
Ana masih tidur karena kelelahan akibat ulah Evan..dia tidur jam 3 pagi setelah di gempur habis-habisan..dia kesal pada Evan..tapi juga menikmatinya.
"Istriku kasihan sekali..sudahlah biarkan dia istirahat.."
Evan keluar dari kamar setelah membersihkan diri..dia ingin membuatkan sarapan untuk Ana..dia ingin memastikan kebutuhan gizinya tercukupi untuk Ana dan calon anak mereka.
Evan memasak sup ayam dan juga bubur salmon untuk Ana..dia ingin Ana makan makanan sehat.
Di saat Evan sedang sibuk mengerjakan membuat sarapan.. ponselnya berbunyi dan menampilkan nama Rafka di layar ponselnya.
Evan menjawab panggilan Rafka dengan nada ketusnya..dia merasa terganggu akibat telfon dari Rafka.
"Ada apa..?"
"Maaf tuan..ada berita duka dari keluarga Arguelo"
Evan menegang..ada berita apa..berita duka..apa sebenarnya yang terjadi.
"Katakan"
"Tuan..tuan Arguelo meninggal dunia tadi pagi dan akan di makamkan ketika nona Ana sudah hadir..apakah anda ingin membawa nona ke sana tuan..?"
"Entahlah..sudah dulu"
"Baik tuan"
Evan termenung..dia harus bagaimana sekarang..di sisi lain dia juga tak mungkin menyembunyikan masalah ini dari Ana tapi di sisi lain dia memikirkan kondisi calon anaknya juga kesehatan Ana.
"Bagaimana ini..apa yang harus aku lakukan.. haruskah aku memberitahu nya.. sial"
Evan tidak melanjutkan memasaknya karena mood ya sudah hilang..dia menuju kamarnya dan menunggu Ana bangun dan mengatakan semuanya pada Ana..dia sudah memantapkan langkahnya.
Evan memandangi wajah teduh istrinya.. sanggupkah dia mengatakan kebenaran nya.. sanggupkah dia mengatakan bahwa ayahnya sudah tiada.. bagaimana reaksi Ana ketika dia tau bahwa ayahnya sudah meninggal.
"Baby aku harus bagaimana baby..aku bingung dan dilema.."
"Babe..ada apa..kau kenapa..?"
"Aku..aku hanya..em.."
"Katakan babe..kita sudah berjanji untuk saling jujur"
"Huhh..Ana..kuharap setelah mendengar berita ini kau tidak boleh memikirkan yang lain-lain..ingat kau tidak sendirian di dalam perut mu ada anak kita"
"Cepatlah katakan.. bertele-tele sekali sih"
"Baiklah..huhh.. Daddy mu meninggal dunia baby tadi pagi"
Jeduar....
Bagaikan di sambar petir Ana tak percaya dengan perkataan Evan..dia hanya berfikir Evan hanya mengepranknya saja.
"Hahahaha tidak usah bercanda babe..tidak lucu hahahah"
Evan tau pasti akan begini..dia duduk di sebelah Ana dan mengusap rambut nya dengan lembut.
"Baby dengarkan aku.. Daddy mu telah tiada tadi pagi dan aku baru mendapatkan kabar dari Rafka tadi saat sedang memasak..awalnya aku tak percaya baby tapi setelah Rafka menunjukkan buktinya barulah aku percaya bahwa Daddy mu sudah tiada"
Ana masih menggeleng cepat..dia tak percaya perkataan Evan..dia tak tau harus bersikap apa..kalut sudah pikirannya.
"Cukup babe..aku tak mau mendengarnya lagi..kau hanya berbohong padaku hiks..aku tak percaya padamu hiks"
"Baby jangan begini..ingat anak kita sayang..tenanglah"
Ana seketika ingat bahwa dia tak lagi sendiri..dia memiliki nyawa lain di dalam tubuhnya..tapi dia tak bisa mengontrol emosi nya hingga seperti ini.
Ana pingsan karena begitu syok..dia tak tau harus berekspresi bagaimana..senang kah atau sedih kah atas meninggalnya sang Daddy.