
Evan membersihkan kamarnya..banyak barang yang pecah karena dia begitu tak sabar dalam bermain jaran goyang nya.
"Baby aku ke bawah ya..aku buatkan sarapan dulu..kau tidurlah yang nyenyak..maaf aku terlalu berlebihan padamu"
Evan keluar kamar dan menuju dapur..dia tersenyum sepanjang jalan..para pelayan menyapanya dan sedikit ternganga karena tuannya tiba-tiba tersenyum..apakah tuannya kesurupan atau ketempelan sesuatu.
"Masak apa ya..pasta saja lah.."
Evan memasak pasta sendiri untuknya dan Ana..para pelayan tidak berani mendekat..takut jika tiba-tiba kumat lagi.
*
*
Sementara itu Ana terbangun karena ingin ke kamar mandi..dia hendak bangun tapi nyeri nyut-nyutan di area kue apemnya begitu nyelekit.
"Sshhh..sialan..kampret.. ishhh bener-bener nggak kenal capek tuh orang..aduh..ini gimana caranya coba mau ke kamar mandi"
Ana ngesot ke kamar mandi..dia tak tahan berdiri apalagi jalan..sungguh awas saja Evan nanti..habislah dia.
Ana sekalian mandi..tubuhnya lengket akibat keringat dan juga sisa air tajin Evan yang sedikit tumpah dia meringis ketika air membasahi area kue apem nya.
Ana memaksakan diri untuk mandi.. akhirnya selesai sudah acara mandinya..dia berjalan dengan pelan..berpegangan dengan dinding..perlahan hingga sampai di ranjang..dia belum memakai pakaian..tak kuat berdiri terlalu lama..dia hanya memakai bathrobe saja.
Tak berapa lama Evan masuk ke kamar dan melihat istrinya itu tengah duduk sambil mengeringkan rambutnya di atas ranjang dan masih memakai bathrobe.
"Babe..kenapa tak pakai baju hm..?"
Bugh......
Satu bogem mendarat di dada bidang Evan.. Evan hanya terkekeh melihat kegarangan dan kekesalan istri nya.
"Masih nanya kenapa belum pakai baju.. di pikir aku bisa berdiri telalu lama apa setelah kau gempur berkali-kali semalam dan tadi pagi huh"
"Oke..oke..maafkan aku.. besok-besok tidak seperti tadi lagi janji deh"
"Janji..?"
"Iya baby..sudah makan dulu kau pasti lapar"
"Tau aja.."
Mereka makan berdua saling suap satu sama lain.. benar-benar masih anget.
Di luar kediaman Evan..ada sepasang suami istri paruh baya yang tengah melihat rumah di hadapannya..ada rasa rindu dan takut dalam hati sang istri.
"Tenanglah.. ayo kita masuk"
"Aku takut"
"Baiklah"
Mereka mengetuk pintu dan tak lama kemudian terbukalah pintu itu.
"Maaf anda berdua cari siapa ya..?"
"Em..apa Revano ada di rumah ..?"
"Oh tuan Evan..iya beliau ada di rumah..anda berdua siapa ya..kalau boleh tau..?"
"Saya ibunya..bisa tolong panggilkan"
"Oh maaf nyonya besar saya tidak tau..mari masuk "
Mereka masuk kemudian pelayan itu memanggil Evan..Evan dan Ana turun karena penasaran dengan tamunya..ketika sudah di bawah Evan melihat kedua manusia itu dengan nyalang seakan ingin menerkam.
"Babe tenang.." ucap Ana.
Ana tak tau siapa kedua orang itu dan apa hubungannya dengan Evan sehingga Evan begitu marah..dia berusaha menenangkan Evan agar tak kelepasan.
"SIAPA YANG MENYURUHMU KEMBALI KE SINI HAH"
Ana mengusap-usap dada suaminya..Evan benar-benar tengah marah..dia memeluk Evan.. menenangkan Evan..dia tak ingin ada sesuatu yang buruk terjadi di antara mereka.
"Babe tenanglah..jangan begini"
"Vano.." panggil mama Evan pada Evan.
Evan mendengar panggilan itu langsung kalap..dia menendang vas bunga yang ada di dekatnya dan berteriak pada kedua orang itu.
"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN NAMA ITU..AKU BUKAN VANO..VANO SUDAH MATI SEJAK PULUHAN TAHUN LALU"
Ana meringis ketika kakinya terkena pecahan vas bunga yang Evan tendang..Evan seakan tak menyadari jika Ana tengah kesakitan..dia terbakar akan emosinya.
"Babe.. ssshh..tenanglah"
Evan mendengar desisan Ana seketika dia menoleh dan melihat kaki Ana berdarah..dia segera membawa Ana ke kamarnya dan mengobati luka di kakinya.
"Maaf"
"Kau tak salah babe..sudahlah"
"Aku salah baby..maakan aku hiks"
"Sudah babe..aku baik-baik saja"
Ana memeluk Evan yang seperti anak kecil saat ini..entahlah ada masalah apa di antara mereka bertiga..tapi Ana tak ingin membahas itu dulu untuk sekarang hingga keadaannya membaik.