Nothing Like Us

Nothing Like Us
Muncul nya Alika



Gadis itu lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan nya sudah menujukan pukul 12 siang, sontak saja kelopak matanya terbuka lebar dan alisnya juga naik gadis itu benar-benar terkejut ia harus segera pergi untuk bekerja.



"Yasmin ada apa?" Steven wesley terlihat khawatir melihat gerak gerik tubuh putrinya itu seperti orang yang sedang gelisah



"Ah itu, bukan apa-apa" Gadis itu lalu tersenyum tak simetris dan matanya memandang ke arah lain, ekspresi ini menujukan kebohongan



Yasmin membaringkan kepalanya ditubuh papa nya, ia termenung dalam lamunannya ia benar-benar tak ingin meninggalkan papa nya sendirian dalam kondisi seperti ini, jika ia pergi ia pasti akan terus-menerus menghawatirkan kondisi papa nya.


Namun gadis itu tetap harus bekerja karena ia adalah tulang punggung keluarga saat ini.



"Yasmin jika ada hal lain pergilah jangan terus-menerus menghawatirkan papa, papa akan baik-baik saja"



"Orang-orang itu memperlakukan mu dengan tidak baik, bagimana papa bisa mengatakan ini"



"Yasmin bukan nya kamu harus mencari cara untuk membebaskan papa dari sini, kalau kamu terus-menerus disini tanpa tindakan apa hasilnya akan ada"



Yasmin sontak saja tertegun, ia kemudian berpikir apa yang papa nya katakan itu adalah benar.



"Berjanji lah padaku, papa akan baik-baik saja kan? Jangan terlalu sering menyinggung si tua Bangka itu, aku tidak ingin dia melukaimu"



"Papa akan baik-baik saja, papa janji"



Gadis itu masih saja tetap merasa khawatir harus meninggalkan papa nya di kondisi seperti ini.



"Pergi lah" Steven wesley lalu terus mencoba meyakinkan putri nya ini



Dengan berat hati ia akhirnya benar-benar mau tidak mau harus meninggalkan papa nya di rumah roger hardware sendirian dengan kondisi seperti itu.


Gadis itu lalu melangkah kan kaki nya menjauh dari rumah si tua bangka itu, namun tetap saja ia di hantui rasa khawatir atas kondisi papa nya.



Sekarang sudah menujukan pukul delapan malam, seharusnya sudah saat nya gadis itu bergegas pulang kerumahnya.


Namun Cuaca malam ini benar-benar buruk, hujan yang begitu lebat disertai suara gemuruh petir yang akhirnya mengharuskan gadis itu tetap berada di area cafe untuk meneduh.



Tak ingin membuat mama nya di rumah merasa khawatir ia pun mengirimkan sebuah pesan teks


'Ma maaf seperti nya Aku akan pulang terlambat, hujan nya begitu lebat. mama tidur saja duluan tidak perlu menunggu ku'



Yasmin sebenarnya ingin sekali berbicara melalui telpon, namun apa daya ia saat ini sedang tidak mempunyai cukup pulsa untuk menghubungi mama nya via telpon


"Semoga saja mama membaca SMSnya"



Gadis itu terus menunggu hujan akan berhenti bersama beberapa teman kerja nya.



Di sisi yang lainnya di rumah besar anggara~



Saat ini reno dan papi nya juga tak lupa dengan nenek cate pengasuh reno anggara sedari kecilnya sedang menikmati makan malam keluarga.



"Bagaimana prilaku reno dalam dua tahun ini tanpa pengawasan saya?" Tanya zidan anggara pada nenek cate



Nenek cate pun spontan melirik ke arah reno seolah-olah ia ingin ada yang dibicarakan tetapi ia takut salah berbicara.



"Katakan saja tidak perlu takut pada nya, saya orang tua nya berhak tahu"



"Tuan zidan, tuan muda anggara sudah benar-benar banyak berubah"



"Nenek cate jangan karena kau begitu menyanyangi putra ku, kau melindungi nya dari semua kesalahan"



"Saya berkata apa ada nya tuan" Nenek cate pun berbicara dengan gaya bicara sungguh-sungguh bermaksud untuk meyakinkan zidan anggara



"Tapi informasi yang saya dapat justru anak ini banyak sekali membuat onar"



"Ini waktu kita makan malam bukan waktu nya papi untuk menginterogasi nenek"


Reno terlihat kesal pada papi nya ini, ia benar-benar begitu kesal mengapa harus di waktu makan seperti ini membahas hal seperti itu



"Reno saat itu papi membawa mu ke pusat rehabilitasi agar pikiran mu juga terbuka tapi tidak papi sangka kamu masih sama saja, membuat skandal dengan begitu banyak nya wanita untuk apa? Papi sekarang agak menyesal memberimu jabatan tinggi dan kekuasaan di beberapa perusahaan papi, saat itu papi mempercayakan nya pada mu agar kamu juga bisa mendewasakan diri dan membantu papi mu ini untuk mengelola perushaan, tapi sepertinya karena merasa kamu sudah hebat memiliki kekuasaan atas perushaan besar kamu juga jadi bisa bersikap seenaknya"



Reno yang sudah tidak tahan medengar ocehan papi nya, pria itu pun sontak saja berdiri dan langsung melangkah kan kaki nya untuk menjauh dari meja makan.



