
Tak terasa usia kandungan Ana sudah memasuki 3 bulan..Evan semakin protektif dan posesif terhadap Ana.. Ana juga menurut saja toh ini demi kebaikan nya dan juga anaknya.
"Baby aku ke kantor dulu ya..kau jangan nakal..jadilah ibu yang baik dan bijak hm..?"
"Iya babe.. hati-hati pulang bawakan bronis pelangi ya"
"Hah..bronis pelangi..memang ada..?"
"Ada kalau kau minta pada penjualnya.. aku tidak mau tau pokoknya harus bawa bronis pelangi"
"Baiklah.. baiklah..nanti aku bawakan..aku pergi ya..anak Dady Dady berangkat ya..jangan nakal".
Evan menuju kantor di antar sang supir.. Ana kembali ke kamarnya..dia mengantuk kehamilannya membuatnya semakin kebo..makan tidur terus.
Di tempat lain mama Evan begitu risau karena wanita yang dia pilih untuk mendekati Evan malah hilang tidak ada kabar entah kemana.
"Perempuan bodoh itu kemana lagi..kenapa tidak ada kabar.. seperti nya aku harus bertindak sendiri"
Mana Evan menuju kediaman Evan..dia akan memberikan peringatan pada Ana..dia tak ingin Evan di peralat oleh gadis belia yang masih labil.
Sampailah mama Evan di rumah Evan..dia masuk dan di sambut oleh para pelayan..kepala pelayan yang setia pada Evan merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang tua tuannya.
"Seperti nya aku harus menghubungi tuan Evan..aku tak mau ambil resiko sekecil apapun"
Kepala pelayan itu menghubungi Evan setelah selesai dia menyiapkan minuman dan cemilan untuk ibu tuannya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan gadis itu.. panggilkan dia" ucap mama Evan dengan nada tidak bersahabat.
"Baik nyonya besar"
Kepala pelayan itu memanggil Ana..dia akan berdiri di samping istri tuannya..apapun yang akan terjadi nanti dia akan pasang badan untuk melindungi Ana dan calon penerus Evan.
"Nyonya Ana..anda di tunggu ibu mertua Anda.."
"Ibu mertua..mama Evan..?"
"Iya nyonya..mari"
"Baiklah.."
Ana sudah kehilangan mood nya..dia tadi sedang asik menonton kartun tapi kesenangan nya di ganggu hancurlah sudah moodnya.
"Cih.. langsung saja..berapa yang kau inginkan..aku akan berikan jumlah yang cukup banyak untukmu asalkan kau mau meninggalkan Evan..jangan memoroti nya" ucap mama Evan gamblang.
Ana mengernyitkan dahi dia tak salah dengar..ingin rasanya dia memaki orang tua di hadapannya itu tapi dia masih punya batas sopan santun.
"Maaf nyonya tapi apa hak anda mengatakan seperti itu..?" tanya Ana memancingnya.
Mama Evan tersinggung dia mengambil air di atas meja dan menumpahkan pada Ana..ana sempat merasakan panas di kulitnya..di terkejut dengan tindakan mama Evan yang tiba-tiba.
"Nyonya Ana.. anda baik-baik saja..astaga kulit anda merah nyonya.." ucap kepala pelayan itu.
"Tidak apa-apa bi..tolong ambilkan handuk saja" ucap Ana lembut.
"Dasar perempuan murahan..aku sudah memperingatkan mu sebelumnya..jauhi anakku..kau tak pantas untuknya..aku sudah mencarikan wanita berpendidikan untuknya" geram mama Evan.
Ana hanya diam..dia berusaha tenang..dia tak mau anaknya kenapa-kenapa..dia tak mau terpancing emosi..biarkan saja si lampir berteriak-teriak.
"Sudah nyonya..kalau begitu saya juga tekankan pada anda..SAYA MENCINTAI REVANO JULIAN DRAXLER PUTRA YANG ANDA BUANG DAN CAMPAKKAN SEDARI DIA KECIL KARENA KESALAHAN YANG BUKAN DIA PENYEBABNYA..saya harap anda paham posisi anda di mata Evan..jika anda ingin saya meninggalkan Evan maka jawabannya adalah TIDAK AKAN selama Evan tidak menyuruh saya untuk pergi maka saya tetap akan setia di samping nya..apa anda sudah paham nyonya George"
Mama Evan geram..dia tersentil dengan ucapan Ana..dia memang tidak memiliki posisi di mata Evan..karena saat ini Evan sangat membencinya.
Di saat mereka tengah bersitegang tiba-tiba sebuah vas bunga melayang hingga mengenai punggung mama Evan.
Semua terkejut dengan tindakan Evan..Ana seakan tau jika sisi lain Evan tengah mengambil alih tubuhnya..dia mendekati Evan dan merengkuhnya.
"BERANI SEKALI KAU DATANG DAN MENGUSIK KETENANGAN KELUARGA KU HAH..KAU SIAPA..KURANG AJAR AKU AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG JUGA NYONYA GEORGE" teriak Evan.
Ana memeluk Evan erat dia menenangkan Evan yang sedang di bakar emosi.
"Babe sssttt tenang lah..jangan begini..ingat anak kita..kau tak ingin dia kenapa-kenapa kan..tenang ya"
Ana membawa tangan Evan ke perutnya..Evan seketika langsung kembali normal lagi..dia elus perut Ana yang sudah sedikit buncit.
"Maafkan aku baby..maaf..maafkan Dady sayang..maaf ya Dady lepas kendali " ucap Evan lembut mencium Ana.
Mama Evan tak bisa menahan rasa terkejutnya..dia tak menyangka Evan bisa menjadi kasar padanya jika menyangkut Ana..apakah dia sudah salah selama ini.
"Lebih baik kau pergi dari sini..kau sudah di luar batasanmu nyonya George..aku ingatkan sekali lagi jika kau masih mengusik ketenangan keluarga ku maka saat itu juga aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri..camkan itu"
Evan membawa Ana naik ke atas setelah menyuruh orang untuk menyeret mamanya keluar dari rumah.