
Tak lama Yasmin mendengar suara seseorang yang hendak membuka pintu kamarnya; gadis itu sontak saja menoleh ke arah pintu, ia mengerutkan kening memasang ekspresi wajah bertanya-tanya, yang terlintas dipikirannya pertama kali entah mengapa adalah Reno
Yasmin langsung membaringkan tubuhnya, dengan tergesa-gesa gadis itu menarik selimutnya kembali; ia sempat melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 9 pagi
“Eh, bukankah dia seharusnya sudah pergi ke kantor” pikirnya
Seseorang itu telah masuk ke dalam kamarnya dan benar saja sesuai dengan dugaannya orang itu benar-benar adalah Reno; Yasmin saat ini tengah berpura-pura masih tertidur pulas
Reno berjalan mendekat, ia kemudian duduk diranjang tepat disamping Yasmin; pria itu hanya terus memandangi istrinya seraya tersenyum, ia sama sekali tidak mengatakan apapun
benar-benar hanya terdiam dan memandanginya dengan sorot mata yang mengekspresikan kekaguman
Namun pandangannya tiba-tiba saja teralih, Reno melihat ponsel Yasmin yang terletak disamping bantalnya. ia tersenyum lalu kembali memusatkan pandangannya ke arah Yasmin yang masih saja pura-pura tidur; pria itu menghela nafas dan kemudian terlihat memutar bola matanya setelah ia mengetahui ternyata Yasmin sedang mencoba menipunya
Reno lalu dengan jahilnya menggoda Yasmin dengan mencium pipi gadis itu berulang-ulang kali
"Bangunlah, bangunlah, bangunlah" godanya
Yasmin terlihat mengekspresikan kerisihannya; namun Reno malah terus saja tak berhenti mencium pipinya dengan harapan gadis itu akan segera menyerah lalu membuka matanya untuk mengakhiri sandiwaranya
Tak lama Yasmin membuka matanya, ia langsung saja menatap Reno dengan tatapan jengkel
sedangkan Reno yang menyadari sorot mata Yasmin yang tengah mengisyaratkan kejengkelan padanya dengan konyolnya ia justru malah menujukan senyum terbaiknya untuk menanggapi hal tersebut, pria itu seolah-olah tak merasa ada yang salah; Yasmin semakin kesal ia menujukan ekspresi wajah jengkel nya itu semakin jelas
Gadis itu terus saja menatap Reno dengan tatapan sinisnya "Ughhh!!" merasa benar-benar kesal ia kemudian menarik selimut hingga menutupi wajah
Reno meraih ponsel Yasmin "Sayang, sejak kapan ponselmu bisa berjalan?" sindirnya
Mendengar hal tersebut membuat Yasmin terkejut, bukan main, sehingga ia sontak membuka selimut yang tengah menutupi wajahnya; dalam hatinya ia sedang memaki-maki dirinya sendiri yang benar-benar melupakan jika ia seharusnya menaruh ponselnya itu kembali ketempat sebelumnya
Pipinya tiba-tiba saja memerah, ia dirundung rasa malu seketika setelah menyadari hal tersebut kemungkinan itulah yang membuat Reno sedari awal mungkin sudah tahu jika dirinya hanya sedang berpura-pura masih tidur pulas
Yasmin memperhatikan Reno yang tengah memang ponsel miliknya; gadis itu terlihat tenang-tenang saja melihatnya, karena hal tersebut sudah biasa baginya. sudah bukan sekali atau dua kali. Reno memang sering kali mengecek ponsel milik istrinya itu entahlah untuk tujuannya apa
namun ketika pria itu hendak memeriksa ponsel Yasmin tersebut; gadis itu yang tadinya memperlihatkan sikap tenang dan masabodohnya, tiba-tiba saja teringat bahwa dirinya masih belum keluar dari sosial media. ia dengan panik langsung bangun dan langsung merebut paksa ponsel miliknya itu dari tangan Reno, gerak-geriknya terlihat jelas begitu panik dan bahkan Reno pun bisa melihat hanya dari ekspresinya wajahnya saja, sudah terlihat jelas gadis itu layaknya seseorang yang sedang ketakutan akan rahasianya terbongkar; saat ini Reno hanya ternganga keheranan
