Nothing Like Us

Nothing Like Us
Mendapatkan pekerjaan



"Aku berangkat" ucap reno, ia lalu tak lupa mengingatkan "Kalau mau pergi kemana-mana hubungi pak suhipto"


Yasmin mengangguk "Oke."


Tak lama setelah reno pergi, yasmin menoleh ke arah samping dan kemudian menyadari kehadiran zidan anggara yang ternyata sedari tadi sedang memperhatikannya dari kejauhan


Seluruh tubuhnya sontak seperti dibaluti rasa malu "Papi?" yasmin tersenyum canggung


Zidan anggara tersenyum, lalu melangkah kan kakinya mendekat. Ia sontak saja memeluk menantunya itu "Terima kasih banyak yasmin" ungkapnya terdengar tulus


Yasmin terperangah ia telihat kebingungan dan bertanya-tanya untuk apa zidan anggara berterimakasih padanya?


"Terima kasih? terima kasih untuk apa?" tanya yasmin “Aku merasa tidak melakukan apapun” batinnya heran


“Tentu saja terima kasih karena kamu telah menerima putraku kembali, aku benar-benar nggak bisa membayangkan bagaimana jadinya reno jika kedepannya ia masih tanpa yasmin” batin zidan


Namun tiba-tiba saja...


"Tuan, Nona. mohon maaf menganggu, nona ini ponselmu dari tadi berdering dan maaf saya lancang mengambilnya dari dalam kamar takutnya ada hal penting"


"Kamu Terima dulu saja telponnya papi ada banyak kejaan yang perlu dicek" zidan anggara meninggalkan yasmin begitu saja


“Eh ayah dan anak sama saja, sama-sama susah menjelaskan apa yang mereka katakan sendiri sebelumnya membuat orang penasaran saja” batin yasmin


Yasmin melihat layar ponselnya, ternyata fany yang menelponnya. ia mengabari yasmin jika dosen pembimbingnya tidak datang ke kampus hari ini jadi yasmin tidak perlu pergi kesana.


Yasmin mengela nafas merasa lega jadi hari ini ia bisa pergi mengunjungi ayahnya dan setelah itu ia mencoba mencari pekerjaan


“Aku akan mengunjungi papa, setelah itu baru mencari pekerjaan, tapi sebelumnya lebih baik aku ganti pakaian dulu pulang ke apartemen, dress yang aku kenakan ini terlalu mencolok” batin yasmin, ia sebelumnya di sediakan dress oleh asisten rumah tangga disini


Beberapa saat kemudian dirumah sakit jiwa


"Jadi bagaimana keadaan papaku apa dia sudah nggak mencoba untuk bunuh diri lagi?" tanya yasmin pada dokter psikolog


"Nona anda tenang saja, Pak Steven sudah jarang hilang kendali, sekarang sekarang ini dia sangat tenang sepertinya kondisi mentalnya sudah membaik, trapi yang kita lakukan sudah membuahkan hasil"


Yasmin telihat sangat lega dan senang saat mendengarnya "Syukurlah aku benar-benar khawatir"


"Aku ingin melihat papaku" sahut yasmin


"Sebaiknya jangan dulu pak Steve sudah sangat tenang jika dia mengingatmu dan mengingat kembali pada kesalahannya takutnya mentalnya terganggu lagi"


Yasmin sontak telihat sangat sedih tapi ia menganggukkan kepalanya mencoba memahami kondisi


Beberapa saat kemudian yasmin keluar dari rumah sakit jiwa, ia senang mendengar ayahnya sudah membaik namun ia juga sedikit kecewa karena tidak bisa benar-benar melihat dan menyapa ayahnya. tetapi ia harus memahami kondisinya ya mau tidak mau yasmin harus dituntut mengerti


"Pak suhipto maaf lama, Bapak nggak pergi menjenguk anak bapak dulu?"


"Tidak apa-apa nona" ia menambahkan "Saya akan menjenguknya besok saja bersama istri saya dan adik-adiknya"


"Oh" yasmin kemudian melihat suhipto yang sedang memegang sebuah koran ditangannya


“Kebetulan sekali siapa tahu aku bisa menemukan lowongan pekerjaan di Koran” batin yasmin penuh harapan


"Pak boleh saya lihat korannya?" pinta yasmin dengan tidak enak hati


"Silahkan silahkan, saya membelinya tadi" suhipto menyodorkan koran tersebut kepada yasmin


Yasmin mengambilnya "Terima kasih"


Yasmin melihat ada sebuah prusahaan kosmetik yang membutuhkan sales, bahkan perusahaan tersebut menyebutkan jika diperuntukkan untuk orang yang ingin kerja paruh waktu jadi yasmin lega jika bisa membagi waktu kuliahnya dan bekerja dan ngaji yang dijanjikan nya pun lumayan tergantung kita mencapai target atau tidak setidaknya menjual 10 produk dalam sehari, dan lagi pula tidak diragukan lagi produk kecantikan tersebut sebenarnya sudah terkenal dinegara ini sudah banyak pemakainya terutama lipstiknya sangat populer


"Pak suhipto tolong ke alamat perusahaan yang ada dikoran ini ya"


Beberapa saat kemudian


"Saya ingin melamar pekerjaan sebagai sales disini, saya melihat lowongannya dikoran ini surat lamaran saya"


"Hah? dia cantik sekali aku harus ajak dia ketemu boss dia sepertinya lebih cocok menjadi model produk terbaru kami"


"Mari ikut dengan saya..."


