
Ana meninggalkan Riana yang sudah di obrak abrik oleh Ana..Ana tak peduli dengan Riana..toh bukan dia yang memulai duluan.
"Mengganggu saja..huh"
Ana pergi ke ruangan Evan..dia memegangi bahunya..sakit..dia tahan sebentar..dia tak ingin jadi pusat perhatian karyawan lain yang ada di sana.
Ana membuka pintu ruangan Evan sesaat setelah pintu berhasil di buka Ana jatuh terduduk sambil meringis..Evan kaget melihat Ana seperti itu..sudah kuduga pasti lukanya terbuka lagi.
"Ana..kau tak apa..ayo duduk di sofa.."
Evan mengangkat tubuh Ana menuju ke sofa..dia dudukan perlahan..Evan kembali ke mejanya dan mengambil gunting untuk membuka baju Ana.
"Bos kau mau apa..aku masih ingin hidup bos.."
Cetak......
"Aw..sshh..jahat sekali sih..?"
"Makanya jangan berpikir yang aneh-aneh..gadis bodoh.."
Ana hanya diam membiarkan Evan melakukan apapun..toh dia tak ada tenaga untuk melawan Evan saat ini..dia kesakitan...dia biarkan Evan mengobati lukanya lagi..Evan kembali menjahit luka Ana.
"Aw..bos sakit..pelan kenapa arkhhhhh..sialan" Ana Mengumpat tanpa peduli Evan di depannya..dia kesakitan saat jarum menembus kulitnya.
"Diam..aku sudah pelan..makannya jangan sok tangguh"
"Ishhhh..aku hanya membela diri saja memangnya salah..oh apa si karyawan itu pacarmu makannya kau memarahiku seperti ini iya ka....-"
Evan menyumbat bibir Ana dengan bibirnya..Ana terdiam bahkan terkejut mendapatkan serangan dadakan dari Evan.
"Sudah bisa diam kan..?" ucap Evan sambil membersihkan sisa saliva di bibir Ana.
Ana mengangguk patuh..dia tak ingin di cium lagi jika mengoceh kembali.
"Bos..?" panggil Ana lirih sambil menunduk.
"Kenapa..!"
"Ehm..apa..emm..apa kau sudah punya pacar..?"
Berhasil.. akhirnya kata-kata yang selama ini mengganggu pikirannya berhasil dia utarakan..lega rasanya.
"Masa..apa tidak ada orang yang kau sukai bos..?"
"Ada..kenapa..?"
Raut wajah Ana terlihat berubah saat Evan mengatakan bahwa dia punya seseorang yang dia sukai..kenapa rasanya dia patah hati ya.
"Tidak apa..ya sudah terimakasih..aku permisi pulang"
Ana hendak bangun dari sofa..namun tertahan oleh tangan Evan yang menahannya dan menariknya hingga Ana terjatuh di pelukan Evan.
Mereka saling tatap..tak berkedip..Ana terpesona akan ketampanan Evan..haruskah dia menyatakan perasaannya..tapi malu lah masa perempuan duluan.
"Kenapa hm..kau mau tau siapa orang yang aku sukai..?"
"Em..se.. sebenarnya..em...aku hanya penasaran bos"
Evan mencium bibir Ana lagi kali ini ciuman nya semakin dalam dan menuntut..Ana terbuai dengan bibir seksehh Evan..dia kalap..lupa segalanya..bibir Evan terlalu lembut untuk di biarkan.
"Kau semakin ganas saja.."
Wajah Ana merah merona mendengar entah pujian entah ejekan dari Evan..dia juga berpikir benar juga sih kata Evan..dia semakin nakal saja.
"Sudah sana makan dulu.."
"Suapi.."
"Ishhh..minta suapi dengan orang yang kau sukai saja"
Evan tersenyum mendengarnya..dia ingin sekali memakan Ana saat ini juga tapi dia harus tahan.. belum saatnya..sabar Evan.
"Ana..ayahmu akan menikahi kekasihnya..apa kau akan hadir..?"
"Apa....kau jangan bercanda..?"
Ana mencengkeram kerah kemeja Evan..dia marah kenapa Evan berkata seperti itu..mana mungkin ayahnya menikah tanpa memberitahu nya dulu.. apalagi dengan wanita ular itu.
"Aku serius Ana..lihatlah"
Ana meraih ponsel Evan..dia melihat undangan pernikahan atas nama Johan dan Natali..sakit..remuk..hancur..itulah definisi gambaran perasaan Ana.