
Beberapa daat kemudian.
Saat bersama keluarganya Yasmin telihat sedikit terhibur dan bahagia, namun lain lagi saat ia kembali sendirian ia hanya bisa melamun dan menangis diam-diam meratapi hidupnya yang kacau akhir-akhir ini.
“Maaf ma, maaf.” batin yasmin merasa bersalah tak jujur kepada ibunya
“Sepertinya suasana hati nona yasmin saat ini kurang baik, dari tadi ia hanya menangis tersedu-sedu” batin sopir
"Nona apakah nona yasmin sudah mau balik ke apartemen?" tanya sopir, namun yasmin mengabaikannya tetapi itu bukan dengan sengaja ia hanya tidak mendengarnya karena yasmin sedang telihat melamun
"Nona.." Sahut sopir menyadarkan
"Ah, iya. kenapa pak?" tanya yasmin telihat linglung
"Apa setelah ini nona akan langsung pulang ke apartemen? atau masih ada tempat yang mau dikunjungi"
"Em."
Yasmin memikirkan nya sejenak lalu ia terpikirkan “Oh iya, aku harus menemui Justin untuk meminta bantuannya agar dia mengklarifikasi soal berita itu” pikir yasmin
"Pak tolong ke klub dijalan xx ya" sahut yasmin
"Nona yasmin mohon maaf sebelumnya, jika sedang banyak pikiran sebaiknya jangan lari ke minum-minuman beralkohol itu tidak sehat."
"Hah?! aku kesana bukan untuk minum-minum kok aku kesana hanya untuk menemui seseorang" ungkap yasmin "Tolong agak cepat sedikit ya pak" sahut yasmin
Yasmin melihat jam yang melingkar ditangannya masih menunjukkan pukul tujuh malam “Masih jam segini ya? reno kira kira pulang kerja jam berapa ya?” pikir yasmin
Setibanya diklub malam.
Yasmin bergegas menanyakan keberadaan Justin pada bagian resepsionis disana, namaun ternyata Justin tak ada diklub tersebut malam ini.
Sontak telihat raut wajah kecewa saat yasmin mendengarnya
"Kau kan kekasihnya kenapa tidak langsung saja ke apartemennya?" sahut seseorang dari bagian resepsionis
"Hah?! aku bukan..." yasmin hendak menjelaskan bahwa dia sebenarnya bukan kekasih dari Justin Jonathan namun kemudian ia terpikir apa memang ia seharusnya datang ke apartemennya?
"Maaf kalau saya boleh tahu dimana alamat apartemen Justin?" tanya yasmin
"Kamu ini kan kekasihnya masa tidak tahu tempat tinggal priamu?"
"Em.. aku... sebenarnya"
"Sudahlah ini aku sudah mencatatnya" bagian resepsionis itu dengan mudahnya meberikan yasmin alamat apartemen dimana Justin Jonathan tinggal
"Tolong antarkan aku ke alamat yang ada dikertas ini ya pak."
Sesampainya di apartemen Justin Jonathan.
Saat turun dari mobil Yasmin begitu memperhatikan dengan teliti gadis begitu terlihat was-was apakah akan ada paparazi lagi di sekitarnya atau tidak.
Yasmin menghela nafasnya “Sepertinya tidak ada paparazi yang menguntit, sepertinya aman” pikir yasmin
Sesampainya ia dipintu depan apartemen Justin Jonathan, gadis itu memencet bel beberapa kali namun tidak ada jawaban sama sekali dari dalam.
“Apa dia juga tidak ada di apartemennya?” pikir yasmin
Namun tiba-tiba Yasmin mendengar suara seperti kelas pecah di dalam apartemen Justin
“Oh dia didalam ya?!” pikir yasmin
Yasmin kemudian mencoba kembali membunyikan bel apartemen Justin
“Masa dia tidak mendengar bunyi bel sama sekali? atau mungkin dia memang sedang tidak ingin diganggu ya” pikir Yasmin
Yasmin membalikan badannya hendak pergi saja. namun tiba-tiba seseorang membuka pintu.
Seorang perempuan kira kira berumur 42 tahun yang ternyata ia adalah seorang pembantu di apartemen Justin
“Mampus aku jangan-jangan aku salah amat” pikir yasmin
“Ini kan kekasih dari tuan justin, mungkin dia bisa membantu menghentikan tuan Justin menyakiti dirinya sendiri” pikir pembantu justin yang bernama eva
Dengan panik ia tiba-tiba saja berlutut di hadapan Yasmin "Nona sukurlah kamu datang kesini tolong tuan, dia sedang menyakiti dirinya sendiri"
Sedangkan yasmin hanya tertegun, bagimana tidak ia begitu tekejut tiba-tiba saja seseorang berlutut didepannya telebih lagi orang itu lebih tua darinya
namun tak lama Yasmin pun ikut berlutut Menyeimbanginya.