
Hari berganti..kandungan Ana semakin membesar..usianya sudah memasuki bulan ke 4..Evan tambah posesif dan protektif terhadap segala sesuatunya yang menyangkut Ana.
Evan sebenarnya tak ingin ke kantor tapi gara-gara meeting sialan yang penting dia harus meninggalkan Ana di rumah bersama para pelayan dan juga penjaga rumah saja.
"Babe ini sudah siang berangkatlah..aku dan anak kita tidak apa-apa"
"Tapi aku masih ingin bersamamu baby..".
"Hishhh sudah berangkat sana...kau tak mau aku melukis wajahmu lagi kan..?"
Evan seketika langsung berdiri tegap seraya berpamitan..dia teringat bagaimana lincahnya tangan Ana melukis wajahnya menggunakan alat make up nya.
"Ekhem..aku berangkat ya..kau jangan nakal..anak Dady..Dady berangkat dulu ya..jika momy nakal tendang saja "
Plak.......
Satu pukulan mendarat di lengan Evan.. bisa-bisanya dia mengajarkan hal nakal pada anak yang masih dalam kandungan.
"Jangan meracuni anakku..".
"Haha.. baiklah aku berangkat ya hati-hati"
"Iya babe"
Evan berangkat menuju kantor.. Ana kembali ke ruang tamu..dia menonton TV sambil nyemil.. akhir-akhir ini dia suka nyemil dan bermalas-malasan.
"Nak kau senang jika momy seperti babi makan tidur tidak ada kegiatan lain hm..?"
"Baiklah ayo kita lakukan tugas sehari-hari kita..makan tidur terus sampai melar haha"
Ana memposisikan dirinya agar nyaman..para pelayan tidak ada yang berani mengusik karena dia tau sang tuan pasti akan mengamuk jika mengusik ketenangan istrinya.
Skip.......
Janet kembali ke rumah Evan..dia akan membuat perhitungan dengan Ana..dia geram karena bisa-bisanya Evan lebih menurut pada Ana daripada ibunya.
Sampailah dia di depan rumah Evan..pengawal mencegat Janet..Janet geram dia akhirnya meminta pengawal itu untuk memanggil Ana..dia mau bicara dengan Ana.
"Panggilkan perempuan murahan itu.. cepat"
Para pengawal diam..bukannya mereka tak tau siapa yang di maksud tapi tidak sopan saja menyebut nyonya muda mereka begitu.
"Hey kalian tuli..cepat panggilan dia kesini..aku ingin bicara"
"Maaf tidak ada wanita murahan selain anda di sini" jawab salah satu pengawal itu santai.
Janet mendelik tak suka..dia kesal akhirnya dia mengalah.
Pengawal itu memanggil Ana.. Ana datang dengan wajah kusutnya karena sehabis bangun tidur..dia tak peduli cibiran Janet yang penting dia senang.
"Hoammm..mengganggu saja..ada apa sih..?"
"Hey perempuan murahan..aku ingin bicara dengan mu suruh mereka pergi"
"Huhh..kau siapa..majikanku..bosku..atau nyonya rumah ini..berani sekali menyuruhku..jika mau bicara..bicaralah jangan bertele-tele"
"Aku ingin bicara berdua denganmu cepatlah usir mereka"
"Ya sudah jika tidak mau..aku mau masuk ngantuk"
"Eh tunggu.. baiklah"
"Cepatlah kau membuat moodku hancur"
"Tinggalkan Evan..akan ku berikan berapapun yang kau inginkan.."
Ana hanya tertawa.. jauh-jauh ke sini hanya untuk bicara begitu.. benar-benar membuang waktunya saja.
"Kau hanya ingin bicara begitu..?"
"Ya..sebutkan berapa yang kau mau..akan ku berikan"
"Kau yakin mampu memberikan berapapun yang ku mau..?"
Janet tersenyum..benar dugaannya..wanita itu hanya peduli dengan uang..kenapa tidak dari kemarin saja dia tawarkan uang yang banyak pada Ana.
"Ya sebutkan"
"Baiklah..aku mau nyawamu.. bagaimana..?"
"A..apa..kau..kau jangan main-main"
"Tidak, aku serius..berikan nyawamu maka akan ku tinggalkan Evan"
Ana meminta pistol penjaga gerbang itu..dia arahkan pada Janet..dia sudah hancur moodnya..tidurnya terganggu sekarang dia butuh pelampiasan.
"Kau mau aku meninggalkan Evan kan..maka berikan nyawamu maka aku akan tinggalkan dia.. bagaimana setuju..hahahha kau pikir aku wanita lemah yang akan mengalah oleh wanita semacam kau..jangan salah mengira nona..aku bisa Membunuhmu sekarang juga jika aku mau tapi aku tak mau melakukan hal bodoh itu dengan mengotori tangan ku..aku akan berikan sedikit hadiah kecil untukmu terimalah"
DOR.......
Ana menembak lengan Janet.. Janet tak menyangka Ana bisa nekat melakukan itu..dia salah mengira Ana wanita lemah.. sebaiknya dia mundur dulu untuk sementara waktu.