"Tuan muda, mau kemana" Tanya nenek cate khawatir



"Ke kamar" Balasnya singkat



Reno langsung saja terus begegas melangkahkan kaki nya menjauh dari meja makan itu, namun langkah kaki nya sempat terhenti pria itu kemudian berkata "Soal wanita, mereka sendiri yang mendekatkan diri padaku. Aku hanya mencintai satu wanita"


pria itu pun langsung melanjutkan langkah kaki nya.



"Dia rupa nya masih begitu mencintai gadis itu"



Reno saat ini berada dalam kamar nya, pria itu memandang ke arah jendela terlihat lah hujan yang begitu lebat dan terdengar suara kemuruh petir.


Entah kenapa ia tiba-tiba merasa khawatir pada gadisnya itu


Pria itu lalu tanpa pikir panjang langsung menelpon orang yang ia suruh untuk mengikuti Yasmin dan menjaga nya setiap saat.



Ia mendapati kabar bahwa Yasmin belum pulang kerumah nya dan masih di tempat kerja nya karena terjebak hujan yang begitu lebat ini.


Mendengar kabar itu membuat reno begitu khawatir ia sontak saja tanpa pikir panjang langsung bergegas untuk menyusulnya



"Mau kemana kamu" Tanya zidan anggara yang melihat anaknya terlihat begitu panik dan buru-buru



"Aku buru-buru"



"Di luar cuaca nya begitu buruk, papi tidak mengizinkan mu pulang ke vila mu."



"Aku ada urusan lain"



Reno yang tak ingin berlama-lama beradu argumen dengan papi nya itu langsung saja berlari menuju garasi mobilnya.


Pria itu lalu mengemudi dengan kecepatan tinggi, walaupun ia sangat mengetahui mengemudi di cuaca seperti ini dengan kecepatan tinggi itu membahayakan diri nya sendiri namun ia benar-benar tidak perduli akan itu, ia hanya mengkhawatirkan gadis nya itu.



Beberapa saat kemudian



"Yasmin"



Gadis itu menoleh terkejut melihat ke arah pria dengan setelan piyama abu-abu. Karena terburu-buru pria itu bahkan tidak sempat berganti baju.



Ke dua teman wanita nya seolah-olah tak percaya yang dilihatnya saat ini adalah pengusaha muda yang terkenal dengan ketampanan nya dan kesuksesan nya mendirikan perusahaan ayahnya hingga menjadi top perusahaan nomor #1 di negara nya.



Ke dua teman nya itu melongo dan saling memandang mereka hanya sibuk memapar pipi nya sendiri, mereka berpikir jika ini hanya sebuah mimpi.



Yasmin sama hal nya dengan kedua temannya, gadis itu juga terkejut kelopak matanya membesar dan mulutnya spontan terbuka sedikit. Ia benar-benar terkejut akan pria ini yang tiba-tiba saja datang.



Pria itu kemudian melangkah kaki nya mendekati gadisnya itu dengan bajunya yang sudah setengah basah.


Pria itu sontak saja menarik pergelangan tangan Yasmin agar mengikuti nya


"Ayo pulang!"



Yasmin kemudian melirik kedua temannya yang masih saja sibuk mencari tahu ini mimpi atau kenyataan



Reno menepukan kedua tangannya, kemudian tiba-tiba saja ada dua orang laki-laki masuk.



"Antar mereka pulang" reno memerintah bodyguard nya untuk mengantarkan kedua teman Yasmin untuk pulang



Reno yang lupa menyediakan payung di setiap mobilnya benar-benar merasa sial, ia tak ingin saat gadisnya menuju mobilnya itu harus kehujanan walaupun hanya sedikit.


Pria itu dengan gentleman merangkul gadisnya dan meletakkan satu tangannya diatas kepalanya ia berharap tak ada satu tetes air hujan pun jatuh ke kepala gadisnya itu yang akan membuatnya sakit.



Beberapa saat kemudian, reno bersikeras mengantarkan Yasmin sampai depan rumahnya namun Yasmin terlihat begitu khawatir gadis itu tidak ingin mama nya melihat dirinya di antar oleh mantan pacar nya.



"Terima kasih" Kata Yasmin singkat



Gadis itu lalu sibuk membuka seat belts mobil, namun dengan tiba-tiba reno mencium pipi kanan gadisnya itu dan berkata "selamat istirahat" Dengan manis



Gadis itu tak menjawab apa pun ia langsung saja membuka pintu mobil dan keluar dari mobil pria itu


Namun saat pria itu hendak pergi ia sempat berkata "hati-hati di jalan, terima kasih"



Ke esokan hari nya di vila reno anggara


Nadia saat ini begitu cemas mengetahui putra nya semalaman tidak pulang ke vila ini, ia juga tidak ada memberi kabar padanya. Ia mencoba terus menelpon ke handphone nya melalaui telpon vila ini namun terus menerus dialihkan.



