
Evan dan Ana kembali ke bawah dan menemui tamunya..Evan menggenggam tangan Ana erat..dia tak ingin terbawa emosi lagi jika melihat wajah orang yang telah melahirkannya.
"Vano.." ucap mama Evan seraya berdiri namun tertahan oleh Evan yang mengangkat tangan tanda berhenti.
"Jangan panggil nama itu lagi nyonya..saya muak"
"Babe..sudahlah" bisik Ana pada Evan.
"Revano..apa kabar..?" ucap ayah sambung Evan.
"Baik tuan George yang terhormat"
Evan dan Ana duduk berhadapan dengan tamunya..suasana hening..mama Evan sebenarnya ingin sekali memeluk anaknya namun sudah pasti Evan akan menolak nya.
"Evan..panggil saya Evan karena nama saya adalah Evan dan bukan Vano" ucap Evan memberitahu.
"Evan..bolehkah mommy memelukmu nak..?"
"Mommy...siapa mommy..saya tidak punya mommy.."
"Babe..please jangan begini"
"Yang ku katakan benar baby..mommyku sudah mati sejak aku di tinggalkan begitu saja olehnya..maaf babe aku tidak bisa menurut padamu untuk saat ini karena hatiku benar-benar sakit melihat dia kembali menampakkan wajah nya di hadapanku setelah dia menorehkan luka yang begitu dalam padaku"
Ana mengerti dia tak memaksa Evan untuk menerima orangtuanya dulu..di memegang tangan Evan dan mengusap-usap punggung tangan Evan agar Evan sedikit tenang.
"Baiklah tapi setidaknya bicara lebih baik sedikit jadilah contoh pada anak kita kelak..kau mau kan..?"
"Baiklah..aku mencintaimu Ana"
"Aku juga"
Sementara itu mama Evan hanya melihat dan mengamati setiap gerak gerik Evan dan Ana..ada hubungan apa mereka sebenarnya.
"Evan..maafkan mommy nak..maafkan mommy"
Evan hanya diam tak merespon..dia bodo amat luka di hatinya sudah mendarah daging tak bisa semudah itu memaafkan..Evan memilih pergi dari sana dan menenangkan diri.
"Tidak apa-apa nak..kami permisi dulu" ucap tuan George pamit pada Ana.
"Ayo sayang lain kali saja" tuan George mengajak istrinya untuk pergi dulu dan kembali lain waktu.
"Sebentar sayang aku ingin bicara dengan perempuan itu"
"Jangan menambah masalah sayang..ingat Evan masih sangat marah"
"Aku tau ..tunggulah di mobil"
"Baiklah..cepatlah jangan terlalu lama"
"Ya.."
Tuan George masuk kedalam mobil.. sementara mama Evan menghampiri Ana dan mengajak bicara sebentar.
"Bisa kita bicara sebentar..?"
"Ya..duduklah"
"Tidak perlu..saya hanya sebentar"
"Silahkan"
"Saya ingatkan padamu..jangan pernah gunakan tubuhmu untuk menggoda anak saya..walau saya dan anak saya masih belum berdamai tapi saya tetap ada hak untuk memperingati mu..jangan pernah memanfaatkan kekuasaan Evan hanya untuk memoroti hartanya dan mempermainkan perasaan nya..jangan sakiti anak saya karena saya tidak akan tinggal diam jika hal itu terjadi..saya tidak tau hubungan apa yang kalian miliki tapi saya peringatkan padamu jangan coba-coba melakukan hal bodoh dan murahan"
Ana hanya diam mendengarkan ocehan mama Evan..dia mah bodo amat toh bukan mama Evan yang yang dia nikahi melainkan Evan sendiri..dan apa dia bilang menyakiti perasaan Evan hahaha bukannya dia sendiri yang berbuat seperti itu..lucu sekali"
"Ya..saya mengerti nyonya George"
Mama Evan pergi meninggalkan Ana dengan tatapan tak suka..dia akan mencarikan perempuan yang lebih matang untuk Evan nanti..dia tak ingin Evan hanya di anggap ATM berjalan bagi gadis itu.
Ternyata sedari tadi Evan mendengar percakapan keduanya..Evan sungguh geram ingin sekali dia mengamuk tapi dia tak bisa berbuat apapun karena bagaimanapun juga orang itu adalah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
"Apa yang kalian bicarakan..?"