One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Tebusan



John menyeringai melihat gadis baru itu menangis. Tidak ada yang rasa iba didalam hatinya.


"Sial, mengganggu saja." Gerutu John saat menyadari ponselnya Alicia terus berdering.


Jika bukan karena tebusan yang fantastis ia tidak akan mengangkat panggilan itu.


"Hallo."


"Aku ingin menebusnya saat ini juga. Tapi aku tidak ingin dimarkas mu." John menaikan sebelah alisnya.  Ia menatap jam ditangannya sambil berjalan keluar kamar.


"Kenapa? Aku tidak ingin mengembalikan wanita itu jika kau tidak mengirimkan uang itu kemari."


"Aku juga tidak ingin memberikan uangnya jika tidak ditempat lain. Kau bisa saja menipu ku." John terkekeh mendengar ucapan Richard.


"Baiklah. Aku ingin kau ke kawasan B, ada gedung tua disana."


"Apa itu masih kawasan mu?"


"Kenapa? Kau masih tidak percaya? Aku tidak akan membawa siapapun, asal kau yakin dengan uang yang ku minta."


"Apa ucapan mu bisa di pegang?" John berdecak.


"Aku beri tahu satu hal. Dulu Alicia juga pernah menjadi tahanan ku, saat Sophia menebusnya di markas, aku langsung memberikannya, aku selalu menepati janjiku. Jangan terlalu lama mengulur waktu."


"Baiklah. Aku harap jangan bermain-main dengan ku, atau kau akan mendapatkan balasan nya."


"Ohh aku takut." Ejek John. Panggilan itu terputus, ia menyeringai puas. Uangnya akan bertambah.


John masuk kedalam kamar pribadinya, mengambil sebuah pistol dan menyimpannya di balik jaket yang ia kenakan. Ia menatap pantulan wajahnya dicermin.


"Jika kau bermain licik, aku akan lebih licik." Gumam John pelan. Ia keluar dari kamarnya dan menghampiri dua orang yang selalu mengikutinya.


"Siapkan beberapa orang untuk bersembunyi dibelakang gedung tua. Kita akan mengambil harta karun." Perintah John.


"Dan kau, bantu aku membawa wanita itu." Mereka pun berpencar, satu pria berjalan lantai bawah, dan satu lagi yang bersama John berjalan ke kamar Alicia.


Wanita itu tampak terkejut melihat John dan pria berbadan besar masuk kedalam kamarnya.


"Apa yang kalian.. Hmmp." Mulutnya diikat paksa menggunakan kain merah, dan tangan Alicia diikat kebelakang dengan kencang. Alicia memberontak, ia panik.


"Kau akan ditebus sayang." Hanya itu yang di dengar Alicia, tiba-tiba pandangannya menggelap.


"Aku menggunakan bius ringan. Ia akan bangun saat digedung tua itu." Ucap pria berbadan besar. John tersenyum puas.


"Bagus. Aku suka cara kerjamu. Bawa dia ke mobil." John berjalan terlebih dahulu, sementara pria berbadan besar itu menggendong Alicia yang tak sadarkan diri. Mereka turun ke lantai bawah, sudah ada beberapa orang yang berjajar.


"Kita akan mengambil tebusan. Dengan ini baik-baik." John berjalan mengelilingi 10 orang itu.


"Aku hanya akan menunjukkan dia sebagai orang yang menghitung uang nanti. Kalian bersembunyi dibelakang gedung, jika kalian mencium hal yang tidak beres beraksilah. Tapi jika semuanya masih dalam kondisi aman, kalian jangan keluar. Paham?"


"Paham!" Jawab mereka serempak.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang, pastikan kita sampai terlebih dahulu, siapkan juga perlengkapan kalian." Semuanya bergegas, John masuk kedalam mobil hitam nya, gerbang besar yang melindungi markasnya pun terbuka lebar, John menyeringai kembali.


°°°


"Ohh aku takut." Suara ejekan itu membuat Richard muak, ia mematikan panggilannya.


"Bagus. Mereka semua sudah bersiap disana." Pekik Justin sambil tersenyum puas. Rencana mereka berhasil, mereka membagi 3 titik penyebaran yang di prediksi akan menjadi tempat penebusan, dekat markas, lapangan dan gedung tua. Panggilan Richard pun terhubung pada semuanya, jadi mereka dengan sigap langsung menjadi tempat aman untuk bersembunyi didekat gedung tua, menyiapkan segala sesuatunya agar tidak ada yang mencurigakan.