"Emm, maaf kenapa saya langsung dibawa ke sini?"


"Silahkan masuk" ia membuka kan pintu untuk yasmin


"Siapa lagi yang kamu bawa" sahut CEO perusahaan kosmetik tersebut


"Lihat dulu boss!"


Ceo perusahaan kosmetik itu melihat yasmin dari bawah sampai ke atas “Waw dia sangat cantik” batinnya


"Silahkan duduk"


Yasmin langsung duduk dikursi dan ia langsung saja berbicara ke intinya "Saya ingin melamar pekerjaan sebagai sales kosmetik diperusahaan ini"


"Mana saya lihat surat lamarannya"


“Kenapa agak aneh ya? kenapa aku malah langsung berhadapan dengan CEO perusahaannya?” batin yasmin, ia menyerahkan surat lamarannya


"Kamu masih kuliah?" tanya nya


Yasmin dengan cepat mengangguk


"Bagaimana jika kamu menjadi model kosmetik dari perusahaan saya ini?" tawarnya


"Apa?!"


"Saya akan mengaji kamu tinggi sekali pemotretan, tertarik?"


“belajar dari pengalaman sebelumnya aku nggak boleh gitu aja menandatangani kontrak aku harus tahu betul pekerjaan seperti apa itu” batin yasmin


"Liptint kami mengeluarkan produk liptint baru-baru ini, sepertinya kamu sangat cocok untuk menjadi model produk kami ini"


"Tetapi aku tidak memiliki bakat sama sekali sebagai seorang model"


"Kami akan mengarahkannya pelan-pelan, saya pribadi sangat menyukaimu"


"Boleh aku tahu cara kerjanya seperti apa?"


"Tentu saja, Ngomong-ngomong saya belum memperkenalkan diri secara khusus padamu. saya Catherine" CEO perusahaan kosmetik tersebut mengajak yasmin berjabat tangan, dan yasmin dengan senang hati mengulurkan tangannya "Saya yasmin"


Beberapa saat kemudian yasmin sudah melihatnya dan memang pekerjaan yang benar-benar hanya menjadi seorang model untuk sebuah kosmetik bukan hal aneh-aneh seperti yang pernah ia alami sebelumnya, karena ia juga sangat membutuhkan uang untuk biaya hidup ibu dan juga adik-adiknya akhinya yasmin bersedia menjadi model dari produk prusahaan tersebut lagipula ia berpikir CEO perusahaan itu benar-benar baik padanya, ia sangat persikap ramah nilai plus itu membuatnya tersentuh.


"Besok kamu kembali kesini, siang ya. kontraknya akan saya urus dulu, sebenarnya kamu hanya perlu pemotretan sekali saja, cuma fungsinya kontrak tersebut hanya mengikat kamu selama tiga bulan untuk tidak menerima menjadi model di brand lain"


"Saya mengerti"


Beberapa saat kemudian yasmin langsung bergegas untuk pulang, saat ia menuju pintu keluar prusahaan tiba-tiba ia berpapasan dengan alika.


"Yasmin" alika menyapanya dengan senyuman aneh


Sontak langkah kaki yasmin terhenti “Alika kenapa dia ada disini?” batin yasmin


Alika mendekati yasmin dan kemudian berbisik "Aku sudah tahu semuanya lho" yasmin hanya tertegun tak mengerti yang dimaksud alika itu apa, wanita itu melanjutkan omongannya "Kamu hebat, bisa menjadikan Reno dan Justin sebagai sumber uangmu, aku sudah tahu mengenai papamu yang korupsi uang perusahaan puluhan miliar, jadi kamu memanfaatkan reno kan untuk menebus papamu itu? tapi sayangnya papamu jadi gila setelahnya karena kehilangan jabatan sebagai direktur perusahaan, yasmin benarkan papamu gila?" yasmin mengepal tangannya ketika mendengar alika menekankan kata-kata jika ayahnya gila namun ia masih terlihat menahan emosinya


"Aku peringatkan jauhi reno, nggak usah khawatir setelah itu aku janji akan mengenalkanmu pada sugar daddy yang kaya raya, kamu bisa menjual tubuhmu padanya sesukamu tentunya agar mendapatkan pundi-pundi uang lebih banyak. hey yasmin apa kamu tertarik?"


“Tenang yasmin tenang” yasmin terus mencoba mengontrol emosinya


"Alika sepertinya menjadi dirimu itu sangat menyedihkan ya? Bukan kah kamu pernah mengatakan dengan percaya dirinya, kalau reno itu begitu mencintaimu dan kalian akan segera menikah. lantas mengapa kamu harus setakut ini sampai mencoba mengacamku? apa kamu sudah mengaku kalah sebelum kita bersaing?" sindir yasmin


Alika tertegun hatinya saat ini penuh dengan kebencian


Yasmin melanjutkan langkah kakinya namun ia sempat sempatnya membisikkan hal yang membuat alika semakin murka "Aku kasih tahu kamu, reno setiap hari selalu mengakatan jika dia sangat mencintaiku"


alika sontak mengepal tangannya menahan emosinya, ia merasa seperti ingin menjambak yasmin kala itu juga kalau bukan masih diarea kantor ia sudah menerkam yasmin dengan buasnya.


“Sialan yasmin jalang awas kamu hati-hati aku akan menghancurkanmu!” batin alika