Nothing Like Us

Nothing Like Us
Kamu mesum!



Reno kemudian memberhentikan mobilnya Setelah sampai gang komplek perumahan yasmin


pria itu menarik tubuhnya mendekat pada yasmin, sontak saja itu membuat yasmin terkejut sampai ia berpikiran yang tidak tidak



"Heh kamu mau ngapain?" yasmin mengatakan itu dengan gugup



Gadis itu berpikir reno akan menciumnya, namun ternyata reno hanya berniat membantunya membuka seat belt



"Aku hanya ingin membantumu membuka seat belt" ungkapnya sambil tersenyum jahil



Yasmin mengernyit "Hah???" rasa malu tiba-tiba saja menyelimuti seluruh tubuhnya



"Memangnya aku anak balita yang tidak bisa membuat seat beltsnya sendiri" kesal yasmin



reno menatap yasmin begitu dekat "sepertinya tidak sesuai harapan kamu ya?"



reno mencondongkan tubuhnya lebih mendekat, ia meraba pipi yasmin dan menatapnya


sedangkan yasmin ia seolah-olah terhipnotis oleh tatapan mata yang begitu mempesona itu


reno lalu mencium bibir gadisnya itu dengan lembut


yasmin begitu heran dengan dirinya sendiri ia menikmati sentuhan bibir reno yang sangat lembut, itu membuatnya lupa diri



yasmin merasa begitu naif, tubuhnya begitu menikmati setiap sentuhan lembut dari mantan pacarnya itu


namun dirinya mencoba terus-menerus memberontak



ia mendorong tubuh reno menjauh "Kamu mesum!"



"Aku hanya mewujudkan harapanmu" ucap reno tak bersalah



yasmin membuka pintu mobil dan langsung berlari ke luar, dirinya benar-benar diselimuti rasa malu.



Sedangkan reno menyentuh bibirnya sendiri dan membayangkan kembali ekspresi wajah gadisnya "dia sangat imut"



setelah berjalan kurang lebih 10 menit akhirnya yasmin sampai didepan rumahnya


ia begitu terperangah melihat buket bunga yang begitu besar didepan rumahnya bersama dengan ibunya yang begitu nampak kebingungan



Farah yang melihat anaknya sudah kembali sontak saja mencecarnya dengan pertanyaan



"Yasmin akhirnya kamu pulang, coba lihat sini.. buket bunga ini dari siapa? ini untukmu" tanya farah



"Ini pasti dibeli dengan harga yang mahal" ungkap farah



Yasmin tertegun “Ini pasti ulah reno kan? huh, dia pasti hanya tidak mau kalah dengan pria misterius yang mengirim buket bunga padaku” kesal batin yasmin



"Ma, anak gadismu ini sangatlah cantik. itu semua pasti dari penggemar fanatik anakmu ini" jawab yasmin berguyon



Disisi lainnya, reno akhirnya sampai di perusahaannya.


ia disambut dengan sopan oleh parakaryawan yang bekerja di perusahaannya, namun dirinya seperti engan menanggapi ia hanya berjalan pokus kedepan namun tetap saja gayanya yang dingin itu sungguh terlihat berwibawa dan mempesona


Pria itu kemudian memasuki lift untuk menuju ruang kerjanya



● Diruang kerja Reno



"Pak ini adalah berkas-berkas yang perlu anda tanda tangan" steffy asisten pribadi reno menaruh beberapa berkas dimeja kerjanya



"oke."



"Kalau begitu saya permisi pak" steffy memutar badannya hendak pergi



"Steffy"



namun tubuh steffy tertahan, ia kemudian menundukkan sedikit tubuhnya.



"Tidak ada, kamu sudah boleh pergi"



"Baik pak"



Reno trus memandangi ponsel yasmin, pria itu sedang menunggu seseorang menagih ganti rugi atas ponselnya yang mengaku dirusak oleh gadisnya



"kenapa masih belum juga ada telpon dari orang itu? siapa orang itu sebenarnya" reno bertanya-tanya



"Dia benar-benar menghambat, aku membutuhkan ktp yasmin untuk mendaftarkan pernikahan"



Menuju ke sore hari sekitar jam setengah dua yasmin kembali beraktivitas seperti biasa, ia langsung bergegas menuju cafe mawar tepat ia bekerja.


sesampainya ia di tempat kerjanya, seperti biasa yasmin harus berganti pakaian ia harus menggunakan seragam cafe.


namun kali ini ada yang berbeda seragam itu telah berubah tidak seperti yang ia kenakan biasanya



"woaaah, ada perubahan seragam ya?" tanya yasmin pada dewi salah satu teman baiknya dan pelayanan cafe juga seperti dirinya



"Ah itu, iya bagaimana menurutmu seragam baru kita?" ungkapnya



Yasmin melihat seragam kali ini begitu sederhana dan tertutup, bahkan seragam kali ini tak mengharuskan pelayannya menggunakan rok peplum yang ketat diatas lutut itu



"Ini lebih baik dari seragam sebelumnya" Yasmin memang merasa kurang nyaman dengan seragam yang diberikan oleh pihak cafe sebelumnya, seragam itu baginya terlalu ketat. terlalu memamerkan lekuk tubuh, ditambah lagi ia begitu kurang suka diharuskan selalu menggunakan rok ketat yang diatas lutut.



