
"Kenapa anakku menangis hah..apa kalian tidak memiliki obat agar anakku bisa berhenti menangis..jangan diam saja lakukan sesuatu.."
Saat ini Evan tengah kelabakan karena anaknya tiba-tiba menangis dengan kencang sedangkan Ana saat ini sedang perawatan ke salon karena perintahnya.
'Ya tuhan ampunilah dosaku..tuan Evan kenapa anda begitu panikan' batin salah seorang perawat yang bertugas menjaga anak Evan dan Ana.
'Astaga bisa gila aku berlama-lama di sini..tuan Evan anda kan ayahnya kenapa tidak bisa menggendong nya' jeritan hati salah seorang pelayan yang menemani perawat itu.
"Maaf tuan Evan coba anda gendong terlebih dahulu siapa tau bisa tenang baby nya..?"
"Apa kau bilang..anakku tengah menangis tapi kau menyuruhku untuk menggendongnya..kau ini perawat atau apa sih sebenarnya..harusnya kau tau kenapa anakku menangis bukannya menyarankan untuk di gendong hishhhh"
sungut Evan yang masih di landa kepanikan saat masih mendengar tangisan anaknya.
Di saat Evan tengah bersungut-sungut Ana kembali dan melihat suasana rumah begitu dingin dan tegang.. Ana bertanya pada salah satu pelayan.
"Bi ada apa ini kenapa suasananya mencekam sekali..?"
"Maaf nona..tuan sedang marah"
"Hah marah.. kenapa..?"
"Tadi tuan muda kecil menangis kencang dan tuan Evan bingung harus berbuat apa..tuan berteriak pada perawat dan pelayan yang ada si kamar untuk mencari solusi yang tepat menenangkan tuan muda kecil".
Ana tergelak mendengar itu..astaga bisa-bisanya Evan panik sendiri.. memanglah Evan maha benar..tiada duanya di dunia ini..biarkan saja dia berbuat sesukanya.
"Baiklah bi.. terimakasih sudah memberi kabar ini..saya ke kamar baby Nath dulu"
Ana melangkah menuju kamar baby Nath..dia melihat suasana kamar itu mencekam..dia melihat Evan tengah menenangkan baby Nath dengan cara menggendongnya.
Lihatlah gendongan nya bahkan sangat menakutkan di lihat mata..astaga bagaimana kalau baby Nath jatuh jika Evan menggendong nya begitu.
"Babe..you ok..?"
"Baby kau sudah pulang sayang.. bagaimana harimu menyenangkan..?"
"Of course babe..karena kau aku menikmati waktuku.. terimakasih"
Ana sebelumnya menyuruh para pelayan dan suster keluar dari kamar..dia kasihan melihat perawat dan pelayan yang selalu kena imbasnya ketika Evan sedang marah.
"It's ok baby..em..baby daritadi baby Nath menangis sebenarnya..aku tidak tau harus berbuat apa..sudah ku kasih susu tapi dia masih menangis.. popoknya juga masih kering..apa..em..apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit baby..aku hanya khawatir dengan baby Nath"
"Hey look at me babe.. everything it's ok..cobalah untuk menggendongnya dia juga ingin merasakan kehangatan dada Daddy nya..jangan panik babe..semuanya baik-baik saja"
"Benarkah.. tadi perawat juga berkata begitu tapi aku tidak memperdulikan kata-katanya..aku sangat panik melihat dan mendengar tangis baby Nath jadi pikiranku tidak fokus sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk menggendongnya dan dia diam baby..aku senang sekali.."
Ana tersenyum mendengarnya.. Evan sedikit demi sedikit bisa mengendalikan diri nya juga mau mengikuti saran orang lain..dia senang suaminya berubah.
"Itu bagus tapi kau harus banyak belajar lagi agar gendongan mu tidak seperti tadi..cobalah lebih rileks dan menikmati setiap waktumu bersama baby Nath babe..dia butuh kehangatan seorang ayah dan keutuhan keluarga"
"Iya baby aku akan berusaha lebih keras lagi.. terimakasih sudah bersabar dengan ku".