
Waktu terus berlalu, sekarang hubungan Sita dan Jak sudah diketahui oleh semua temannya. Sesuai janji Jak, ia mengenalkan Sita sebagai kekasihnya.
Di halaman rumah Marsha nampak 2 mobil berjejer. Suasana rumahnya pun sedikit ramai.
Keluarga Al sedang berkunjung ke rumah Marsha, ada Papah Wijaya, Mamah Desi, tentu saja Alfan Wijaya juga hadir disana. Mereka makan malam bersama di rumah Marsha yang saat itu semuanya ada, bahkan kakak Marsha dan istrinya pun hadir.
Semuanya sudah mereka rencanakan saat malam minggu lalu Alfan bilang kalo keluarganya akan datang ke rumah Marsha.
"Mohon maaf ya jeng Desi, mungkin makanan nya kurang berkenan. "ucap Mamah Cantika disela makan malam mereka.
" Makanannya enak gini Jeng, iya kan Pah? "jawab mamah desi sambil melirik ke arah suaminya. Al nampak bahagia berada di samping Marsha bersam keluarganya. Tak berapa lama acara makan malam pun selesai mereka kembali ke ruang tamu dan berbincang sebelum masuk ke masalah inti.
" Sebenarnya kedatangan keluarga kami kesini ada maksud untuk melamar Marsha untuk anak semata wayang kami. "ucap Papah Wijaya memulai percakapan serius,sambil menepuk pundak Al yang nampak tersenyum, sedangkan Marsha hanya menunduk malu.
" Kami sebagai orang tua menyerahkan semuanya pada anak kami, Marsha, bagaimanapun juga mereka yang akan menjalaninya. "jawab Papah Rahadian sambil merangkul Marsha.
" Gimana, Sha? "lanjutnya pada Marsha.
Marsha yang saat itu masih menunduk berusaha mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk menjawab semua pertanyaan orang tua dihadapan nya.
" Shasha em.. Mau pah, tapi kalo untuk nikah, Shasha pengen lulus kuliah dulu. "ucapnya sambil memegang ujung dressnya. Semua nampak setuju dengan ucapan Marsha.
" Papah juga setuju, memang sebaiknya kalian bereskan dulu kuliahnya, bagaimana kalo untuk mengingat hubungan kita biar tunangan aza dulu? "usul Papah Wijaya.
" Baiklah kami sebagai pihak perempuan mengikuti saja gimana baiknya dari pihak laki-laki. "jawab papah Rahadian sambil merangkul putrinya.
Akhirnya semuanya berdiskusi kapan hari pertunangan Al dan Marsha akan dilaksanakan. Sekitar 30 menit mereka mengatur tanggal dan hari pertunangan. Akhirmya mencapai kesepakatan bahwa pertunangan mereka akan dilaksanakan 1 bulan lagi bahkan tanggalnya bertepatan dengan ulang tahun Marsha 10 Oktober.
"Tanggalnya sudah ditentukan semoga jadi hari yang baik untuk semuanya, terutama untuk Al dan Marsha. "ucap Papah Wijaya.
" Oya, Pah, Shasha ngga mau di gedung2 ya acaranya pengen di rumah aza, boleh kan? "ucap Marsha tiba-tiba. Semua orang menoleh ke arahnya dengan heran, namun akhirnya mereka mengangguk setuju.
" Terserah kamu, yank! Yang penting kamu tunangan sama aku. "celetuk Al yang mendapat tepukan di pahanya, tentunya dari mamahnya. Semua hanya tersenyum mendengar ucapan Al.
Setelah selesai mereka kembali berbincang ringan sambil menyantap kudapan yang sudah tersedia di meja. Sementara Al mengajak Marsha ke taman belakang, tepatnya di gazebo tempat favorit Marsha.
"Ada apa, Al, ngajakin kesini?"tanya Marsha sambil memperbaiki duduknya agar lebih nyaman di gazebo.