"Yas jangan bercanda, kamu lihat dengan benar seragam kita kali ini" dewi memutar badannya memperlihatkan "Persis seperti seragam perawat di rumah sakit jiwa" tambahnya



Yasmin hanya tertawa




Yasmin sontak tertegun



"Yas? kenapa?" tanya dewi



"Ini bukan soal seragam yang tidak enak dilihat, tapi aku sangat yakin yang dimaksud oleh tuan muda anggara itu adalah menyindir yasmin" sahut seseorang dari jauh



Yasmin mengernyit mendengarnya



"Yasmin yang memakainya tidak benar, itu pasti disengaja untuk menggoda tuan muda anggara iya kan? cuma sungguh disayangkan dia melihatnya jijik" yang berbicara sungguh frontal itu tak lain adalah caroline, salah satu pelayanan cafe mawar.


dari awal yasmin berkerja memang dia adalah satu-satunya orang yang tidak menyukai yasmin tanpa sebab



"Kak caroline jaga omongan kakak dong" sahut dewi



"Ngapain sih temanan sama jalang begitu, jelas-jelas aku melihatnya sendiri dia menggoda tuan muda anggara waktu itu" sahut caroline



"Dew, udahlah" walau sebenarnya yasmin juga merasa sakit hati namun ia mencoba menenangkan dewi temannya yang sudah terlihat begitu sensi



"Kamu itu kenapa sih sabar banget? dari awal dia nyindir nyindir terus kamu lho" tanya dewi



Yasmin menarik tangan dewi agar mengikutinya untuk menjauh dari caroline



"Dew, aku disini niatnya kerja bukan untuk mencari masalah dengan orang lain" ungkap yasmin



"Tapi yas, kamu tidak merasa dia udah keterlaluan banget apa sama kamu?" tanya dewi sensi



"Setiap orang punya hak untuk mengeluarkan pendapatnya, aku pribadi selagi aku tidak merasa seperti yang dikatakannya, aku tidak akan sampai tersinggung" ungkap yasmin



"Kamu ini benar-benar baik yas" dewi telihat terharu mendengarnya



Tiba-tiba saja ada yang menyahuti nama yasmin beberapa kali dari kejauhan, dan terus melambaikan tangannya.



"Yas.. Yasmin"



Ternyata orang itu adalah fany teman kuliah yasmin, ia datang ke cafe tempat yasmin bekerja.


fany berlari mendekat pada Yasmin



"Fany kamu tumben lho kesini" ucap yasmin begitu heran



"Kalau begitu yas aku tinggal dulu ya" kata dewi yang merasa tidak enak akan mengganggu obrolan antara yasmin dan fany



Yasmin tersenyum "iya"



"Fany ada apa?" tanya yasmin



"Aku Kesini tentunya untuk makan" jawab fany tersenyum namun seperti ada maksud lain



yasmin mengangguk mengerti.



"Aku menghubungimu ponselmu namun beberapa kali direject" ungkap fany



“Yang reject bukan aku, itu pasti reno” batin yasmin.



"Kamu tidak perlu khawatir aku tidak marah kok, aku mengerti kamu sedang sibuk bekerja dan tidak bisa untuk mengangkat telpon ku" tambahnya



Yasmin menghela nafasnya tersenyum lega



"Tapi yasmin aku sebenarnya...." fany terlihat ragu-ragu berbicara



"Ada apa?" tanya yasmin heran



"Aku sebenarnya memang sengaja kesini untuk menemuimu juga. yas, aku perlu sedikit bantuan" ungkap fany



"Bantuan apa?" tanya yasmin



"Yang kerjanya cuman ngobrol enak banget, makan gaji buta" sindir caroline



"Fan aku harus segera kembali berkerja, katakan kamu perlu bantuan apa?" tanya yasmin serius



"Yas aku ingin kamu menemaniku menemui anak dari teman ayahku, dia baru saja datang dari luar negeri" ungkap fany



Yasmin mengernyit "Hah? kenapa harus ajak aku?" tanya yasmin heran



"Yas aku dijodohkan oleh ayahku dengannya tapi aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya, aku takut jika pergi sendirian aku mohon kamu mau ya temani aku bertemu dengannya? bantu aku yas aku mohon" fany memohon mohon pada yasmin



"Oke."



"Pulang kerja aku ya yang jemput" ucap fany



"Ketemu malam ini?" tanya yasmin terkejut



fany mengangguk.