MY POSSESSIVE LOVE

MY POSSESSIVE LOVE
Boncap. Gagal



Jak masih terjaga saat pagi sudah menyingsing. Sita baru saja meregangkan tubuhnya, hendak bangun, namun tangannya menyentuh sesuatu,yang tak lain dada Jak yang bertelanjang.


"Kak Jak?" ucap Sita kaget saat kekasihnya sudah berada di kamarnya.


"Ngapain di kamar aku?" lanjutnya,sambil mengucek matanya meyakinkan. Jak bukannya menjawab ia langsung mencium bibir mungil gadisnya, sampai Sita terkesiap kaget dan berusaha mendorong tubuh kekasihnya saat ciuman itu menjadi *******.


"Kakaaaak!" akhirnya Sita berteriak saat Jak juga melepaskan dirinya. Namun saat sadar ternyata ini bukan kamarnya.


"Kamu mah dibangunin dari semalem malah bobo, aku tersiksa nih, yang!" protes Jak sambil memeluk tubuh mungil istrinya. Sita hanya terdiam, nyawanya belum terkumpul semua, ia masih bingung kenapa bisa tidur di sini, sampai akhirnya tahu kalo kemarin adalah hari pernikahannya.


"Salah sendiri, ngapa coba tidur duluan, udah ah aku mau mandi dulu!" jawab Sita sambil melepas pelukan suaminya. Namun Jak bukannya melepaskan ia malah menarik Sita dan berhasil mengungkung tubuh mungil istrinya.


"Ntar aja biar wajib dulu mandinya!" ucapnya sambil menaikturunkan alisnya.


"Iih, kak aku belum gosok gigi!" tolak Sita, walau sebenernya ia mau tapi dengar cerita temannya ada rasa takut juga katanya yang pertama itu sakit.


"Nggak apa-apa aku suka kamu apa adanya sayang!" sambil membuka kancing piyama sang istri satu per satu.


Sita menahan dada suaminya, "Aku takut!" bisiknya.


Jak berusaha menenangkan istrinya, ini memang pengalaman pertma bagi mereka. Jak mulai dengan ciuman di kening sang istri, kemudian ke mata, hidung, pipi dan akhirnya ke bibirnya. Hingga Sita terbuai, apalagi saat ini suaminya sedang menjelajahi leher jenjangnya.


Saat nafas mereka berburu, Jak mendongak ke wajah sang istri. "Siap kan, Dek?" tanyanya serak, Sita hanya mengangguk pelan. Jak mulai membuka kaki sang istri dan ia berada diantaranya.


Namun, baru juga akan memasuki yang katanya surga dunia. Tiba-tiba suara gedoran di pintu mengalihkan perhatian mereka berdua.


"Jaaak,,, Sitaaa,,, ayo banguuun kita sarapan bareng!" suara teriakan sang mamih dari luar sambil menggedor pintu kamar Jak.


"Awas, Kak! Mamih udah manggil tuh!" ucap Sita panik sambil mendorong dada suaminya untuk menjauh.


"Udah antepin aja kenapa si?" gerutu Jak sambil menahan sang istri. Bahkan saat akan menjawab panggilan sang mertua pun mulutnya malah dibekap oleh Jak agar diam. Sampai terdengar suara berbincang di luar.


"Aduuuh, mamih ngapain sih, mereka itu pengantin baru ngapain diganggu!" omel sang papih, sambil setengah berbisik tapi tetap terdengar juga.


"Tapi, Pih_"


"Nggak ada tapi - tapi ayo!" suara langkah kaki terdengar makin menjauh dan akhirnya hilang.


Sita kemudian menepis tangan suaminya yang ada di mulutnya.


"Udah ah aku mau mandi dulu!" ujarnya kemudian beranjak dan berlari ke kamar mandi.


"Tapi, yang, masa nggak dilanjut tanggung ini!" omel Jak prustasi. Namun Sita hanya menjawab ntar aja.


"Shit,,, gagal lagi gue!" sambil mengacak rambutnya.


Setelah mereka selesai mandi, kemudian turun untuk sarapan dan ikut bergabung bersama yang lain di ruang keluarga.


"Ciee,, pengantin baru dapat berapa ronde nih?" goda sepupu Jak dengan jahil.


"Ronde palamu, gue ketiduran, tadi pagi malah digangguin mamih!" omelnya yang langsung mendapat cubitan dari sang istri, Sita beneran malu dengan kejujuran suaminya hingga rona di pipinya muncul.