"Simpan pistol ini di balik jas mu." Richard menerima pistol itu, dan menatapnya dengan heran.


"Apa mereka tidak akan memeriksa baju ku?"


"Sudah simpan saja, memang itu yang nanti akan kau tunjukan. Ikuti aba-aba ku ditelinga mu, aku akan mengetest kembali alat itu." Justin berbisik nyaris tak bersuara sambil menekan tombol yang ada di jam tangannya. 'Keluarkan pistol itu.'


"Terdengar. Kita berangkat sekarang." Richard mengambil dua koper diatas meja.


"Ayo kita pergi. Aku akan berlagak seperti supir mu. Supir tampan tepatnya." Richard menghela nafasnya dan berjalan terlebih dahulu.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda."


-


Kini Richard dan Justin sudah sampai di gedung tua itu, dengan jantung yang berdebar, Richard membawa dua koper ditangannya.


"Masuklah, jangan melakukan apapun sebelum menerima aba-aba dari ku. Aku akan memantau dari sini."


"Alicia!" Pekik Richard saat melihat tubuh Alicia diikat pada kursi, ada dua orang digedung itu.


"Diatas sana ada kamera yang dapat aku pantau, jadi jangan sembarang mengambil langkah, atau nyawa kalian yang dalam bahaya." Richard mengangguk.


Richard keluar dari mobil, dengan sedikit rasa gugup ia berjalan masuk kedalam gedung.


Suara tepuk tangan menyambut kedatangan Richard, membuat Richard menatap sinis pada John.


"Kau sudah berjanji akan sendirian bukan?" Ejek Richard. Hatinya panas melihat Alicia tengah menatap Richard dengan raut wajah memohon.


"Oh maaf, aku ternyata butuh orang untuk menghitung uang, kau juga membawa orang?"


Richard tersenyum miring, ia menyimpan kedua koper diatas meja yang sudah disiapkan John, ditengah ruangan.


"Hanya supir saja di dalam mobil, jika kau macam-macam dia akan menelfon polisi." mendengar itu John tersenyum mengejek.


"Polisi tidak akan berani menangkap ku." Jawabnya sombong.


"Periksalah uang itu." Perintah John pada pria disebelahnya, dengan cepat pria itu berjalan kearah meja, tatapannya menatap sinis dan mengejek kearah Richard.


Matanya sedikit berbinar melihat tumpukan $100 didalam kedua koper. Ini benar-benar harta karun. Ia menghitung berapa banyaknya uang itu, tak terhitung, itu sangat banyak.


"Bagaimana?" Tanya John. Pria itu menganggukan kepalanya.


"Ini semua dolar asli." Jawabnya, masih sambil menghitung berapa tumpukan uang yang ada didalam kedua koper. John tersenyum menang, ia melepaskan Alicia dari ikatan di kursi, membuat Alicia dapat berdiri.


"Hemmmp." Alicia seakan berprotes tak tertahan saat badannya terbebas, namun tangannya kembali ditahan John saat Alicia mencoba berlari kearah Richard.


"Sabar sayang. Aku akan melepaskan ikatan dimulut mu dulu." Bisik John terasa menjijikan ditelinga Alicia.


Namun saat sebelah tangan John hendak membuka kain itu, pria yang menghitung uang menghentikannya.


"Tunggu! Dia menipu kita!" Teriak itu sukses membuat John menekan tangan Alicia agar tidak kabur, Alicia meringis saat tangannya terasa sakit oleh genggaman itu.


"Ini semua $1 dibawahnya." John yang mendengar itu langsung marah, ia mengeluarkan pistol dibelakang tubuhnya, mengarahkan pistol itu pada kepala Alicia.


Richard menelan air liurnya. Ia harus bagaimana? Keringat dingin mulai terasa dikepala Richard.


"Sial." Gumam Richard panik, tak ada aba-aba dari Justin, membuat Richard bingung harus mengambil langkah apa.


"Kau berani mempermainkan ku." Desis John bengis.


_


Dukung author dengan cara memberikan vote dan like🙌


Thank you,


DHEA


IG: Dheanvta