
Ariana tersadar setelah hampir 1 jam setengah pingsan akibat terlalu drop.
Dia menelisik setiap sudut ruangan.
"Rumah sakit.. bukankah aku tadi di kamar.." gumamnya dalam hati.
Ariana hendak turun dari ranjang namun karena masih pusing alhasil tubuhnya terjatuh di lantai dingin rumah sakit..Evan mendengar sesuatu jatuh dia membuka mata dan terkejut mendapati Ariana terduduk di lantai ruangan itu.
Bruk.......
"Akhhssshhhh"
"Hey..apa yang kau lakukan.. dasar bodoh"
"Ishhh..marahnya nanti saja bos..aku ingin ke kamar mandi sudah tidak tahan"sahut Ana kesal sudah tidak tahan lagi.
"Ya baiklah"
Evan mengantar Ana ke kamar mandi..setelah beberapa saat Ana selesai dengan urusan nya..dia keluar dan mendapati bosnya masih di depan pintu kamar mandi.. benar-benar bos mesum..pikirnya.
"Astaga......bos Anda membuatku hampir jantungan hiiiiih"
Ana berjalan pelan dan duduk di sofa.. dia tidak betah di rumah sakit..ingin cepat pulang saja..dia rindu kasur empuk di rumah Evan.πππ
Evan duduk di sebelahnya..dia tatap gadis bodoh yang ada di sebelahnya.. cantik namun kadang garang tapi suka.. eleh modusnya.
"Kenapa bos..?"
"Tidak..maaf tadi aku mengaku sebagai suami mu di depan dadymu"
"Dia bukan dadymu..kami tidak memiliki hubungan lagi"
"Really..you sure"
"Ya..dan em..masalah bos mengaku sebagai suami ku.. sebenarnya aku ingin marah tapi ya sudahlah akhirnya bos juga menyelamatkan ku..jadi.. terimakasih bos atas bantuannya"
"Hahahha..tidak apa-apa..kau mau pulang..?"
"Mau tapi ke rumah bos..karena rumahku sekarang bersama bos "
"Sure.. let's go home"
Mereka berdua pulang..Ariana di tuntun Evan.. sebenarnya Ana sudah kuat jalan sendiri tapi karena bosnya keras kepala mau tidak mau dia menurut saja daripada di pecat.
Sampailah mereka di rumah..Evan mengangkat Ana dan membawanya masuk ke kamarnya bukan kamar Ana..awalnya Ana protes tapi lagi-lagi dia bungkam karena ancaman kampret dari si bos posesif.
"Ishhh kenapa di kamarmu sih bos..kan aku punya kamar sendiri.. sebel" Ana mencebikkan bibirnya karena kesal bosnya semaunya sendiri.
"Sudah diam saja..atau mau ku pecat"
"Ishhhh curang kan mainnya..tau ah" Ana merebahkan tubuhnya di kasur dan menarik selimut dia lelah ingin tidur..sejenak sikap bosnya membuatnya melupakan kekesalannya dnansakit di hatinya akibat sang ayah.
"Selamat tidur gadis bodoh..lupakan semua nya..aku akan membantumu untuk melupakan semua rasa sakitmu"
Evan berjalan ke arah kamar yang ada di ujung lantai paling atas..dia masuk dan mendekati sebuah figura yang terpasang di dinding kamar itu.
Perlahan Evan membuka laci meja di depannya..dia ambil pisau yang ada di sana..dia arahkan pisau itu pada foto yang ada di dinding kamar itu.. dia sayat-sayat foto itu hingga robek tak berbentuk lagi.
Evan sudah puas melampiaskan kemarahannya pada foto sang ibu..ya Evan di biarkan sejak kematian ayahnya..dia di tinggalkan oleh ibunya pada baby sitter..ibunya ntah kemana sekarang..hidup atau mati dia tidak peduli.
"Aku semakin membencimu.."
Evan tersenyum melihat foto yang sudah terkoyak itu..dia teringat kesakitan nya ketika melihat Ana di perlakukan begitu oleh orang tuanya sendiri.. dia teringat akan dirinya sendiri di masa-masa itu..sakit..begitu sulit melupakan..begitu sulit menyembuhkan luka di hatinya.
"Aku akan membuatmu bahagia Ana..aku berjanji tidak akan ku biarkan satu orang pun melukaimu lagi..aku janji.."
Evan pergi dari kamar yang sudah berantakan..dia kembali ke mode hangat setelah mode kejamnya dia lampiaskan pada foto sang ibu.
Di sisi lain tepatnya di sebuah apartemen yang terbilang cukup mewah.. seorang perempuan paruh baya menatap ke luar jendela kamarnya..dia teringat akan sesuatu..dia rindu tapi ego lebih besar..dia diam selama bertahun-tahun lamanya dengan ego keras di kepala dan hatinya.
"Mom rindu denganmu Vano.."
Wanita itu hidup dengan suami barunya setelah 2x gagal berumahtangga..dia hanya memiliki satu anak yaitu Vano-nya..dia tak ingin memiliki anak lagi dari pria lain..cukup dengan mantan suaminya yang sudah tiada.
"Sayang..kau sedang apa..?"
"Jo..kau sudah pulang..?"
"Aku baru pulang sayang..kau sedang ap di sini..?"
"Biasa Jo..aku hanya rindu padanya.."
"Kau mau menemuinya..jika iya ayo kita temui anak kita"
"Tidak usah sayang.. tunggulah sebentar lagi"
"Baiklah terserah kau saja..istirahatlah jangan terlalu lelah ingat pesan dokter sayang"
Wanita itu tersenyum..suaminya begitu perhatian padanya..dia semakin sayang pada suaminya.
"Terimakasih sayang.."
"Sama-sama sayang.. ayo"
Mereka menuju kamarnya..mereka beristirahat karena lelah..walau sudah tidak lagi muda namun keromantisan mereka masih tetap terjaga hingga kini.
Wanita itu adalah Sarah ibu dari Evan..dia pergi meninggalkan Evan kecil karena menganggap Evan penyebab kematian suaminya yaitu Jade..dia melihat suaminya tertabrak mobil saat menyelamatkan Evan sewaktu mereka bermain bola.
Sejak saat itu dia berubah kejam dan dingin pada Evan..dia pergi untuk melupakan kesedihannya tapi dia lupa kodratnya sebagai seorang ibu..dia telah menyakiti perasaan dan mental anaknya sendiri.