
Ana hendak berlalu dari ruang tamu tapi di tahan oleh Janet dia sudah geram melihat tingkahnya..Janet sengaja memancing emosi Ana agar niatnya semakin lancar jaya.
"Hey perempuan tidak tau diri..kau sudah merebut Evan dariku dan sekarang kau tak mau mengakuinya..aku diam saja saat kau melukaiku..aku diam saat kau menghinaku tapi aku tak akan diam jika kau juga ingin mencuci otak Daddyku" ucap Janet dengan air mata buaya nya.
Ana berbalik dia hanya mendengarkan saja..bukan levelnya untuk meladeni permainan murahan mereka.. Ana menempel pada Evan..dia bahkan tak segan bermanja di depan para tamunya.
"Babe apa kah benar aku yang menggodamu..?"
"No..kau tak pernah menggodaku baby..aku yang jatuh cinta padamu".
"Lalu apa kau pernah berpacaran dengan dia.. kenapa dia bilang aku yang merebut mu darinya..?"
"Biarkan saja anjing menggonggong..aku bahkan baru bertemu dia saat di kantor bersama wanita tua itu"
"Benarkah..kau punya bukti..?"
"Tentu saja..aku sudah memperingatkan mereka sebelum nya tapi ternyata tidak di indahkan..sekarang keputusan ada padamu baby..kau mau aku apakan mereka..?"
Ana tersenyum..dia tak pernah memikirkan hukuman yang setimpal untuk ketiga orang itu.. sekarang dia tau harus berbuat apa.
"Aku mau mereka berlutut meminta maaf di hadapanku babe..apa bisa..?"
Evan mencium kening Ana dan tersenyum..tentu saja apapun akan dia lakukan untuk Ana..mereka sudah salah membuat masalah dan menghina istri kecilnya.
"Tentu saja bisa baby..hanya itu..?"
"Emmm..aku tak tau harus membiarkan atau melenyapkan mereka..jika di biarkan maka akan mengulang kembali perbuatannya tapi jika di lenyapkan aku tak mau mengotori tangan ku babe.. bagaimana..?"
"Tenang saja..aku akan menyuruh orang untuk melenyapkan mereka..kau hanya tinggal katakan saja mau melenyapkan mereka seperti apa"
Ana mengelus perut buncitnya..dia sesekali melirik para ketiga tamunya..mereka terdengar seperti ketakutan..mereka berbisik-bisik..Ana hanya menyunggingkan senyum saja.
Evan menghubungi orang suruhannya yang sudah dia tugaskan untuk mengurus masalah ini..dia tak mau repot-repot memikirkan masalah konyol begini.
"Aku sudah menghubungi orang suruhan ku baby..ayo kita masuk saja..aku tak mau anak kita lelah"
Evan tanpa aba-aba mengangkat Ana.. Ana juga diam saja..dia mengalungkan lengannya pada leher Evan..biarkan mereka kepanasan dan ketar ketir menunggu waktu hukuman.
"Babe anak kita lapar..Daddy ayo makan"
Evan tak menghiraukan keberadaan para tamunya..dia hanya fokus pada Ana saja dan juga anaknya..Evan membiarkan para tamunya sembari menunggu kedatangan orang suruhannya.
Evan pergi ke dapur dan membuatkan makanan untuk Ana..dia mendudukkan Ana pada kursi empuk yang ada di meja minibar di dapurnya.
"Babe tamumu bagaimana..?"
"Biarkan saja..nanti ada orang yang akan mengurus mereka..kau tenang saja.. jangan pikirkan orang lain selain aku dan anak kita hm..?"
"Iya Daddy.."
"Gadis nakal"
Tak lama kemudian orang suruhan Evan datang..orang itu membawa serta bukti yang di butuhkan.. rekaman saat di kantor..di rumah dan juga saat di depan gerbang.
"Permisi tuan..di luar ada tamu anda katanya tuan Jefry"
"Suruh masuk"
"Baik tuan"
Evan mengajak Ana untuk keluar lagi setelah menghabiskan makanannya.. Ana bahkan belum kenyang dia masih membawa setoples camilan kesukaannya.
Evan tak melarang biarkan saja asal Ana dan anak mereka sehat.. Ana duduk menyender pada bahu Evan..Evan memeluknya di depan para tamunya..tak ada semburat malu di wajah kedua pasangan itu.
"Tuan saya sudah membawa semua bukti yang anda pinta"
"Bagus..berikan pada mereka".
"Baiklah tuan"
Selesai dengan segala buktinya..ketiga tamunya berubah pias..mereka tak tau harus bagaimana lagi..tuan Curtis bahkan langsung bersimpuh di kaki Evan..dia sudah salah paham dan termakan oleh omongan anaknya.
"Tuan Evan ampuni saya tuan..saya termakan hasutan Janet..maafkan saya tuan"
"Semua Terserah Istriku..aku hanya mengikuti kemauannya saja"