
"Now it's your turn me.morgan.."Evan melirik tajam ke arah Morgan yang sudah terlihat ketakutan.
Evan menyuruh anak buahnya untuk menyeret paksa si tua Bangka Morgan..Evan hanya duduk diam di kursi menikmati 2 anjingnya tengh menyantap tubuh orang yang sudah menembak Ana.
"Hallo Mr Morgan..apa kau sudah tidak sabar bertemu tuhan hahahaha" Evan tertawa melihat wajah Mr Morgan yang sudah ketakutan.
"Ampun tuan Evan..ampuni aku..aku khilaf tuan Evan.." Mr Morgan berkilah agar Evan tidak menghabisi nya seperti orang suruhannya.
"Mengampuni mu..ckckck...jangan mimpi Mr Morgan hahahaha..aku sangatlah bahagia melihat mangsaku ketakutan..rasanya seperti jatuh cinta hahahahah"
Tawa Evan terdengar mengerikan di telinga..Mr Morgan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah akan nasibnya..toh ini resikonya jika berani mengganggu ketenangan Evan .
"Ambilkan aku pisau kesayanganku" titah Evan pada anak buahnya.
Anak buah Evan mengambilkan sebilah pisau yang benar-benar mengkilap.. menyilaukan mata.. sepertinya habis di asah itu pisau.
"Terimalah takdirmu Mr Morgan"
Srett......
crash......
Evan menyayat leher Mr Morgan..setelah itu dia mencongkel bola matanya,lidahnya kemudian mengoyak wajahnya hingga hancur tak terbentuk lagi.
Mr Morgan tewas seketika saat pisau itu menyayat leher nya..Evan mengiris kepala Mr Morgan kemudian mengikuti kulit kepalanya..setelah itu Evan membuang sisa kepalanya untuk 2 anjing peliharaan nya.
"Habiskan boy masih banyak..jangan berebut ya anak pintar.." Evan tersenyum devil melihat bagian tubuh Mr Morgan di lahap habis oleh anjing peliharaan nya.
*
*
*
Di rumah sakit Ana sudah bosan karena hanya tiduran di atas ranjang saja..dia berniat ingin turun dari ranjang namun naas tangannya belum sempurna bisa menopang berat tubuh nya..Ana jatuh hingga kepalanya terbentur lantai rumah sakit.
Pengawal di luar mendengar suara dari dalam tanpa pikir panjang para pengawal itu membuka pintu..ketukan pertama nihil..kedua masih sama..hingga ketiga mer ka tak bisa diam lagi..mereka membuka pintu dan terkejut karena Ana sudah tergeletak di lantai dengan bahunya yang mengeluarkan darah.
"Nona Ana.. Astaga.. bagaimana ini..cepat hubungi tuan segera..kau bawa dokter kemari untuk segera menangani nona Ana cepat"
Pengawal Evan kemudian mengangkat Ana ke atas ranjang lagi..banyak darah di lantai ruangan itu..mereka was-was bagaimana menjelaskannya nanti pada tuannya.
Dokter datang dan segera memeriksa keadaan Ana..dokter itu juga tampak gemetaran.. bagaimana nanti menjelaskan pada Evan tentang insiden ini.
Pengawal itu sudah memberitahukan kepada Evan tentang keadaan Ana..Evan murka tentu saja..lihat nanti saat dia datang habis semuanya.
"Tidak ada sejak tuan Evan pergi.."
"Astaga..habis sudah"
"Sebaiknya anda menjelaskan semuanyapada tuan Evan..kami tidak berani melangkah lebih jauh lagi karena itu tanggung jawab Anda sebagai dokter nona Ana"
Dokter itu semakin gemetaran..sialan padahal dia sudah mengutus seorang suster untuk menemani pasien..tapi malah suster itu ntah dimana dia juga tidak tau..habislah kau.
Akhirnya mereka memilih pergi dari ruangan Ana untuk menenangkan hati nya yang tengh was-was.
Sementara itu Evan telah selesai dengan pertunjukannya..dia hendak bangkit namun ponselnya berbunyi..tanpa pikir panjang dia mengangkatnya.
"Ada apa..?"
"Tuan maaf mengganggu waktunya..nona jatuh dari ranjang tuan"
"Apa..dasar bodoh"
Evan langsung memutuskan panggilan sepihak..dia berlari keluar ruangan itu dan menuju mobil nya..dia begitu panik saat mengetahui gadisnya terjatuh..kenapa Ana bisa jatuh..apa tidak ada yang menjaganya..padahal dia sudah meminta salah satu suster untuk menemani nya di dalam..sialan..akan dia habisi semuanya.
Dengan kecepatan tinggi Evan akhirnya sampai di rumah sakit..dia segera berlari ke kamar Ana..terlihat 2 bodyguard nya tengh bersiaga di depan pintu kamar Ana..
Bugh...
Bugh....
"dasar bodoh...aku minta kalian menjaganya kenapa bisa seperti itu hah.."
"Maaf tuan saat anda kekuar kami hanya di luar berjaga-jaga kami tidak tau jika nona akan jatuh kami juga tidak berani masuk tanpa seijin anda"
"Lalu dimana suster yang menjaganya"
" Maaf tuan sedari anda peegi belum ada satupun suster yang menjaga nona..nona hanya sendirian di ruangannya"
"Sialan..brengsek..panggil dokter yang menangani Ana.. juga ga bawa Suter yang bertugas menjaga Ana"
"Baik tuan"
Evan masuk ke ruangan Ana..dia melihat gadisnya kembali terpejam sungguh ada rasa sakit di dadanya.. bodoh nya dia meninggalkan gadisnya sendirian di ruangan ini.
"Ana.. maafkan aku..aku bersalah.. ma-maaf"