One Night Stand With My CEO

One Night Stand With My CEO
Malam indah dikapal



Richard tersenyum, ia puas dengan rencananya sendiri. Wajah Alicia begitu bahagia saat mereka sudah duduk diatas kapal, makanan yang tersaji pun nampaknya menggugah selera, ditemani suara musik yang indah dan lilin yang menambah kesan romantis.


Mereka makan dalam diam, menikmati keindahan yang bisa mereka lihat dari atas kapal ini. Alicia tersenyum saat sesekali pandangan mereka bertemu. Richard memperhatikan bibir yang kini sedang menyentuh permukaan gelas. Pemandangan seperti ini saja berhasil membuat Richard menginginkannya.


"Teruslah makan yang banyak. Aku ingin melihat mu gemuk." Ujar Richard dengan tawa pelan diakhir kalimatnya.


Raut wajah Alicia murung mendengar itu.


"Jika aku gemuk kau tidak akan menyukai ku lagi."


Satu detik, dua detik, tiga detik Richard masih menatap Alicia. Tepat didetik kelima raut wajah Alicia berubah panik, wajahnya juga memerah. Apa yang sudah ia katakan!.


"Em.. itu maksudku, mungkin kau tidak akan menginginkan ku lagi." Koreksi Alicia cepat.


Richard tersenyum miring.


"Tidak. Aku menyukai ucapan mu yang pertama." Alicia terdiam, kini mereka saling tatap, jantung Richard mungkin berdetak normal, namun Alicia, jantungnya tengah berdebar.


"Sepertinya kita harus mengakhiri kontrak ini."


"Maksud mu?" Ada sedikit rasa khawatir disana, rasa takut dan bingung bercampur menjadi satu.


"Apa kau ingin menjadi kekasih ku yang sesungguhnya." Alicia tak bisa menahan senyumnya. Ia mengangguk cepat.


"Apakah ini mimpi?" Pekik Alicia senang. Ia teramat senang dan menutup mulutnya dengan tangan. Rasa haru dan kagum bersamaan ia rasakan.


"Will you be my girlfriend?"


"Yes. I Will." Jawab Alicia pasti. Richard tersenyum tulus, ia berdiri dan menyimpan kedua tangannya diatas meja. Mendekatkan wajahnya pada Alicia melewati piring-piring kosong itu.


Alicia memejamkan matanya saat sesuatu menempel di bibirnya, gerakan ringan itu nampaknya hanya sebentar digantikan gerakan sedikit kasar yang bagai candu.


"Meja ini sangat menghalangi ku." Richard memisahkan jarak mereka terlebih dahulu. Tangannya terulur menunggu tangan Alicia menyambutnya.


"Sepertinya kita sudah membutuhkan kamar itu sekarang." Gumam Richard membuat Alicia merah padam.


Mereka berjalan menyusuri lorong dengan berbagai dekorasi dan lampu-lampu kecil yang indah. Sesampainya diujung lorong, Richard menempelkan key card di pintu besar berwarna putih.


Mata Alicia bersinar kagum saat melihat isi kamar yang luas itu, lampu mewah yang menggantung dan ranjang dengan taburan bunga diatasnya. Alicia hanya bisa menikmati pemandangan indah itu sebentar, karena saat pintu itu sudah menutup kembali Richard langsung menariknya kedalam pelukan. Insting Alicia langsung mengatakan apa yang dibutuhkan pria itu.


Alicia mengangkat wajahnya, sedikit berjinjit dan melahap kecil bibir Richard terlebih dahulu. Richard menangkup wajah Alicia dengan sedikit kasar, mendorong wanita itu kepintu dan memperdalam hal candu itu.


Richard menaikan sebelah kaki Alicia agar melingkar dibelakang tubuh Richard. Kini tangannya dengan leluasa mengelus bagian tubuh yang tersingkap dress itu. Richard semakin menghimpit Alicia, menekan tubuh bawahnya agar wanita itu merasakan betapa kerasnya Richard saat ini. Mulut mereka tak henti-hentinya saling melahap.


"Lepaskan kemeja ku." Alicia menurut, ia melepaskan kancing itu satu persatu dengan gerakan ragu. Tangan Richard semakin leluasa dibawah sana.


