Nothing Like Us

Nothing Like Us
Cerita justin



"Nona jangan seperti ini bangun lah" ucap wanita itu



"Ah bibi juga seharusnya tidak seperti itu"



Yasmin kemudian membentu pembantu justin ini berdiri dengan perlahan, wanita itu telihat menangis tersedu-sedu dan Yasmin medengar bunyi pecahan-pecahan kaca didalam apartemen justin.



"Bibi kenapa?" tanya yasmin penasaran



"Nona tolong masuk dan nasehati tuan agar tidak menyakiti dirinya sendiri" ucap wanita itu sambil menangis tersedu-sedu



"Em."



Entah kenapa pembantu justin langsung berlari begitu saja, tanpa menjelaskan lebih detail permasalahannya.



"Eh." yasmin terheran-heran



Karena ia begitu penasaran akhirnya ia memberanikan diri masuk ke dalam apartemen justin



“Tidak ada orang?!"



Namun Yasmin mendengar suara-suara dari salah satu ruangan yang berada di apartemen tersebut, ternyata ruangan itu tak lain adalah kamar justin Jonathan.



Yasmin dengan sedikit keraguan dalam dirinya membuka pintu kamar tersebut, betapa terperangahnya ia melihat Justin duduk termenung sendirian seperti orang yang sedang frustasi dengan beberapa botol minum keras didekatnya dan obat-obatan anti depression yang berserakan dilantai, telihat juga beberapa botol yang sudah sengaja ia pecahkan.



Yasmin hanya tertegun dalam waktu lama ia tak tahu harus bertindak bagimana dalam situasi seperti ini, rasa takut dan rasa kasihan bercampur aduk.



Justin menoleh ke arah yasmin, sontak membuat yasmin tekejut dan sedikit merasa takut dengan tatapan yang begitu tajamnya gadis itu sampai mudur beberapa langkah dari dekat justin.



Justin bangun dari posisi ia yang sebelumnya duduk, ia mendekat ke arah yasmin dengan cara jalan yang seloyongan layaknya orang mabuk.



"Yasmin apa itu benar-benar kamu?" ia tertawa seperti anak kecil yang sedang bahagia saat ia melihat yasmin



Justin mengucek matanya beberapa kali memastikan pandangannya benar dan bukan halusinasi semata



"Hahaha yasmin ini benar-benar kamu kah?" tanya Justin



Yasmin hendak pergi meninggalkan justin karena ia mulai merasa takut menghadapi justin yang sedang dalam pengaruh alkohol, terlebih lagi ia hanya berdua diruangan itu dengan justin yang kondisinya seperti mabuk berat.



Namun tiba-tiba justin menahan tangannya "Jangan pergi yasmin" dan ia sontak memeluknya dengan erat



"Hah?!"




Tak lama setelah itu justin menarik tangan Yasmin agar ia ikut duduk di sampingnya.



"Justin apa kamu tahu yang kamu lakukan ini salah, kamu kalau terus-menerus begini hanya akan menyakiti diri sendiri" yasmin mencoba menasehati



“Akun ini benar-benar bodoh deh ngapain juga menasehati orang dalam keadaan mabuk” batin yasmin



"Tidak ada yang perduli padaku juga, malah lebih baik aku mati saja." ungkap Justin



Yasmin sontak tekejut akan jawab Justin



yasmin mengernyit "Hey Justin apa maksudmu? kamu pasti masih memiliki keluarga, mereka perduli padamu dan ayolah, kamu juga memiliki banyak penggemar yang sangat memperdulikanmu"



"Aku hanya memiliki seorang ibu yang tak mau mengakui aku ini adalah anaknya, dia hanya bisa terus-menerus menyalahkan aku Atas kematian saudara kembar ku" ungkap justin



“Dia memiliki kembaran” batin Yasmin tekejut



"Aku benar-benar tertekan berada didunia entertain apapun yang aku lakukan selalu salah, aku harus terus-menerus mengikuti arah menejemen bahkan untuk urusan harus menyukai siapa atau mencintai siapa haha sangat lucu" ungkap justin



"Aku seperti ini hanya untuk mewujudkan impian saudara kembarku yang semasa hidupnya ia sangat ingin menjadi aktor terkenal" ungkap justin



"Sedangkan aku, aku hanya anak yang menyukai kebebasan saat itu aku mengajaknya untuk ikut bersamaku dalam balapan liar dan mobilku mengalami kendala kemudian kami kecelakaan hingga menyebabkan dia meninggal" justin menangis meratapi kejadian tersebut



"Seharusnya aku saja yang mati, seharusnya aku saja yang mati." justin histeris berteriak ia kemudian menengguk minuman keras itu langsung dari botolnya



Pria itu membelai pipi yasmin dan malah tiba-tiba tertidur di dadanya.



"Hah?!"



"Biarkan aku pinjam ini" ucap justin



“Pria itu dimana-mana sama saja selalu mencari kesempatan dalam kesempitan, dia kan bisa saja tidur dipundakku mengapa harus di dada dan menekan payudara kuku” batin yasmin



“Tunggu aku kesini untuk meminta bantuannya, yatuhan mengapa malah jadi seperti ini” batin yasmin



Telihat lah justin benar-benar tertidur didada yasmin “Oh justin yang benar saja kamu benar-benar tidur sangat pulas didadaku? dan masih memegangi tanganku” yasmin mulai kesal