Reno mengerutkan kening, pria itu menatap Yasmin dengan tatapan menelisik penuh rasa curiga; Yasmin dibuatnya jadi salah tingkah
"A-aku.. aku.. aku baru ingat, aku perlu menelpon seseorang, Ya itu benar, aku perlu menelpon Fa.. em maksudku Loly, aku harus menelpon Loly dan ini... ini benar-benar penting sangat penting, ada yang ingin aku tanyakan padanya" jelasnya gugup
Yasmin melirik ke arah Reno yang masih saja menatapnya dengan tatapan penuh rasa curiga, namun dibandingkan sebelumnya Reno justru malah terlihat semakin tambah curiga terhadapnya; kemudian ia berusaha mengalihkan perhatian Reno "Oh iya Kamu.. kamu kenapa masih ada dirumah?" tanyanya "Em, Ma-maksudku.. kenapa kamu belum pergi ke kantor?" tanyanya lagi diakhiri dengan senyuman canggung
Reno menarik tubuhnya mendekat, hal tersebut membuat Yasmin semakin gugup dan salah tingkah; pria itu kemudian berusaha meraih ponsel istrinya itu, namun dengan cepat tangannya ditepis oleh Yasmin "A-aku.. aku sudah bilang aku.. aku perlu menelpon, sekarang juga!"
Reno terus saja menatapnya penuh rasa curiga, hal tersebut membuat Yasmin merasa diintimidasi. tetapi tampaknya tatapan matanya itu kini bukan tertuju padanya melaikan pada ponsel miliknya, Yasmin yang melihatnya sontak membalikan ponselnya; kemudian dengan sengaja mematikan ponselnya tersebut dan berharap jika Reno tidak menyadari akan hal itu "Ahh ini.. hufft sepertinya ponselku mati, ha-habis baterai" gadis itu tertawa kecil diakhir
Reno mengerutkan kening pria itu tentunya tak percaya dengan alasan Yasmin; taktik macam apa itu? huh jelas-jelas Reno melihatnya. ia melihat ketika Yasmin dengan sengaja mematikan ponselnya
"Apa kamu sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya tiba-tiba
Yasmin tertegun, apa yang harus ia katakan? haruskah ia mengadu pada suaminya? mengatakan jika dirinya saat ini tengah menjadi bulan-bulanan banyak orang? Yasmin kemudian mengingat kembali apa yang ia lihat tadi disosial media, segala komentar yang menyudutkan nya dan segala perkataan yang melecehkan harga-dirinya; saat ini ia berusaha begitu keras untuk terlihat baik-baik saja dan mencoba bersikap tenang, semuanya ia lakukan hanya karena tak ingin melihat Reno khawatir akan kondisi dirinya. sejujurnya Yasmin saat ini sangat stress dan sangat merasa tertekan, tetapi ia berpikir jika benar Reno begitu mencintainya, mungkin saja pria itu nantinya akan merasakan apa yang ia rasakan, hal tersebut benar-benar yang tidak diinginkannya.
Namun ternyata seberapa pun kerasnya usaha Yasmin menutupi bahwa kenyataannya ia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja, segala usahanya tidak dapat ia gunakan untuk menipu suaminya. Reno tampaknya masih saja bisa melihat dengan sangat jelas dari sorot matanya yang berkaca-kaca itu bahwa ia saat ini tengah menahan tangis berusaha keras membendung air matanya, jadi Reno bisa tahu jelas gadis ini pastinya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, ada yang ia sembunyikan darinya lagi dan lagi.
