
Di perusahaan besar anggara~
09.00am
"Selamat pagi pak, ini dokumen yang bapak suruh saya siapkan untuk meeting dengan perusahaan UAE"
"Oke."
"Meeting dimulai jam 10.30"
Reno hanya merespon dengan menganggukan kepalanya dan tanpa memandang ke arah sekertarisnya itu yang bernama Steffy, ia hanya fokus memainkan sebuah pulpen ditangannya.
Steffy pun terheran-heran dengan sikap boss nya itu ia terlihat benar-benar jelas sekali moodnya kurang bagus hari ini.
"Hanya itu pak yang bisa saya bantu? Kalau begitu saya permisi"
"Tunggu."
"Suruh Gavin keruangan saya"
"Baik pak"
10 menit kemudian.
"Ada apa boss?"
Gavin yang diberitahu oleh sekertaris Steffy untuk datang menemui reno pun dengan sigap langsung keruangannya, pria itu pun melangkah kan kakinya mendekat ke meja kerja boss nya itu, ia langsung duduk dikursi depan meja bossnya itu.
"Produser film porno itu apa sudah kamu urus?"
"Ah itu, sudah beres" Gavin pun menjawab dengan nada yang begitu santai seolah-olah meyakinkan boss nya tak perlu lah ia khawatir, soal itu sungguh mudah baginya urus.
"Oke."
Tiba-tiba saja telpon seluler reno berdering.
Pria itu pun sontak langsung mengambil handphone miliknya itu yang ia simpan dimeja kerjanya
Pria itu melihat layar ponselnya dan menghembuskan napasnya sesaat, rupanya ayah nya Zidan anggara yang menelponnya.
Ia langsung saja menggeser tombol hijau dilayar ponselnya
Via telpon
'Hello reno? Papi sudah landing'
Sontak reno tertegun saat mendengarnya, pria itu benar-benar tak menyangka papi nya akan ingat pulang juga setelah hampir dua tahun lamanya mengurus perusahaannya yang berada diluar negeri.
'Apa putra ku ini tidak ada niatan untuk menjemput papi nya di bandara?'
'Aku akan datang'
Dengan terburu-buru reno pun bergegas melangkah kan kakinya untuk segera ke parkiran mobilnya, namun pria itu tentunya tak lupa memberitahu Steffy sekertarisnya untuk menunda jam meetingnya.
"Steffy tolong reschedule meeting di undur setelah jam makan siang, saya ada urusan mendadak"
"Baik."
Beberapa saat kemudian saat sampai di bandara.
Tiba-tiba saja terdengar suara orang yang meneriaki namanya dari belakang tubuhnya.
"Reno!"
Sontak reno pun membalikkan badannya dan melihat papi nya berdiri dengan satu buah koper ukuran besar disampingnya
Pria itu pun langsung saja berjalan cepat mendekati papi nya itu
Zidan anggara pun langsung memeluk putra nya itu sambil menepuk-nepuk pundaknya, ia benar-benar tak kuasa menahan rindu terhadap anak lelaki satu-satunya ini.
Wajar saja ia dan putranya ini sudah hampir dua tahun tidak bertemu karena ia harus mengurus perusahaan yang sempat mengalami krisis diluar negeri, walaupun reno ada sering dinas bisnis kr negara yang sama ayah dan anak ini pun tak pernah ada kesempatan bertemu karena kesibukan masing-masing.
Hal pertama yang zidan anggara tanyakan pada putranya itu adalah
"Kenapa kamu pindah rumah?"
"Aku di vila"
"Kenapa harus tinggal di vila? Apa kamu ini ada bawa perempuan untuk tinggal bersama?" Dengan nada gurauan zidan anggara pun memberanikan diri menyinggung soal wanita pada putranya itu
Reno tertegun mendengarnya, ia mengira bahwa papi nya ini mengetahui soal nadia sekarang tinggal bersamanya di vila.
"Sudahlah papi hanya bercanda, apa kamu ini masih belum bisa juga melupakan mantan mu itu?"
Reno menghembuskan nafasnya ia cukup lega ternyata papi nya itu belum mengetahui soal nadia yang ia sudah Terima untuk tinggal bersama nya di vila.
"Kamu pulang kerumah malam ini atau papi akan tinggal di vila mu?"
"Aku akan pulang"
Di sisi yang lainnya mengenai kondisi Steven Wesley
"Besok adalah hari pernikahan aku dengan putri mu" Pria tua yang hampir setengah abad ini pun mengatakannya dengan angkuh
Steven Wesley terlihat mengekspresikan wajah jijik mendengar perkataan dari pria tua itu.
"Roger hardware kau jangan terlalu percaya diri bagimana jika anak ku ternyata bisa melunasi hutang hutang ku?"
Pria tua itu pun tertawa kecil seolah-olah meremehkan "kau yang jangan terlalu yakin, Hutang mu padaku senilai 45,6 miliar Wesley apa kau begitu yakin anak mu bisa melunasi hurang sebanyak itu dalam waktu singkat? Kalau pun dia menjual tubuhnya siapa yang akan membelinya dengan harga setinggi itu"
"Kau bunuh saja aku!"
"Aku tidak tertarik dengan nyawamu!"