Nadia melangkah kan kaki nya menuju ke kamar putra nya itu, ia berharap mendapatkan buku catatan nomor ponsel teman teman putra nya, karena ia benar-benar khawatir terhadap putra satu-satunya itu.



Ia sudah mencari diberbagai laci kamar nya namun masih juga tak menemukan apa yang ia cari, ia sempat menanyakan pada dua pembantu di rumah ini namun tak ada yang mengetahui nya maka dari itu ia memutuskan untuk mencarinya sendiri walaupun kedua pembantu itu sudah mengingatkan nya untuk tidak menghawatirkan putra nya itu karena mungkin saja putra nya itu pulang ke rumah besar anggara namun sebagai seorang ibu Nadia masih belum puas ia masih merasa khawatir kalau tidak mendapat kan informasi pasti di mana putra nya itu berada saat ini.


Bukan nya menemukan apa yang ia cari justru ia melihat selembar foto yang sudah setengah hangus terbakar tersimpan di laci kamar putra nya


Foto putra nya dengan seorang wanita, namun sangat disayangkan wajah wanita itu tak telihat jelas karena sudah terbakar.



Nadia lalu mengingat-ingat ada seseorang yang memberinya informasi mengenai anak nya yang masuk rehabilitasi mental karena kehilangan kekasihnya.


Walau saat itu ia dengan tega meninggalkan anak nya namun Nadia tak begitu saja melupakan anak nya itu ia masih mendengarkan jika ada seseorang yang ingin memberikan kabar tentang anak nya.



Nadia lalu menanyakan tentang foto itu kepada salah satu pembantu di vila ini


"Apa ini foto dia dengan gadis yang ia cintai itu" Nadia menyodorkan foto itu untuk dilihat oleh pembantu vila ini



"Mungkin saja nyonya, yang saya tahu tuan muda anggara benar-benar sangat mencintai mantan nya itu"



Nadia lalu berpikir jika saja ia bisa memberikan putra nya sebuah kejutan dengan mendatangkan mantan nya itu, apa kah mungkin putra nya itu akan memaafkan segala kesalahan nya? Namun ia benar-benar tak tahu keberadaan wanita yang dicintai putra nya itu, bahkan wajah nya saja ia tak tahu foto yang ada ditangannya ini wajah dari wanita itu terbakar.



Lalu nadia ada kepikiran menghubungi orang yang sering memberikan informasi tentang putra nya saat itu, namun Nadia lagi-lagi merasa sial ia tidak tahu nomor ponsel dari orang itu.



"Hanya foto ini yang ada di laci kamar nya tidak ada lagi, tetapi kenapa wajah perempuan ini reno bakar?" Gumam nadia



"Nyonya, saya akan siap kan sarapan"



"Tidak perlu, saya akan berolahraga ditaman dekat sini dan saya akan sarapan diluar"



"Baik"



Nadia berolahraga lari mengelilingi taman yang tak jauh dari vila nya, namun tiba-tiba saja ia bertemu teman lama yang anaknya juga teman dari reno anggara putra nya.


Nadia kemudian berpikir mungkin saja anak dari teman lama nya ini mengetahui soal mantan reno yang terakhir


Setelah berbincang-bincang basa basi ahkirnya nadia to the point, ia ingin dipertemukan dengan anak dari teman lama nya ini.


Siska akhirnya menyetujui


Nadia dan Siska asik bercerita soal-soal lalu di sebuah cafe sambil menunggu anak dari siksa ini datang


Tak lama kemudian anak dari teman lama nya ini muncul ia bernama naufal, ia adalah teman dari reno anggara walaupun mereka tak begitu dekat namun Nadia berharap banyak terhadap naufal.



"Nah ini anak ku"



"Tante to the point saja ya, apa kamu mengetahui soal mantan pacar anak tante yang terkahir?"



Naufal hanya tertegun mendengar pertanyaan dari Nadia



Dalam pikiran Nadia “ wanita yang dicintainya seharusnya mantan terkahir reno kan, dia setelah itu tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun”



Nadia kemudian menyodorkan sebuah foto yang ia temukan dilaci kamar putra nya itu


"Gadis ini siapa"



Naufal kemudian langsung teringat akan alika yang memposting foto yang sama di media sosialnya beberapa tahun lalu, pria itu sangat tahu baju yang alika pakai dan reno pakai. sudah jelas ini foto mereka berdua walaupun foto wanita nya sudah hangus terbakar.



"Wanita ini sepertinya alika, Alika Meliana. Mereka memang berpacaran beberapa tahun lalu"



"Dimana sekarang wanita itu?" Nadia benar-benar bersemangat tak sabar ingin melihat wanita yang begitu dicintai reno putra nya itu



Beberapa saat kemudian



"Tante kenapa ya ngajak saya ketemuan disini?"



Akhirnya nadia bertemu dengan wanita yang putra nya begitu cintai, kesan pertama saat bertemu dengan nya Nadia melihat wanita ini terlihat biasa saja tidak terlalu cantik tak seperti yang ia bayangkan.