
"Masih ada 2 jam lagi Alicia." Suara dan wajah itu seakan memohon dengan cara yang sexy. Namun Alicia langsung menepis pikiran gilanya, ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kita tidak akan tau siapa yang akan datang kesini nanti."
"Untuk apa aku menyediakan kamar jika tidak digunakan?" Tanya Richard masih dengan nyaman duduk dikursi kerjanya.
"Tidak akan ada yang tau." Lanjut Richard.
"Nanti saja pulang kerja. Aku masih banyak pekerjaan." Ucap Alicia cepat, wajahnya benar-benar merah sekarang. Richard berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati Alicia yang berusaha mundur.
"Kau sudah berjanji tidak akan menolak ku." Ucap Richard parau. Alicia memekikan suaranya saat tiba-tiba Richard menariknya duduk di kursi Richard. Pria itu membungkuk sambil melonggarkan dasinya.
"Ini diruangan kerja mu!" Alicia sedikit menahan teriakannya.
"Aku tau." Alicia mengepalkan tangannya saat bibir Richard mulai mendarat halus menyusuri leher jenjangnya. Darahnya ikut memanas dan getaran aneh mulai menerpanya.
"Kita pindah ke kamar mu." Ajak Alicia menahan geli yang ditimbulkan Richard.
Richard menjauhkan wajahnya, ia membuka dasi yang sepertinya menghalangi nya.
"Kita belum pernah melakukan nya disini, dan aku ingin melakukannya dimana pun bersama mu, Alicia." Bisik Richard yang kembali mendaratkan bibirnya. Alicia menge°rang saat tangan-tangan Richard menekan titik sensitif nya. Bibir mereka bertemu, saling menaut, dan menjelajahi satu sama lain.
"Bagaimana jika ada yang masuk." Alicia mendorong sedikit tubuh Richard, ia menghirup nafas sebanyak mungkin.
"Tidak akan ada yang berani." Richard kembali menyerbu wajah Alicia. Namun Alicia memalingkan wajahnya.
"Aku belum memberitahu pembatalan rapat." Itu sungguh membuat Richard kesal. Ia berdecak dan mengambil telfon genggam nya.
"Hallo. Katakan rapat sore ini dibatalkan."
"Sudah lah Felly, tidak usah banyak bertanya dan lakukan saja." Richard menyimpan kembali telepon itu dan mendekati Alicia kembali.
"Sudah aman sekarang, tenang lah, jika ada yang melihat pun siapa yang akan berani mengusik kita." Richard membuka kemeja Alicia perlahan, ia pun sudah sedikit pasrah sekarang, ia lupa jika Richard tidak suka ditolak.
"Baiklah." Alicia berusaha tenang, ia menyandarkan dirinya di kursi. Ia akan mencoba tenang dan melihat reaksinya sendiri tanpa menggunakan permen yang diracik Jessy.
Richard yang mendapatkan persetujuan langsung semangat dengan aksinya. Ia memanjakan Alicia dengan tangan ahlinya dan segala apapun yang Richard sentuh seakan menjadi titik lemah wanita itu.
Saat sudah merasa cukup dengan pemanasan, Richard merasa dirinya sudah sangat siap memulai ini, Alicia memejamkan matanya dengan erat sambil menggerakkan kepalanya dengan tidak beraturan.
"Tidak, aku tidak bisa." Alicia mendorong Richard dengan keras, ia menurunkan roknya yang sudah tersingkap keatas, nafasnya tersengal. Bayangan ruangan merah yang redup itu kini menghantui nya, ia tidak bisa tanpa obat yang Jessy berikan!. Alicia menggelengkan kepalanya histeris, suara itu kembali berdengung ditelinganya.
"Ayolah Alicia, ini sudah setengah jalan!" Teriak Richard kesal. Mengapa Alicia kembali seperti ini. Melihat Alicia yang ketakutan membuat Richard menahan amarahnya, ia memeluk Alicia dan mengelus punggung wanita itu dengan pelan.
"Sudah tenang lah. Aku istirahat saja dikamar ku." Ucap Richard pelan. Alicia menahan ketakutannya, ia menangis dan membalas pelukan Richard.
"Maafkan aku." Ucap Alicia. Richard mengangguk pelan, merapikan kembali kemeja Alicia dan mengelus rambut wanita itu pelan.
