Nothing Like Us

Nothing Like Us
Yasmin bertemu zidan anggara



"kenapa kamu belum siap-siap? bukannya aku sudah mengirim pesan?" tanya reno tiba-tiba


"Ah itu aku belum melihat ponselku" jelas yasmin, yasmin mengernyit "memangnya kita mau pergi kemana?" tanya nya


"Bukannya aku sudah bilang sebelumnya aku akan membawamu ke rumahku untuk bertemu dengan papi malam ini" ungkapnya


"Ah itu ya" yasmin tiba-tiba baru ingat jika reno sempat mengatakan jika ia ingin membawanya bertemu ayahnya saat yasmin menemuinya dikantor tadi siang, namun yasmin bodohnya benar-benar melupakan hal itu.


"Cepat bersiaplah" sahut reno, ia menambahkan "Jangan lupa pakai cincinmu" ucapnya mengingatkan


"Oke!"


Suasana dirumah reno


Zidah anggara menyambut hangat kedatangan yasmin dan reno, ia seperti biasanya tak pernah berubah sangat besikap ramah pada yasmin sama persis seperti saat yasmin masih berstatus sebagai pacar reno waktu itu.


"Papi sudah suruh nenek kate untuk menyiapkan makanan kesukaan kalian" ungkap zidan


Beberapa saat kemudian di menja makan, yasmin melihat ke arah nenek kate penuh harapan “Ada banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan pada nenek kate” batinnya


"Yasmin sejujurnya papi benar-benar terkejut bahkan tidak percaya ketika reno mengakatan jika ia akan menikahimu, reno kamu adalah pria yang paling beruntung bisa menikahi gadis secantik dan sebaik yasmin ini" ungkap zidan


"Yasmin ada yang ingin papi tanyakan, kamu menikah dengan reno bukan karena terpaksa kan?" tanya zidan tiba-tiba


Entah kenapa yasmin malah dengan lantang nya mengungkapkan "Aku mau menikah dengan reno karena memang aku mencintainya"


Reno sontak menoleh ke arah yasmin ia tekejut yasmin bisa menjawab pertanyaan ayahnya dengan selantang itu, padahal reno sempat khawatir jika yasmin akan merasa gugup saat mendapat pertanyaan semacam itu.


"Seneng dengernya kalau kalian memang saling mencintai" ungkap zidan


“Sebenarnya aku tahu cara apa yang reno pakai untuk bisa menikahinya, namun saat mendengar yasmin mengakatan jika ia mencintai reno itu terdengar tulus dari hatinya, aku senang jika itu benar artinya putraku masih memiliki harapan untuk memiliki tempat dihatinya” batin zidan


beberapa saat kemudian, reno tengah pergi ia meninggalkan yasmin berdua saja dengan zidan karena ia menerima telpon penting dari gavin mengenai pekerjaan.


"Om maaf aku mau ke kamar mandi, kamar mandinya dimana ya?" tanya yasmin tiba-tiba


"Yasmin panggil papi" ungkap zidan mengingatkan, zidan juga menambahkan "kamu ini pura pura lupa ya letak kamar mandi dimana? kamu kan dulu sering diajak reno kesini juga"


yasmin tersenyum canggung "Deket dapur ya?"


“Sebaiknya aku mengarahkan yasmin untuk pergi ke kamar lama reno, disana banyak sekali foto-fotonya, reno mengoleksi fotonya lebih dari 1000 foto dikamar itu. kadang aku heran putraku ini sangat mencintainya atau lebih ke arah hanya terobsesi padanya?” pikir zidan “Biarkan yasmin mengetahui kalau reno sangat mencintainya melebihi dia mencintai dirinya sendiri” batin zidan


"Kamu ke toilet atas saja dikamar reno yang dulu masih ingat kan?" tanya zidan


“Memangnya reno pindah kamar ya?” batin yasmin


"Pintu ke dua kan om, eh maaf papi"


Zidan menganggukkan kepalanya membenarkan