
Ana dan Evan tengah berada di kediaman Arguelo..mereka membawa serta pengacara tuan Johan.. Ana hanya duduk manis sedangkan Evan fokus dengan ponselnya menanti kabar dari salah seorang yang akan membuat rencana ini semakin lancar.
Sebelumnya....
"Frans retas kamera pengawas di kediaman Arguelo..oh satu lagi di sana ada beberapa kamera pengawas tersembunyi retas semua dan cari bukti yang bisa memberatkan wanita itu juga rekannya"
"Baik tuan..apa tidak sebaiknya tuan saja yang menghukum orang itu karena jika di berikan pada pihak berwajib takutnya ada yang menebusnya dan bebas anda tentu tau sendiri wanita macam apa dia kan..?" ucap Frans memberi saran.
"Ya aku tau..aku hanya ingin menguji pihak hukum saja..apakah mereka mampu berbuat keadilan ataukah mudah di suap menggunakan uang..kita lihat saja Frans"
"Baik tuan..akan saya lakukan "
Evan meminta orang suruhannya lebih tepatnya orang kepercayaan nya untuk meretas cctv di rumah tuan Johan..di kamar tuan Johan juga ada kamera pengawas dan itu Ana yang memasangnya..dia diam-diam memasangnya karena ingin mencari tau tentang kematian ibunya dulu.
Evan juga sudah memberi tahu Ana rencananya.. Ana setuju saja asalkan tidak membahayakan Evan saja dia tidak masalah.
Setelahnya.......
"Untuk apa kau kemari anak tak tau diri" ucap Natali.
"Untuk apa..kau tanya untuk apa.. hahahaha apakah kematian Daddy ku membuatmu hilang ingatan nenek sihir..?" ucap ana santai menjawab Natali.
"Sialan..aku masih ibu tirimu Ariana..sopanlah sedikit"
"Hahahaha..babe bolehkah aku tertawa hahaha"
Natali kesal melihat perlakuan Evan terhadap Ana dia jadi cemburu..dia juga ingin daun muda yang kaya seperti Evan..dia jadi menginginkan Evan.
Ana menyadari tatapan Natali pada Evan..dia tak suka..dia mengambil gelas minuman dan menyiram wajah Natali menggunakan air minumnya.
"Arkhhh apa-apaan kau..tidak sopan"
"Yang tidak sopan adalah matamu..kondisikan matamu nenek sihir sebelum aku congkel keluar bola matamu itu" sarkas Ana dengan kesal.
Evan tak peduli dengan tatapan Natali..dia mengelus Ana agar tidak terbawa emosi..dia tau Ana cemburu karena dirinya di tatap lapar oleh ibu tirinya sendiri.
"Hey tenanglah..aku masih suka daun muda daripada daun kering" jawab Evan sedikit keras.
'Sialan kenapa Ariana begitu beruntung bisa mendapatkan orang kaya yang tampan seperti tuan Revano itu..aku harus merebutnya ya harus' batin Natali.
"Tuan Evan dan nyonya Ariana serta nyonya Natali saya di sini sebagai pengacara tuan Johan ingin menyampaikan surat wasiat beliau..dimana dalam surat tersebut tertulis bahwa beliau hanya mempunyai satu pewaris tunggal yaitu nona Ariana...dan beliau juga berpesan untuk menyerahkan 90% harta kekayaan serta saham kedua perusahaan beliau pada nona Ariana..untuk nyonya Natali anda hanya mendapatkan 10% dari harta kekayaan tuan Johan juga 1 anak perusahaan di kota x..demikian saya sampaikan pada anda semua..surat ini resmi beliau tulis sehari sebelum kepergian nya.." ucap pengacara tuan Johan pada Evan.. Ana dan Natali.
Natali tidak terima dia hanya mendapat 10 persen saja..dia tak bisa menerimanya.
"Tidak..tidak bisa begini..saya yang merawat nya tapi kenapa dia yang mendapatkan bagian terbanyak..saya tidak terima ini..akan saya tuntut kalian atas kasus penipuan" teriak Natali marah.
Ana dan Evan beserta pengacara tuan Johan hanya menatap acuh saja..silahkan saja dia lapor pada pihak berwajib..toh surat itu juga resmi.