Yasmin kemudian memutuskan untuk turun saja dari ranjangnya, ia enggan menanggapi pertanyaan Reno dan malah mencari cara untuk menghindarinya "Aku lapar!" ucapnya
"Aku.. aku akan turun untuk sarapan" jelasnya langsung memutar badan hendak pergi, tanpa menunggu respon suaminya
Reno dengan sigap menahan tangannya, Yasmin sontak saja menoleh dan ia memperlihatkan ekspresi wajah bingung; namun batinnya menggebu merasa ketakutan, Yasmin benar-benar takut jika Reno akan menyudutkannya dan memaksanya membuka mulut
Reno menyodorkan tangan "Mana ponselmu, berikan padaku, biar aku yang charger. kamu turun saja kebawah dan makanlah" jelasnya
Yasmin reflek langsung menjawab "Tidak!" tetapi ponselnya kan sudah mati, jadi kalaupun Reno membuka dan memeriksanya, setidaknya pria itu tidak akan langsung masuk ke sosial media miliknya bukan? seharusnya ia sudah tenang.
Yasmin tentunya juga menyadari jika saja ia terus bersikap seperti ini. salah tingkah dan gugup, bukan tidak mungkin, tetapi sudah pasti. sudah pasti Reno malah akan semakin curiga terhadapnya. lagi pula sebenarnya ia juga tidak sedang Menyembunyikan apapun kali ini, Reno juga bisa mengaksesnya, tetapi entah mengapa Yasmin hanya ingin berusaha agar Reno tidak melihatnya
Yasmin tersenyum "Ma-maksud ku.... em.. Ini" ia menyodorkan ponselnya pada Reno "Tolong, tolong bantu aku charger ponselku, terimakasih" ucapnya
Reno sontak tertegun, tadi sepertinya Yasmin masih berusaha keras menyembunyikan ponselnya seolah-olah ada sesuatu yang ia tak ingin Reno ketahui.Tetapi mengapa begitu cepat Yasmin tiba-tiba bersikap kembali tenang dan juga ia menyerahkan ponselnya begitu saja
Reno meraih ponsel Yasmin seraya terus memperhatikan setiap gerak-geriknya, gadis itu benar-benar terlihat tenang kembali.
"Em Kamu.. apa kamu sudah sarapan?" tanya Yasmin
"Aku akan mandi dulu, baru setelah itu sarapan" jelasnya
"Aku... aku..."
"Tidak apa-apa, kamu makan duluan saja"
Yasmin mengangguk, mengerti. "baiklah" Yasmin kemudian berjalan keluar kamar
Setelah Yasmin sudah benar-benar meninggalkan ruangan, Reno memusatkan pandangannya pada ponsel milik istrinya itu. kemudian ia segera mengaktifkan kembali ponsel tersebut, dan benar saja ponsel Yasmin masih bisa menyala tidak benar-benar kehabisan baterai seperti yang dikatakannya
Reno memeriksa ponsel tersebut, tetapi pria itu sama sekali tidak menemukan hal-hal yang perlu ia dicurigai. mulai dari panggilan terkahir sampai melihat isi pesan SMS ataupun WhatsApp dan lain halnya
Mengingat kembali tingkah Yasmin yang panik ketika ia akan memeriksa ponselnya, bukan kah sudah sangat jelas ada yang gadis itu sembunyikan darinya; Reno tak menyerah begitu saja sampai ia menemukan penyebab apa yang membuat Yasmin sampai bersikap sedemikian
Sampai pada akhirnya Reno mengakses sosial medianya, ia begitu terkejut karena langsung mendapati postingan dari teman-teman kuliah Yasmin.