"Papa mertua, aku hanya tertarik pada putrimu"
Tak lama kemudian pria itu pun melepaskan tangannya dari leher Steven Wesley ia lalu berkata "kau tentunya harus hadir di acara pernikahan ku dan putrimu papa mertua, jadi kau jangan mati dulu" Katanya dengan angkuh
"Roger kau benar-benar tua bangka yang tak tahu malu! Aku tidak akan pernah sudi memiliki menantu seperti mu. Bunuh saja aku jangan ganggu kehidupan putriku"
Steven Wesley benar-benar naik pitam dengan semua tingkah laku Roger hardware
"Haha, wesley kau ini benar-benar lucu sekarang seolah-olah menjadi orangtua yang baik untuk putrimu? Jangan kira aku tidak tahu kau mengusirnya demi hidup tenang dengan wanita barumu"
"Roger kau benar-benar keterlaluan kau menjebak ku! Hutang ku padamu seharusnya hanya senilai 20,6miliar"
"Kau yang keterlaluan kau berani-beraninya korupsi uang perusahaan dengan nilai puluhan miliar, bunga yang kau tanggung tentunya harus besar!"
Tiba-tiba saja ada seseorang masuk ke dalam ruangan dimana Steven Wesley disekap ia adalah salah satu anak buah dari Roger hardware, ia menginformasikan pada boss nya bahwa ada seorang gadis yang tak lain adalah Yasmin Wesley yang ingin bertemu papa nya.
"Boss, Yasmin Wesley"
Roger hardware lalu memerintahkan anak buahnya itu untuk mengantarkan gadis itu menemui papa nya ini.
"Antarkan dia kemari!"
Yasmin pun begitu terkejut dengan apa yang dilakukan si tua bangka itu pada papa nya, ini tak sesuai dengan kesepakatannya.
"Apa yang kau lakukan bukan kah aku bilang untuk memperlakukan papa ku dengan baik!"
"Aku memindahkannya ke ruangan yang lebih baik, dan menidurkannya ditempat tidur yang empuk"
"Tapi kau memborgol kedua tangannya dan merantai kakinya"
"Yasmin sudahlah nak, tidak apa apa"
"Tangan papa pasti sakit kan?" Ia melihat pergelangan tangan papa nya yang sudah memerah karena tergesek gesek oleh borgol besi itu "Tua bangka cepat lepaskan papa ku!" Yasmin benar-benar naik pitam dengan kelakukan tua bangka satu ini, ia benar-benar marah melihat papa nya diperlakukan tidak manusiawi seperti ini.
"Sayang.. Tidak perlu risau besok saat hari pernikahan kita papa mu ini akan terbebas dan akan ikut hadir di pernikahan kita loh"
Yasmin hanya diam membisu mengingat besok adalah hari terakhir kesempatan yang diberi nya untuk melunasi hutang, ia benar-benar belum mendapatkan uang sebanyak itu bahkan setengahnya pun ia belum ada.
"Tidak sabar mencicipi tubuh istriku"
Yasmin mengepalkan tangannya ia benar-benar ingin memukuli tua bangka itu sampai mati saja, ia benar-benar merasa jijik dengan kata-kata yang ia Lontarkan.
"Kalian mengobrol lah"
Pria tua itu pun pergi meninggalkan Yasmin dan papa nya berdua saja namun tetap diawasi kedua orangnya.
"Yasmin maapin papa" Steven Wesley tak henti-hentinya meneteskan air matanya, air mata penuh penyesalan.
"Ini adalah karma yang harus papa dapat, dari menelantarkan kalian"
"Papa benar-benar gagal jadi seorang ayah, kenzo pasti sekarang sangat membenci papa"
"Kamu juga pasti masih kesal dengan papa"
Yasmin menghapus air mata papa nya yang terus menerus mengalir henti-henti dari matanya.
"Papa jangan trus begini Yasmin tidak bisa lihat papa begini, aku dan kenzo sayang sama papa. kenzo tidak pernah membenci papa, kami sangat menyayangimu, kamu papa kami!"
"Apa masih pantas papa mu ini disebut papa"
"Papa stop! Jangan bicara seperti itu lagi"
"Yasmin pergilah, pergi yang jauh kabur lah papa tak sudi harus menyerahkan mu pada laki-laki tua bangka seperti Roger hardware itu!"
Didalam hati Yasmin ia berkata bahwa ia sebenernya juga tak ingin memilih jalan terakhir dengan menikahinya namun ia benar-benar buntu.
"Lalu papa?"
"Yasmin dengarkan, aku sudah tua aku tidak takut mati tapi masa depanmu masih luas pergilah papa tidak apa apa"
"Tidak!"
"Jangan keras kepala!"
"Aku kenzo dan juga Dylan masih butuh papa!"
"Dylan?"
"Dylan anak papa dan perempuan itu sekarang tinggal dengan kami, mama menerimanya dengan senang hati ia memperlakukan Dylan seperti anaknya sendiri papa tidak perlu khawatir. Perempuan itu meninggalkan Dylan begitu saja didepan rumah kami"
"Perempuan itu!"
Steven terlihat begitu kesal sesaat dia mengingat perempuan itu, tak lain dikarenakan kalau bukan karena menunjang kehidupan serba glamour perempuan itu tak mungkin ia tergiur untuk krupsi uang perusahaan.
"Terimakasih Yasmin, farah memang wanita yang baik papa benar-benar menyesal"
"Aku akan merawatnya Dylan juga adikku, papa juga tidak perlu khawatir aku putrimu akan berusaha membebaskanmu"
"Tidak perlu aku tak ingin kamu menyerahkan seluruh hidupmu untuk ku, menikah dengannya adalah siksaan bagimu lebih baik papa yang tersiksa sampai mati daripada harus mengorbankan dirimu"
Yasmin benar-benar terharu mendengar perkataan papa nya itu, ia tak berpikir sebelumnya kalau papa nya ini ternyata masih amat sangat menyayanginya dan kenzo.
Dengan nada bicara serius gadis itu berusaha menyakinkan papanya "papa tidak perlu khawatir"