
Ana berada di kantor Evan..dia sedang makan cemilan favoritnya..dia hanya duduk sambil rebahan di sofa empuk yang Evan siapkan khusus untuk Ana.
Evan tak tanggung-tanggung dia memesan sofa itu..dia bahkan langsung menuju pabrik nya..dia ingin kualitas dan bahan yang di gunakan itu tidak kaleng-kaleng.
"Babe apa aku jelek..?"
"Hm.. maksud nya..?"
"Apa aku tidak cantik lagi babe..?"
"Siapa bilang sayang..!"
"Karyawan mu melihatku dengan tatapan tidak suka..apa aku begitu jelek babe..?"
"Astaga sayang..aku kira apa..sudah tidak usah di pikirkan..kau tetap cantik dan semakin seksi menurut ku"
"Benarkah..?"
"Tentu sayang..sudah makanlah aku mau menyelesaikan pekerjaan ku dulu oke"
"Hmm"
Evan melanjutkan pekerjaannya.. Ana bosan dia beranjak dari sofa empuk itu..dia ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Di saat Evan masih serius dengan pekerjaannya..pintu ruangan Evan di buka oleh seseorang..orang itu masuk dan duduk di hadapan Evan.
Evan menyadari ada yang masuk ke ruangannya..dia mendongak dan melihat seorang wanita yang sangat dia benci tengah duduk di hadapan.
"Mau apa kau..?"
"Evan..mommy merindukanmu nak"
"Cih..siapa yang kau sebut nak..?"
"Evan maafkan mommy..mommy hanya ingin yang terbaik untuk mu..tolong mengerti mommy nak"
"Kau siapa..?"
"Evan..tega sekali kau tidak mengakui mommy..mommy menyesal Evan..maafkan mommy"
"Pergi"
"Evan..jangan begitu nak"
"PERGI"
"Babe..astaga.. stop babe"
Evan tidak mendengarkan Ana..dia terus mencekik mamanya dengan luapan emosi nya.. Ana sangat kesal dengan mama Evan yang selalu saja membuat Evan mengeluarkan sisi lain nya.
"Babe ingat anak kita..kumohon"
Ana membawa satu tangan Evan ke perut buncitnya..Evan tersadar..dia menghentikan aksinya..dia menatap Ana..dia memeluk Ana dengan erat tanpa melukai anaknya.
"Maaf.. maaafkan aku baby"
"Tidak apa-apa.. tenanglah"
"Sebaiknya kau pergi sebelum aku benar-benar membunuhmu.."
Mama Evan masih tidak bergeming..dia masih kekeh ingin membuat Evan dekat dengannya.
"Evan....-"
"Nyonya sebaiknya anda keluar dulu..saya tidak mau Evan menyakiti anda lebih jauh lagi.." ucap Ana memberanikan diri.
"Siapa kamu berani sekali kau menyuruhku untuk keluar hah..?"
Evan tersulut emosi lagi..dia tak terima Ana di bentak oleh wanita tua itu..dia hendak menendang wanita tua itu tapi segera di tenangkan Ana.
"Sudah babe.. tenangkan dirimu..kasihan anak kita"
"Huhhh.. huhhh..dengar nyonya George..saya tidak ada hubungan apapun dengan anda jadi sebaiknya anda jangan melewati batas anda.. beruntung istri saya mencegah saya untuk tak membunuhmu..jika tidak maka sudah bisa di pastikan saya sudah membunuhmu sejak dulu.. Pergi dan jangan muncul lagi di hadapanku"
Mama Evan memilih keluar..dia takut melihat sorot mata membunuh Evan..dia tak menyangka perbuatannya dulu malah membuat dia kehilangan sosok yang begitu dia rindukan selama ini.
"Duduklah..aku ambilkan air ya..?"
"Tidak perlu baby...peluk aku saja"
"Baiklah..sesuai keinginan mu Daddy"
Evan memeluk Ana..dia hirup aroma khas Ana..tenang..setiap kali dia mencium aroma Ana dia selalu tenang..emosinya hilang menguap di udara.
"Terimakasih kau sudah menerima kekurangan ku baby..maaf belum bisa menjadi suami yang baik"
"Apa yang kau bicarakan babe..kau adalah suami terbaikku dan Daddy terbaik untuk anak kita..kau adalah sosok pria tangguh dan kuat..aku bangga padamu"
"Terimakasih"