Mereka berbincang diselingi gelak tawa, sampai akhirnya Jak mengajak sang istri balik ke kamarnya.


"Ngapain si, Kak, masih siang juga?" tolak sang istri saat tangannya ditarik menuju ke kamarnya. Namun Jak tak menghiraukan perkataan sang istri.


Setelah sampai, terdengar notif dari ponsel keduanya, mereka pun mengambil dan membaca pesan di masing-masing ponselnya.


Al : gimana nih pengantin baru udah dapet jatah? πŸ˜‚


Jak : jatah omelan iya, gue gagal 😒


Al : kenapa lagi palang merah?


Jak : bukan gue ketiduran dari sore, pas gue bangun udah malam, eh giliran dia yang tidur.


Al : wkwkwkwk


Jak : pagi-pagi malah digangguin mamih


Al : derita lo


Jak pun menutup kembali ponselnya dan menyimpan di atas nakas. Sekarang Sita yang fokus ke hp nya.


Diki : oi pengantin baru ngerem bae lo


Arga : berisik lo, Ki, dia masih dikekepin keknya


Ayu : gimana, Ta?


Resa : gue harap cerita lo ga nakutin gue, Ta


Marsha : ta, dapat berapa ronde nih? πŸ˜‚


Sita : berisiiik oiii...


Diki : nah baru nongol, gimana?


Sita : dianya ketiduran dari pas pulang, gue keseeel


Arga : kenapa ngga minta aja idah halal ini kali.


Sita : dih ogah malu gue, ya udah malamnya gue tinggalin tidur juga.


Diki : ini, ni yang namanya istri durhaka.


Resa : yang ga boleh gitu


Ayu : syukurin diomelin cabin lo


Marsha : terus paginya ga kejadian apa-apa gitu


Sita : hampir tapi keburu dipanggil buat sarapan😒


Marsha : ya udah lanjut aja sekarang


Sita : jujur gue takut, Sha


Arga : ngga apa-apa, Ta, sakit dikit doang ntar juga lo nagih wkwkwk


Sita : sialan


Kemudian ia pun menyimpan ponselnya di nakas di samping ponsel sang suami.


"Kenapa, liatin aku kaya gitu sih?" ucap Sita saat melihat sang suami yang intens memperhatikannya.


"Hayu kita lanjutin yang tadi pagi!" jawabnya sambil mendekati sang istri.


"Ih masih siang hareudang, Kak!" ucap Sita sambil beringsut.


"Nggak bakalan, Yang!"


Jak pun mulai menciumi sang istri seperti tadi pagi, bahkan ******* di bibir sang istri lebih menuntut sekarang, hingga membuat Sita terbuai dan tanpa sadar sudah berbaring di bawah kungkungan sang suami.


Jak mulai menurunkan risleting dress sang istri, dan menarik gaunnya ke bawah, tanpa melepas ciumannnya.


Sampai akhirnya keduanya sudah polos dan siap untuk memulai candu baru. Sita tiba-tiba mendorong dada suaminya hingga ciuman mereka terlepas.


"Aku takut!" bisiknya parau dengan mata mereka yang mulai berkabut. Jak mencium kening sang istri kemudian berucap, "Ngga apa-apa, aku akan ngelakuin dengan sangat lembut." bisiknya menenangkan. " Kalo sakit, kamu boleh gigit bahu aku," lanjutnya, yang malah membuat Sita makin pucat, ternyata malam pertama sakit itu bukan hoax, pikirnya.


Setelah Jak melakukan warming up, akhirnya ia pun mulai ke bagian inti tubuh sang istri yang sudah basah. Saat mulai masuk, Sita sempat tersentak dan menggit bawah bibirnya, kedua tangannya mencengkram bahu sang suami dengan kuat, hingga akhirnya keduanya melakukan yang seharusnya mereka lakukan. Bahkan beberapa bekas cakaran nampak jelas di lengan, bahu dan punggung Jak.


Keduanya sudah berbaring dengan peluh di tubuh mereka.


"Makasih, sayang!" ucap Jak sambil mencium kening sang istri. Walau ia tahu sang istri menahan rasa sakit luar biasa, karena ada jejak air mata di pipinya.


Bersambung....


Hareudang-hareudang panas-panas panas πŸ˜‚πŸ˜‚


Happy reading... 😘


Makasih udah setia baca mpl ya... Aku padanya pokonyaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Tetep jaga kesehatan dan dirumah aja