Al hanya menatap Marsha dan tersenyum lalu berucap.
"Aku pengen berdua aza sama kamu, di dalem berisik. "ucapnya sambil mentap langit yang malam ini bertabur bintang. Marsha hanya mendelik jengah mendengar jawaban Al yang santai.
" Hey... Mereka tuh orang tua kita masa dibilang berisik, dosa tahu? "jawab Marsha sambil mengerucutkan bibirnya.
Al hanya terkekeh melihat raut wajah kekasihnya.
Tiba-tiba cup.. Al mengecup bibir gadisnya.
" Iiiih... Kamu! "ucap Marsha sambil memukul lengan Al. Al hanya tertawa mendapat perlakuan itu dari Marsha.
" Dasar nyebelin...! "ucap Marsha sambil rona merah di pipinya nampak seperti tomat.
Al langsung merangkulkan tangannya ke bahu Marsha dan menenggelamkan kepala Marsha di dada nya.
" Yank, aku bahagia banget sebentar lagi kamu bakal jadi milik aku seutuhnya. "ucap Al.
" Setengah kali, Al orang baru tunangan juga. "jawab Marsha cuek.
" Yaelah, yank ceritanya aku lagi romantis, ko gitu sh jawabnya? "ucap Al sambil menyentil hidung mancung Marsha.
" Hahahha... Lagian kamu tuh, udah sering tau bilang kaya gitu. "ucap Marsha sambil tertawa puas tanpa melepas pelukan Al.
Al akhirnya mengeratkan pelukanya sekarang kedua tangannya memeluk Marsha posesif hingga mereka berhadapan. Marsha kaget saat wajahnya sangat dekat dengan Al, bahkan hembusan nafas Al menerpa wajahnya yang mulus. Al mulai mencondongkan wajahnya sedikit lagi bibirnya menyentuh bibir Marsha tapi tiba-tiba...
"Aaaall... Ayo pulang udah malem! "teriak Mamah Desi sambil menghampiri mereka. Al dan Marsha langsung memundurkan tubuh mereka masing-masing dengan refleks. Marsha yang menunduk dan Al mengusap dadanya.
Mamah Desi sudah ada dihadapan mereka, memperhatikan keduanya lalu mengajak Al pulang.
"Ayo, udah malem..! "ucapnya pada Al. Lalu Marsh berdiri dan menyalami mamah Desi.
" Mamah pulang dulu ya sayang, jaga diri baik-baik! "ucapnya sambil memeluk dan mencium pucuk kepala Marsha.
" Iya, Mah, hati-hati di jalan ya! "balas Marsha. Lalu mereka pun pergi ke depan. Marsha bersalaman sama papah Wijaya dan mengantar mereka semua ke depan. Akhirmya keluarga Al pulang.
" Cie.. Cie... Yang mau tunangan. "celetuk Rangga tiba-tiba sambil membereskan sisa makanan di ruang tamu.
" Berisik lu...! "sewot Marsha sambil membereskan semuanya.
Waktu semakin larut, mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah seharian ini. Marsha pun tak berapa lama sudah terlelap dan berkelana ke alam mimpinya.
Lain Marsha lain Alfan
Alfan yang baru nyampai rumah bukannya tidur ia malah asyik mainin ponsel dan bercerita pada sohibnya tentang acara pertunangan mereka. Bahkan hampir jam 3 pagi mereka masih asyik ngobrol di ponselnya. Entah apa yang mereka bahas, bahkan Al lebih sering ketawa sendiri tiap membaca pesan di ponselnya. Alfan tidur habis shubuh, dia ingin tidur seharian karena kebetulan kuliah libur. Alfan pun terlelap saat orang rumah bangun.
Bersambung....
Ayo donk likenya sama komennya kalo ada ide juga mangga author lagi aga lelet nih mikirnya...
Kasih masukan ya...