Richard menaikan kaki Alicia yang satunya lagi. Kini ia menggendong Alicia dan memindahkan tubuh ringan itu diatas ranjang. Melepas paksa jas dan kemejanya sendiri. Richard mulai menelusuri tubuh Alicia yang terbuka diatas ranjang. Meloloskan dengan ahli dress itu dari badan Alicia.


Hanya dua benda kecil yang kini tersisa, namun ia sudah tak bisa menahannya. Ia mengeluarkan kedua gundukan yang langsung ia lahap dengan cepat, awalnya lembut, namun kebutuhan yang mendesak membuatnya menjadi sedikit kasar.


Suara Alicia mulai memenuhi ruangan ini, bagaimana tidak? Saat tangan dan mulut Richard bergerak lincah dimasing-masing tempat sensitifnya.


"Please." Kata-kata itu lolos dari mulut Alicia. Ia sudah tak tahan dengan godaan Richard.


Seakan merasakan hal yang sama, Richard berdiri, melepaskan pakaian yang tersisa ditubuhnya. Alicia sedikit mengangkat tubuhnya saat Richard menarik lembut penutup terakhirnya.


"Uhh." Eluh Alicia saat Richard menekan dalam tubuhnya yang sudah sepenuhnya masuk.


°°°


Justin tersenyum menang, semprotan yang ia berikan dibahu wanita itu mulai bereaksi.


"Kau mengantuk?" Tanya Justin.


Jessy menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku hanya sedikit lelah sepertinya." Jessy kembali mencoba fokus dengan tulisannya, membuat kesimpulan perkembangan Justin diawal terapinya. Namun kepalanya semakin berat, ia tak bisa menahan kantuk yang ia rasakan.


"Hai!" Justin berdiri, ia juga sedikit terkejut dengan Jessy yang langsung tak sadarkan diri diatas meja.


"Kau tidur?" Justin memastikan kembali Jessy yang sudah terlelap. Senyumnya menjadi lebar saat Jessy benar-benar sudah tidur.


Dengan cepat Justin berlari kesebelah Jessy, membuka lebar laci yang sudah terbuka itu. Ia mencari nama Alicia dibeberapa kertas itu.


"Alicia." Gumam Justin sedikit bingung saat ada 2 nama dikertas yang berbeda. Justin membaca sekilas cerita yang ada dikertas itu.


Perceraian orangtua. Justin menggelengkan kepalanya, lalu matanya menangkap tulisan John dikertas yang satunya lagi.


"Aku mendapatkannya." Dengan cepat Justin mengeluarkan ponselnya, mengabadikan tulisan itu dengan gambar yang harus benar-benar jelas.


"Sebenarnya Alicia bercerita atau membuat cerpen." Gerutu Justin saat ia selesai memotret 5 halaman cerita itu. Memasukan kembali kertas dan bersiap kabur, namun harus memberikan sedikit hadiah perpisahan pada dokter jiwa ini.


Justin mengeluarkan sebuah coklat didalam sakunya dan meletakannya dengan rapi disebelah wanita itu. Ia tersenyum melihat tulisannya sendiri.


'Terimakasih atas kerja samanya.' Mungkin wanita itu akan bingung dan menganggap dirinya benar-benar gila.


Justin memperhatikan wajah cantik itu, pikiran jahilnya seketika memenuhi otaknya.


"Anggap saja ini hukuman untuk kelakuan mengesalkan mu." Gumam Justin yang masih kesal dengan usahanya yang sia-sia kemarin.


Justin menggendong Jessy yang sedikit berat baginya. Dengan sedikit bingung mencari letak kamar wanita itu, Justin langsung menyimpan tubuh Jessy diatas ranjang.


Senyum jahilnya semakin mengembang saat Justin melepaskan pakaian Jessy dan hanya menyisakan dua benda kecil. Ia menutup tubuh Jessy dengan selimut.


"Awas saja jika kau datang kerumah ku dan mengaku hamil." Mungkin ini keterlaluan bagi Jessy. Namun bagi Justin ini adalah hadiah perpisahan, lagipula ia tidak melakukan apa-apa.


Justin sudah menemukan jawaban yang tepat jika suatu saat nanti wanita itu marah.


'April Mop.' Itu yang dikatakan Justin nantinya. Mengingat hari ini bertepatan tanggal 1 April.


April Mop, dikenal dengan April Fools' Day dalam bahasa Inggris, diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun. Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Jadi Justin tak perlu merasa bersalah nantinya.


°°°


Thank you,


DHEA


IG: Dheanvta