Setelah beberapa saat kemudian, saat ini Reno tengah menyantap sarapannya dimeja makan dan ia ditemani oleh Yasmin yang sepertinya merasa bersalah karena ia malah menyantap sarapannya lebih dulu. Reno terus memperhatikan Yasmin, gadis itu tampak melamun dengan tatapan mata kosong. Reno bisa memahami situasinya dengan jelas, istrinya ini pasti sangat stress dan merasa sangat tertekan
"Yasmin"
Reno berulang-ulang kali memanggilnya untuk membuyarkan lamunan Yasmin, namun sayangnya sama sekali tak ada respon. tampaknya ia sedang tenggelam dalam lamunan berbagai masalahnya itu
Reno memukul-mukul piringnya dengan sebuah sendok untuk menimbulkan suara bising agar membuat Yasmin keluar dari lamunannya tersebut
"Eh, iya. ke-kenapa? apa kamu perlu sesuatu?" tanya nya
"Bagimana keadaan papamu sekarang?" tanya Reno tiba-tiba
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Yasmin sontak tertegun, gadis itu tampaknya terkejut. ia bertanya-tanya, mungkin kah Reno sudah tahu akan semuanya. mungkin kah pria itu sudah mengetahui bahwa ayahnya dalam beberapa bulan ini ditangani dirumah sakit jiwa? dan mungkin kah dia juga sudah tahu bahwa ayahnya melakukan percobaan bunuh diri lagi dan lagi sampai pada akhirnya mengharuskan ia dirawat intensif dirumah sakit? bagaimana, bagimana bisa ia tahu semuanya pikirnya
"Kamu... bagaimana, bagimana kamu bisa tahu?" tanya Yasmin penasaran
Reno tersenyum penuh ironi "Bagaimana aku tahu... sayang, bukankah seharusnya aku tahu dari kamu?" sindirnya
Yasmin menunduk tampak merasa bersalah; ia terlihat kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari suaminya itu, mencari alasan ataupun mengungkapkan kebenaran semuanya akan sama saja. Yasmin akan tetap salah karena telah menyembunyikan hal tersebut dari suaminya sendiri
Reno menghela nafas mencoba mengontrol emosinya "Lagi, lagi dan lagi. berulang-ulang kali. kamu terus berusaha.. berusaha menipuku, membohongi ku, menutup-nutupi segalanya, membuat aku salah paham, mengacaukan perasaanku, membuatku terus-menerus merasa khawatir akan dirimu" ucapnya
"Maaf" ucapnya terdengar tulus dan penuh sesal, ia menengadah mencoba menatap Reno dengan matanya yang sudah berkaca-kaca menahan tangis
"Maaf? Aku tidak butuh mendengar kata itu keluar dari mulutmu Yasmin, bisakah kamu sedikit saja mencoba memahamiku?"
Reno membentak Yasmin sampai membuat tubuh gadis itu gemetar lantaran ketakutan. ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa hanya bisa merasa bersalah; gadis itu kemudian hanya menundukkan wajahnya kembali untuk menyembunyikan segala ekspresi ketakutannya
Reno yang melihatnya merasa sedikit bersalah, seharusnya ia tidak membentak nya disaat seperti ini. gadis yang di hadapannya ini sedang begitu tertekan akan masalah-masalahnya, seharusnya ia jadi penenang bukan malah semakin membuatnya merasa tersudut kan.
