
Sesuai dugaan Evan..Ana begitu syok..tubuh Ana tiba-tiba lemas..dia limbung Evan dengan sigap menangkap tubuh Ana.
"Hey kendalikan dirimu Ana..jangan seperti ini"
"Aku..a..aku..hiks"
"Ssstt sudah tidak usah di pikirkan..ada aku di sini"
Ana menatap mata Evan..Ana terpesona dengan keindahan mata Evan..begitu tenang..nyaman saat bersama pria ini.
"Terimakasih hiks.. terimaskaih sudah menerimaku "
"Apa yang kau katakan..sudah tidak apa-apa..lebih baik kita pulang saja"
Ana mengangguk..dia sudah kehilangan moodnya..niatnya ingin menemani Evan eh ini malah dapat kabar mengejutkan.
Di sepanjang perjalanan Ana hanya diam..dia masih syok.. bagaimana mungkin ayahnya setega itu padanya..Ana juga masih anaknya apakah dia menganggap Ana sudah tiada.. benar-benar menjengkelkan.
Sampailah mereka di kediaman Evan..Ana keluar dari mobil dan di susul Evan..Ana ke kamarnya dia ingin menenangkan diri dulu..dia ingat di rumah Evan ada berbagai macam peralatan gym..dia butuh pelampiasan.
"Aku butuh pelampiasan emosi.. baiklah aku akan memukul samsak Samapi jebol..sialan..."
Ana menuju ruangan gym..dia langsung bersiap setelah ganti pakaian dia mendekati samsak dan.
Bukhh..bukh...bukh..
Ana memukul samsak tanpa sarung tangan atau apapun..hanya tangan kosong.. Ana butuh pelampiasan emosi..dia begitu kesal dengan ayahnya..bahkan ayahnya dengan berani membawa perempuan murahan itu ke rumah.
Evan sampai di kamarnya dia sudah berganti baju santai..dia mencari Ana di kamar..nihil..dimana gadisnya..
"Ana dimana ya..di kamar tidak ada..apa mungkin.."
Evan menuju tempat gym karena pasti Ana butuh melampiaskan kekesalannya..
"Ternyata disini"
Evan mendekati Ana..dia menawarkan bantuan pada Ana.. Ana menyetujuinya..kebetulan dia butuh lawan.
"Baiklah"
Evan dan Ana saling serang lebih tepatnya Ana yang ngoyo..Ana begitu emosi dia menyerang Evan berkali-kali hingga dia kelelahan..Evan hanya menghindar tanpa berniat memukul balik..dia tak ingin gadisnya terluka.
"Arkhhhh sialan... Natali sialan....mati saja kalian arghhhhh...bughhh..."
Ana terjatuh setelah melakukan serangan tanpa henti pada Evan..Evan sedikit meringis di perutnya nyeri di hajar Ana.
"Maaf..aku terlalu..huhhh..huhhh.. bersemangat..maaf "
"Tidak apa..apa kau sudah lebih baik..?"
"Yah..berkat kau. thanks"
Evan mengulurkan tangannya dan Ana menyambutnya..Ana berdiri berhadapan dengan Evan..dia gerogi..Evan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ana..tanpa di duga cup..
Evan mencium bibir Ana..dia menciumnya sekilas..kemudian menyudahinya..tanpa di duga Ana menarik leher Evan dan mencium balik bibir Evan..mereka berciuman.
"Kau sangat bernapsu..?"
"I want more..please"
"Do it baby"
Ana mencium Evan lagi kali ini Evan memimpin ciuman nya..dia begitu berrgairah mencium bibir Ana..tangannya sudah bergerilya kemana-mana dan suara horor Ana pun sudah terdengar dan membangkitkan jamur nya yang semula tertidur.
"Jangan keluarkan suara indah mu baby..aku tak tahan"
"Sorry..jika kau mau maka lakukanlah..aku siap"
Evan terkejut dengan pernyataan Ana.. bagaimana bisa gadisnya berkata seperti itu padanya..astaga apakah dia tak tau bahwa saat ini Evan benar-benar sedang on fire.
"Tidak sebelum kita menikah"
Evan melanjutkan sesi kissing nya dengan Ana kali ini lebih berhati-hati dan tidak ingin membangkitkan si jamur nya.