
Evan duduk di sofa ruangan Ariana..dia duduk dengan tenang sambil menatap Ariana yang masih memejamkan matanya.
"Kau bisa bangun sekarang..mereka sudah pergi" suara dingin Evan berhasil membuat Ariana membuka matanya.
Ariana hanya pura-pura masih pingsan agar tak di tanya macam-macam oleh dokter yang menanganinya.
"Anda siapa..em..apa anda yang membawa saya ke sini..?" tanya Ariana sopan walau dia bar-bar tapi juga mempunyai sopan santun.
"Ya..kau hampir mati ku tabrak jika aku tak mengerem"
"Ahh..maaf..dan terimakasih sudah membantu saya"
"Ya"
Ariana diam..Evan juga diam..mereka sama-sama diam..mungkin sedang lomba diam-diaman.
Tak berapa lama Ariana hendak melepas selang infus yang menancap di punggung tangan nya tapi di tahan oleh suara dingin Evan.
"Mau apa..?"
"Ehm..saya sudah baik-baik saja jadi saya akan pulang.. terimakasih atas bantuannya sekali lagi"
Ariana benar-benar melepas infusnya..seketika darah dari bekas infus pun keluar dan menetes.
"Dasar bodoh..diam atau aku akan membunuhmu" ucap Evan dengan raut muka garang.
Walau Ariana kadang juga garang tapi ketika melihat Evan seperti itu Ariana juga takut lah..seperti monster.
Tak berapa lama dokter datang dan kembali memasang infusnya..Ariana sebenarnya sudah tidak betah di rumah sakit karena pasti biayanya mahal apalagi dia tak membawa uang..matilah kau Ana.
"Em..tuan...saya ingin...-"
"Diam"
"Ishhh..aku hanya ingin pulang saja kenapa anda begitu menyebalkan sih huh"
Evan menatap Ariana lekat..berani sekali gadis kecil sepertinya memarahiku.
"Kau mau pulang..?"tanya Evan dengan senyum mengerikan.
"Tidak jadi tuan.. selamat tidur"
Evan tersenyum mendengar itu..dia duduk dengan tenang sambil memejamkan matanya dan bersandar di sofa.
***********
Di rumah Ariana..papah Ariana kelimpungan mencari keberadaan putrinya yang benar-benar membuatnya darah tinggi.
"Apa kalian tidak melihat Ana.."
"Tidak tuan..tadi terakhir saya lihat masih di kamar tuan"
"Huh..kemana lagi bocah itu..apa ku kirim ke luar negeri saja seperti saran Natali"
Ya kekasih tuan Johan perlahan menghasut nya untuk mengirim Ariana ke asrama yang ada di luar negeri..dia berdalih untuk kebaikan putrinya..padahal demi kelancaran misinya.
Tuan Johan benar-benar sudah terhasut oleh mulut manis Natali kekasihnya.setelah Ariana pulang dia akan membicarakannya dengan Ariana.
"Tidak ada cara lain.. sepertinya aku benar-benar harus mengirimnya ke asrama itu"
Tuan Johan memesankan tiket pesawat serta menghubungi pihak asrama yang akan Ariana tempati nanti..jadwalnya benar-benar mepet..tuan Johan memilih 3 hari lagi setelah hari ini.
Malamoun tiba Ariana terbangun karena perutnya berbunyi..dia lapar..sedari pagi belum makan..aduh habislah kau Ana.
Ariana perlahan mencabut selang infus nya karena sudah habis..dia ke kamar mandi tapi karena lemas akhirnya Ariana jatuh..Evan mendengar suara seperti barang atau sesuatu yang jatuh dia membuka matanya dan menemukan Ariana tengh duduk di lantai memegangi kepalanya.
"Hey..kenapa kau susah sekali di beri tau"
"Hey tuan jika anda ingin marah nanti saja..kepalaku sakit..perutku lapar..dan aku ingin pipis..bisa kau bantu aku ke kamar mandi "
"Ya"
Evan mengangkat tubuh Ariana..Ariana terkejut langsung mengalungkan lengannya ke leher Evan.
Deg..deg..deg....
Jantung keduanya berdetak lebih cepat ntahlah gugup atau perasaan lain hanya mereka dan tuhan yang tau.