak. Ia ingin lari, namun kasian pada wanita lemah itu. Ini baru 3 lantai mereka berlari, dan wanita itu sudah seperti kelelahan.
"Aku memang akan membunuh mu!"
Justin bersandar ditembok, kepalanya mengadah keatas melihat wajah cantik Jessy yang lelah.
"Bukannya aku sudah minta maaf? Itu hanya lelucon April mop."
"Apanya yang April mop?! Kau melihat tubuh ku!"
"Aku hanya melihatnya sedikit."
"Bohong!"
"Kau benar-benar brengsek!" Jessy menuruni anak tangga. Ia akan mencincangnya habis!.
Justin ingin berlari, namun sampai kapan ia harus kabur dari wanita ini? Akhirnya Justin hanya menunggu Jessy menuruni belasan anak tangga.
"Kau pria kurang ajar!" Justin meringis, lengannya dicubit kecil oleh Jessy, dan ini benar-benar perih.
"Hei lepas!" Jessy semakin mengencangkan cubitannya. Membuat Justin merasa sangat sakit di bagian lengan atas. Ini yang tak bisa ia tebak dari wanita, jika Jessy menonjoknya mungkin ia bisa menangkis, tapi Justin tak pernah menyangka akan mendapatkan cubitan.
"Kurang?" Tanya Jessy. Wanita ini benar-benar mengerikan!.
Justin melepaskan paksa tangan Jessy, ia mengelus bekas cubitan itu dengan kasar, ia tak suka wanita galak. Tanpa disangka, Justin membalikan tubuh Jessy, menghimpit tubuh Jessy ke tembok.
"Aku sudah bilang itu hanya lelucon. Tidak bisakah kita berdamai?" Jessy menggelengkan kepalanya keras.
"Aku tidak tau kau berbicara jujur atau tidak, dan aku tidak ingin mengambil resiko jika nantinya aku hamil!" Justin tersenyum miring.
"Kau tidak akan hamil. Aku bisa pastikan itu."
"Tidak. Kau harus bertanggung jawab. Bahkan nama dan alamat mu saja palsu, lalu apa pekerjaan mu sebenarnya hah? Penulis? Haha kau memang penipu! Bagaimana aku harus percaya kau tidak melakukan apapun pada ku!" Justin mengangkat alisnya sebelah, sorot matanya menajam.
"Aku mencantumkan nama dan alamat asliku disana." Lirih Justin.
"Tidak! Aku malah masuk kekawasan rumah elit. Jika ingin berbohong pintarlah sedikit!" Justin tertawa hambar. Rumahnya memang di kawasan elit. Dan wanita menyebalkan ini tidak percaya?!.
"Kau tidak percaya itu rumah ku?" Jessy membalas tawa hambar itu.
"Kau hanya penipu dan mungkin saja pekerjaan mu itu melawan hukum! Bagaimana aku percaya? Mencuri data-data pasien ku?" Ejek Jessy. Justin yang sudah marah semakin menghimpit tubuh Jessy, membuat wanita itu sedikit panik dan memukul dada Justin.
"Tutup mulutmu yang tajam itu atau akan ku gigit sekarang juga."
"Kau gila!" Pekik Jessy, ia panik saat wajah Justin mendekat padanya.
"Sedikit pelajaran untuk mulut tajam mu yang berisik." Jessy berontak saat tiba-tiba kedua tangannya ditarik keatas dan dipegang kencang oleh Justin, bibir mereka bertemu. Jessy membolakan matanya, jantungnya berdebar. Lidah pria itu menerobos pelan.
"Aku mencari kali..an" ucapan terhenti itu menyadarkan Justin dan Jessy. Justin dengan cepat menjauhkan tubuh mereka, ia hanya ingin menggertak Jessy, namun ia malah kelebihan dan penasaran dengan mulut tajam itu. Wajah keduanya memerah, tak berani saling pandang.
Sam yang berada ditengah mereka pun menjadi canggung. Bukankah tadi mereka akan bertengkar? Kenapa ia malah melihat pemandangan ini!. Sam berdehem, memecahkan suasana canggung.
"Kalian,, bisa meneruskannya." Ujar Sam pada akhirnya, ia hendak berlari keatas, namun suara Jessy menghentikan langkahnya.
"Kau siapanya orang ini?" Tanya Jessy, padahal dari tadi Jessy seruangan di kamar Alicia dengan pria itu.
"Aku asisten pribadinya." Jessy mengerutkan keningnya, sebenarnya apa pekerjaan Justin?.
"Ada yang bisa aku bantu nona?"
"Dia menghamili ku." Jessy menunjuk wajah Justin.
"Apa?!" Pekik Justin dan Sam bersamaan.
"Tidak! Dia berbohong!"
Sam terdiam, ia tak menyangka ternyata sifat ayahnya menurun pada anaknya.
"Ekhem. Tenang, Mr. Franz tidak akan marah besar jika untuk masalah kau menghamili wanita, tidak akan mengamuk seperti menemukan senjata api milik mu seperti dulu."
Jessy terdiam, sedikit terkejut dengan senjata api milik Justin, untuk apa pria itu memiliki senjata api! Yang lebih membuatnya terkejut adalah kata Mr.Franz, apa benar rumah besar itu miliknya? Dan pria tua yang di maksud Mr.Franz adalah ayah Justin. Apa ini? Siapa Justin sebenarnya?.
"Aku akan melaporkan dulu pada Mr.Franz."
"Aku akan benar-benar memecatmu jika kau berbicara padanya!"
°°°
Gak jadi 5 bab hari ini ya. Author nya kerja, gajadi di kasih libur ternyata sama bos🤣 lebih lengkap nya nanti dijelasin di show me ya. next bab mulai bawa Alicia ke mamah Richard tentang pernikahan mereka.