Nothing Like Us

Nothing Like Us
Berharap



Keesokan paginya...


“Huh setiap pria pasti akan mengakatan hal yang sama bukan? Ya, ketika mereka sedang dalam keadaan nafsu” pikir yasmin, sambil memperhatikan suaminya yang tengah sibuk siap-siap untuk pergi ke kantor; dalam hatinya gadis itu begitu berharap reno akan berinisiatif mau sedikit saja membahas dan mencoba menjelaskan padanya lagi perkataannya tadi malam


Reno yang kemudian menyadari istrinya itu sedang memperhatikannya dengan serius sontak saja ia mencoba menegurnya "Hey ada apa? apa kamu belum puas tadi malam?" ia lalu malah mencoba menggoda istrinya


Yasmin memutar bola matanya lalu menghela nafas, gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya ia sepertinya agak kecewa dikarenakan ketidak pekaan suaminya tersebut


Ia kemudian memutuskan untuk keluar kamar saja, rasanya ia sudah begitu malas untuk menanggapi godaan dari suaminya itu karena memang sejujurnya dari awal bukan lah itu yang yasmin harapkan.


Baru saja melangkah kan kaki beberapa langkah mendekati pintu keluar kamar, tiba-tiba saja reno menyahuti nya, ia lalu memeluk yasmin dari belakang dan bertanya "Mau kemana?"


Yasmin mencoba membuat alasan "Aku mau pergi kedapur membuat sarapan"


Reno berbisik di telinganya "Kalau kamu mau melakukannya sekali lagi, aku nggak keberatan" lalu ia tertawa kecil merasa begitu puas setelah menggoda istrinya


"Cukup ren!" pekik yasmin ia terlihat begitu kesal "Bukan.. sebenarnya bukan itu yang aku mau" ungkapnya dengan serius "Aku..." entah kenapa ia sebenarnya merasa begitu gugup saat akan menanyakannya langsung, jadi yang yasmin inginkan adalah reno yang membahasnya terlebih dulu


Yasmin malah mengurungkan niatnya, dan menghela nafasnya kembali "Lepaskan tanganmu aku ingin membantu nenek kate untuk menyiapkan sarapan" ungkap yasmin


Reno mengernyit "Apa yang sebenarnya kamu coba katakan tadi?" ia telihat penasaran akan apa yang sebenarnya ingin istrinya coba katakan


"Lupakan!"


"Yasmin aku ingin mendengarnya"


Namun tiba-tiba saja terdengar suara seseorang mengetuk pintu kamar, ia tak lain adalah zidan anggara


ia mengetuk pintu kamar beberapa kali sambil menyahuti anak dan menantunya itu untuk segera keluar kamar dan sarapan bersama


Diruang makan


"Kenapa kalian nggak tinggal disini saja? mengapa harus divila?" tanya zidan


Yasmin melirik ke arah reno terlihat kebingungan dalam hatinya ia menggerutu “Vila apaan? setelah kami menikah kami tinggal di sebuah apartemen”


Reno dan yasmin saling melirik satu sama lain, reno tersenyum saat menatapnya sangat berbeda dengan yasmin yang hanya sontak tertegun.


“Kabar baik? Hamil?” batin yasmin


Beberapa saat kemudian, yasmin mengantarkan reno yang hendak pergi bekerja.


Reno merentangkan tangannya tiba-tiba yasmin telihat kebingungan dengan tingkah suaminya tersebut "Hah?"


Reno mencondongkan tubuhnya mendekat pada yasmin lalu ia bertanya "Apa semuanya sudah telihat rapih?"


Yasmin kemudian melihat dasi reno yang tidak terpasang rapih dalam pikirnya “Seharusnya dia sudah ahli memasang dasi sendiri, dia pasti sengaja”


Yasmin menghela nafasnya mencoba sabar lalu ia membenahi dasi reno yang tak terpasang rapih tersebut


"Istriku yang baik" sahut reno memuji


"Selesai"


Reno menatap istrinya dengan serius dan ia tiba-tiba berkata "Yas, percaya atau tidak itu terserah padamu"


Yasmin tertegun


Reno lalu melanjutkan kata-katanya "Aku mencintaimu" ia mencium bibir istrinya


“Dia mengatakannya lagi? kali ini apa karena nafsu atau memang tulus dari hatinya?” batin yasmin


Entah kenapa setiap reno menciumnya yasmin malah terus-menerus membalas ciuman tersebut, dan merasa sangat sulit untuk menolaknya


Disisi lain ternyata ada zidan yang melihatnya, ia terlihat bahagia mengira yasmin sudah benar-benar mengetahui perasaan putranya itu dan menerimanya kembali di hatinya.