
Paginya Evan berangkat ke kantor seprti biasa..dia tadi semoat kesusahan karena Ana tidak mengijinkan nya kemana-mana.
Akhirnya dia berhasil meloloskan diri dengan janjinya akan membawa Ana kencan nanti malam.. Ana tentu saja tidak menolak..dia melepas Evan Bekerja .
"Rafka apa jadwalku hari ini..?" tanya Evan dengan raut wajah datarnya.
"Hari ini anda ada meeting dengan perusahaan xx tuan..di lanjutkan jam 3 sore anda ada pertemuan dengan klien dari Jepang..setelah itu selesai tuan"
"Baiklah.. terimakasih..kau boleh kembali"
"Baik tuan.. permisi"
Rafka asisten Evan sekaligus sekertaris pribadinya..dia tak mau ada perempuan di sisinya selain Ana..dia sangat menjaga perasaan Ana..dia tak mau melukai perasaan istri bar-barnya.
Di saat Evan sedang sibuk mengerjakan pekerjaan nya tiba-tiba pintu terbuka dna masuklah sang mama san juga seorang wanita yang usianya jauh di atas Ana tapi masih cantik Ana nya.
"Evan.." panggil sang mama menyaoa Evan.
Evan mendongak seketika raut wajahnya berubah suram..dia menjadi gelap mata ketika meluhat sang mama membawa seorang wanita plastik ke hadapannya.
"Keluar" hanya satu kata yang Evan ucapkan.
Sang mama duduk di sofa ruangan Evan..dia menarik sang wanita itu untuk mencari perhatian Evan.
Janet..wanita yang mama Evan bawa untuk dia jodohkan dengan Evan..mama Evan akana melakukan apapun untuk yang terbaik bagi Evan.
"Evan..apa kau mau makan siang denganku..?" ucap Janet yang mulai mendekati Evan.
Evan mulai geram..dia membuka laci mejanya dan mengambil sebuah pisau lipat yang selalu dia simpan untuk berjaga-jaga.
"Jika kau masih sayang dengan nyawamu maka sebaiknya kau enyah dari hadapanku..kau juga wanita tua..kau tidak ada hak apapun atas hidup ku..lancang sekali kau bertingkah seperti ini" ucap Evan geram tanpa peduli tua dan muda.
Mama Evan mendekati Evan..dia mencoba meraih tangan Evan tapi segera di tepis oleh Evan..dia tak Sudi di pegang wanita tua yang tega meninggalkan nya sendiri.
"Jangan lancang memegangi nyonya George..kau tak punya hak apapun..keluar sebelum aku berbuat kasar pada kalian..KELUAR"
Evan geram dia mengambil pisaunya dan menggoreskan pada lengan mamanya..dia tak peduli toh dia sudah memberikan peringatan kepada dua wanita itu.
"Aishhh..Van..kenapa kau tega sekali pada Momy..apa wanita itu telah mencuci otakmu nak..?" ucap mama Evan sambil menahan sakit di lengannya.
"Evan kau tidak boleh berbuat seperti ini pada momymu.." ucap Janet mencoba mencari perhatian.
Evan seakan tuli dia semakin murka dengan ocehan sang mama..dia mengambil papan nama nya dan melemparkannya pada Janet..seketika Janet berdarah-darah di keningnya.
"Kau gila hah..kenapa kau kasar sekali dengan perempuan..sshhh" ucap Janet yang merasakan sakit di keningnya.
Mama Evan gemetar ketakutan..dia tak bisa berbuat apa-apa lagi..dia sepertinya sudah salah menilai gadis itu..Evan hanya akan lunak jika dengan gadis itu saja.
Rafka sudah menelepon Ana..dia khawatir mama Evan dan Janet akan mati sia-sia jika tak di lerai..dia mana berani menghadapi Evan yang sedang murka.
"Rafka..huhh..huhh..apa Evan di ruangannya..?" tanya Ana ketika baru keluar dari lift.
"Syukurlah anda sudah sampai nona..tolong tuan Evan..dia lepas kendali lagi"
"Baiklah..kau tunggu di sini"
Ana masuk dan mendapati Evan tengah mencekik leher Janet dan mamanya..Evan benar-benar tidak peduli.. Ana mendekati Evan dan menyadarkan nya.
"Babe...stop babe.." ucap Ana memegang tangan Evan lembut.
Evan mulai melemaskan cengkraman nya di leher kedua wanita itu..dia menatap manik mata Ana..dia seketika berubah manis.
"Baby..maaf..aku kelepasan.." ucap Evan sambil melempar tubuh sang mama dan Janet ke samping.
"It's ok babe..tenang ya..ayo kita keluar..anak Dady ingin makan es krim"
"Baiklah ayo"
Evan meninggalkan ruangannya..dia menggandeng tangan Ana lembut..mama Evan dan Janet menatap tak percaya pada Evan.. benarkah itu Evan yang baru saja mencekik mereka.