°°°
Dihadapannya kini bocah mengesalkan itu, lihatlah penampilan nya, dengan wajah malas bocah ini memintanya untuk mempercepat proyek pembangunan di New York, dan sebisa mungkin 2 Minggu lagi mereka harus sudah memulai kerja sama mereka.
"Ini bukan sesuatu yang bisa diburu-buru. Harus pelan dan dipikirkan dengan matang."
"Semua bisa dipercepat, aku yang akan menanggung biaya nya. Suruh saja mereka membangunnya dengan cepat." Justin berbicara tanpa beban.
"Para pemegang saham, dan AKU pemilik perusahaan ini saja memberikan waktu 3 bulan. Dan 2 Minggu adalah pikiran yang bodoh."
"Aku bisa menjamin proyek ini berhasil jika dipercepat juga, aku tidak ingin lama-lama mengurusi ini."
"Apa yang kau bisa? Merengek pada ayah mu jika kau gagal? Mengandalkan IPK tinggi yang tidak tau kau dapatkan dari mana?" Tanya Richard merendahkan.
"Aku bisa meng-hack database, menggunakan pistol dalam jarak yang jauh, mahir lebih dari 7 bahasa dan bisa mengendarai helikopter." Jawab Justin tanpa basa basi. Menurutnya itu adalah keahlian paling hebat yang ia punya. Richard terdiam sesaat, ia tersenyum miring dan menautkan jari-jari didepan wajah.
"Kau ini seorang GM atau CIA?" Tanya Richard serius, melihat tubuh dan gerakan Justin yang cekatan membuat Richard sedikit berfikir kearah sana. Richard pernah tak sengaja melihat Justin keluar dengan terburu-buru dari ruang rapat waktu itu, alih-alih menggunakan lift Justin malah menuruni tangga dengan cepat, bahkan tak segan-segan melompat pembatas tangga. Justin seakan sudah tau titik aman untuknya melompat dengan cepat. Semuanya seperti langsung terinput di otaknya. Richard waktu itu hanya menganggap Justin memang seorang bocah yang membuat onar dan tidak tau aturan.
"Ternyata kau pintar menebak. Urusan ku disini sudah selesai, dua Minggu lagi aku ingin kita fokus di New York." Richard tak mengindahkan kata 2 Minggu itu, ia lebih fokus pada kata New York.
"Apa kau tau mafia disana?" Tanya Richard pelan. Justin menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Richard.
"Untuk apa kau menanyakan itu?" Justin tertarik dengan pertanyaan Richard, semangat nya langsung bangkit, tidak membuat nya langsung mengantuk saat membicara tentang saham, penjualan, kontrak, dan lain-lain. Ia lebih menyukai tantangan yang membahayakan nyawa.
"Kekasih ku memiliki trauma, dan ada beberapa gosip yang mengatakan dia pernah diculik oleh seorang mafia." Justin berjalan kembali kearah Richard dan duduk dihadapannya.
"Jika seorang wanita sudah berhasil di culik selama beberapa hari oleh seorang mafia, wanita itu pasti sudah dijadikan slave." Richard mendengar kan dengan serius, alisnya bertaut.
"Slave, budak untuk melepaskan nafsunya, namun mereka lebih suka cara yang kasar."
"Cara kasar bagaimana?" Tanya Richard cepat.
"Seperti mencambuk nya dulu, menutup matanya dengan menempelkan beberapa S°x toy, mengikat wanita diranjang sambil memberikan sedikit setrum ditubuh mereka, tidak mau sedikitpun mereka mendengar suara budak yang menikmati. Mereka akan mencari kesenangan dari apa yang mereka lihat dan lakukan, mereka suka mendengar suara orang tersiksa dan memohon. Namun ada juga yang membunuh demi kepuasan batin mereka, bahkan ada pula yang menguliti budaknya sendiri hidup-hidup sampai meregangkan nyawa mereka dihadapannya." Richard menggelengkan kepalanya, ia hanya berharap Alicia tidak mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Jika sayatan?" Tanya Richard, ia mengingat teriakan Alicia saat berkuda dulu.
"Apa?! Kau harus memeriksanya ke lab. Mafia itu gila, mereka mempunyai fantasi nya sendiri, kita tidak bisa menebak apa yang mereka lakukan. Aku takut ia menyayat tubuh untuk memasukkan narkotika."
°°°
Kasih bunga dulu baru next lagi🐰