Sadar akan hal itu Reno langsung beranjak dari kursinya, kemudian menghampiri kursi Yasmin yang berada tepat didepannya; pria itu lalu meraih tangan Yasmin yang dirasakannya begitu dingin dan gemeteran, ia semakin merasa bersalah karena telah membentak nya sampai membuat gadis itu merasa ketakutan
"Yasmin, aku minta maaf" ucapnya dengan nada lembut dan terdengar penuh rasa sesal "Seharusnya aku tidak memaksamu memahamiku, aku minta maaf. aku benar-benar minta maaf. sudahlah, tolong jangan seperti ini, aku jadi merasa bersalah"
“Pria ini, ternyata dia.. dia benar-benar sangat peduli padaku” batin Yasmin
Yasmin menengadah menatap Reno; Pria itu lalu tersenyum manis padanya, setelah itu dengan tangan lembutnya ia menyingkirkan anak-anak rambut yang menghalangi wajah Yasmin. Yasmin begitu tersentuh, sehingga ia tak kuat menahan rasa ingin memeluk suaminya itu dan mengucapkan ribuan kata terimakasih padanya; Yasmin sontak memeluk Reno begitu saja
Tentu saja hal yang tiba-tiba itu membuat Reno terkejut bukan main, tetapi perasaannya langsung diselimuti rasa bahagia ia membalas pelukan Yasmin dengan dekapan hangatnya
Air mata yang dibendungnya kian meluap, walaupun tidak mengatakan segala keluh kesahnya, tetapi pelukan hangat Reno membuatnya merasa tenang dan damai; seolah-olah membuat ia merasa masalah seberat apapun akan bisa lewati nya dengan mudah
"Terima kasih, Terima kasih banyak Reno" gumamnya
Reno melepaskan pelukan Yasmin perlahan, kemudian ia memandangnya sesaat dan langsung memegang wajah Yasmin "Hey, apa ini? jangan menangis" ucapnya penuh penenangan
Tak lama dengan gerakan lembut ia menyeka air mata Yasmin yang terus berjatuhan ke pipinya sampai berulang-ulang kali "berhentilah menangis Yasmin"
Ia menggerakkan bibir Yasmin dengan kedua jarinya untuk merangsang bibir istrinya itu membentuk senyuman, namun tampaknya usahanya itu tak berhasil. Yasmin masih saja terus menitikan air matanya. tak lama tiba-tiba saja Reno menarik wajah Yasmin mendekat dan ia langsung mencium bibir istrinya itu; mata Yasmin sontak terbuka lebar saking ia terkejutnya
Setelah Reno melepaskan bibir Yasmin; pria itu langsung tertawa kecil seraya memperhatikan pipi Yasmin yang menjadi merah merona karena ia merasa malu, namun gadis itu juga terlihat masih saja menujukan ekspresi keterkejutannya; Yasmin menatap Reno tanpa berkedip dengan matanya yang terbuka lebar
Reno mengelus pipi Yasmin dengan gerakan lembut "Hari ini aku tidak akan pergi ke kantor, aku ingin menghabiskan waktu denganmu" jelasnya
"Em, tapi.. t-tapi, aku.."
Yasmin bukannya menolak ataupun tak mau menghabiskan waktu dengan suaminya itu, tetapi hari ini seharusnya ia kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan ayahnya dan kembali berusaha menemui ibunya lagi untuk mengajaknya berbicara
"Kita akan sama-sama pergi melihat kondisi papa" jelas Reno
Yasmin tertegun "Pa.. papa?" Tanya nya memastikan
"Ya, papa mertua"
Beberapa saat kemudian..
"Dokter, jadi gimana.. gimana keadaan papa saya?" tanya Yasmin tapak cemas
"Kondisinya sudah mulai stabil, beliau juga sudah lebih tenang, kami tidak sulitan lagi saat menanganinya. setelah kondisinya benar-benar dinyatakan pulih, perkirakan saya mungkin dua atau tiga hari lagi.. beliau sudah diperbolehkan pulang"
Yasmin memejamkan mata dan memegangi dadanya mengucap rasa syukurnya dalam hati "Yatuhan terimakasih" setelahnya ia menoleh ke arah Reno dan menunjukkan senyum kelegaannya; pria itu mendekatinya kemudian merangkulnya
"Jadi.. jadi Papaku sudah tidak berontak lagi saat ditangani?" tanya Yasmin memastikan
Dokter hanya mengangguk mengiyakan bahwa stefan Wesley sudah tak berontak lagi ketika ditangani, sebelumnya Steven Wesley terus mempersulit dokter dan tim saat mencoba mengobatinya, ia akan berontak dan berteriak berulang-ulang kali mengatakan jika dirinya ingin mati saja.
Yasmin menoleh kembali ke arah Reno, sorot matanya telihat penuh harapan "Menurutmu.. Apa, apa itu artinya, papaku.. dia.. dia kondisi mentalnya..."
Reno tersenyum karena ia memahami betul harapan Yasmin tersebut "Semoga saja." ucapnya