
Marsha pulang dengan keadaan yang berantakan, mata sembab, rambut sedikit acak-acakan. Mamah yang sedang menyiapkan makanan di meja makan kaget melihat keadaan anak perempuannya yang berantakan.
"Sha, kamu kenapa sayang? "tanya mamah sambil mengahampiri anaknya. Marsha berusaha mencari alasan yang tepat agar mamahnya tidak khawatir dan curiga.
" Shasha dikejar dogi deket rumah Sita, mah. Sial banget dah ah. "celoteh Marsha berusaha bersikap wajar. Mamah Cantika hanya mengangguk dan menyusuh Sita untuk memebersihkan diri dan langsung makan malam bersama semua keluarganya yang lain masih ada. Dari semua keluarganya Rangga yang paling peka akan keadaan kakak perempuannya, walau mereka sering berantem tapi Rangga selalu perhatian sama kakak cewe satu - satunya.
Marsha yang habis selesai mandi langsung rebahan di kamarnya, ia ngga nafsu makan malam ini, bahkan sodara sepupunya pun ia tinggalkan. Saat Marsha tiba-tiba menangis mengingat kejadian sore tadi, suara pintu kamarnya diketuk.
Tok.. Tok.. Tok...
Marsha langsung mengusap air matanya, dan tetap rebahan, sambil tangannya menutupi matanya.
"Masuk... Ngga dikunci! "jawabnya. Pintu terbuka dan terdengar suara langkah kaki mendekati ranjang Marsha.
" Kak...! "panggil suara bariton yang selalu merecokinya setiap pagi, siapa lagi kalo bukan Rangga. Dia duduk disamping Marsha, dan menyimpan makanan untuk kakaknya di nakas.
" Hmm..! "jawab Marsha tanpa membuka matanya.
Rangga merasa ada yang ngga beres sama kakaknya.
" Makan dulu, kak! Yang lain mah udah pada makan. "ucap Rangga.
" Gue nggak laper, Dek. Gue cuman pen istirahat cape. "jawab Marsha dengan posisi yang sama.
" Udah sana kamu bobo gih, besok kan sekolah! "lanjutnya.
" Lo beneran ngga kenapa2 kan , kak? "ucap Rangga khawatir.
" Gue ngga apa2, udah sana tidur! Oya makanannya bawa lagi gih, gue beneran pen tidur. "! Jawab Marsha sambil memiringkan badannya membelakangi Rangga. Akhirnya Rangga mengalah, ia ngga mau memaksa kakaknya untuk bercerita. Rangga pun beranjak dan mengucapkan
" Ya udah, lo istirahat kak, gue balik ke kamar gue ya. "ucap Rangga sambil membawa nampan makanan kembali dan hanya diangguki oleh Marsha.
Marsha mengeluarkan bulir bening yang sedari tadi tertahan, ia menumpahkannya dan terdengar isakan di bibirnya yang ia tahan sekuat tenaga agar tak terdengar oleh siapapun.
"Kenapa kamu tega ngelakuin itu ke aku, Al? "gumamnya disela isakan yang masih ia tahan. Ia terus menangis sampai akhirnya terlelap ke alam mimpinya.
Sudah seminggu Marsha terus menghindari Al, ia ngga mau ketemu Al baik di rumah atau pun di kampus. Marsha masih agak takut dengan Al akan sikap cemburu nya yang menakutkan. Bahkan mamah sama papah Al sering bertanya kenapa Marsha ngga pernah maen. Al bilang kalo Marsha sedang banyak tugas, padahal ia sedang kesulitan untuk bertemu kekasihnya.
2 hari setelah kejadian Al memang dateng le rumah Marsha bahkan ia dikenalkan sebagai calon Marsha oleh Mamah Cantika kepada keluarganya termasuk Bang Rafa. Sementara Marsha saat itu sedang ngga dirumah dengan alasan mengantar sodara sepupunya, padahal Al tahu kalo Marsha memang ngga mau ketemu dengan dirinya.
Al benar-benar frustasi ia menyesal telah melakukan hal bodoh pada kekasihnya yang jelas2 ngga membohonginya apalagi menghianatinya dengan cowo lain.
"Maafin aku, yank! "gumam Al sambil melihat foto Marsha di wallpaper hpnya.
Tak terasa waktu tunangan mereka tinggal 2 minggu lagi, tapi Al belum berhasil menemui Marsha. Suatu pagi di hari Minggu Marsha pergi ke supermarket sendirian, karena semua keluarga nya udah balik lagi ke kotanya masing-masing. Marsha berencana belanja kebutuhannya dan juga titipan mamah. Saat sedang asyik memilih barang2 yang diperlukan tiba-tiba Marsha menabrak seseorang di depannya, karena ia fokus membaca pada barang baru yang diambilnya.
" Yank... "ucap suara bariton yang 2 minggu ini ia hindari. Marsha mendongak dan seolah tubuhnya dipaku disana saat melihat orang yang ia tabrak adalah Alfan Wijaya.
Al mencoba membantu Marsha untuk berdiri tapi ditepis oleh Marsha.
" Aku bisa sendiri. "ketusnya. Lalu pergi meninggalkan Al, tapi Al malah mengikuti Marsha kemana pun ia pergi.
" Ngapain sih ngikutin mulu! "pekik Marsha. Al hanya tersenyum dan membantu mendorong troli dan mengambilkan barang yang berada di rak atas. Akhirnya acara belanja beres bahkan Al membayar semua belanjaan Marsha yang ditolak di depan kasir oleh Marsha tapi Al tetep maksa.
Marsha berusaha pergi dari Al tapi belanjaannya langsung dimasukan ke mobil Al, secara tidak langsung Al mengajak Marsha ke mobilnya.
"Udah anterin sana belanjaannya, aku pulang sendiri. "ucap Marsha ketus. Tapi Al ngga mau gadisnya menghindarinya terus, ia pun memapah Marsha untuk masuk ke mobilnya dan memasangkan savebeltnya pada Marsha.
Di dalam mobil Al berusaha membuka percakapan yang terkesan canggung.
" Yank, maafin aku, waktu itu aku bener bener dibakar cemburu, aku juga udah tau kalo itu sodara kamu, kami juga udah kenalan. "jelasnya panjang lebar.
" Yank, sebentar lagi kita tunangan lo, masa masih marahan kaya gini? "lanjutny.
Marsha hanya menatap jengah ke arah Al, lalu berucap.
" Kamu yakin mau tunangan sama aku, kan kamu ngga percaya sama aku, aku kan tukang selingkuh. "ejek Marsha.
" Sebuah hubungan itu akan bertahan kalo kita saling percaya, sementara kamu ngga percaya sama aku, ntar nyesel"lanjutnya. Marsha mengeluarkan unek-unek di hatinya yang selama 2 minggu ini ia pendam.
"Maafin aku, yank, aku percaya banget sama kamu, kamu jangan bilang gitu dong, aku teyep mau tunangan dan nikah sama kamu."ucap Al sambil memegang tangan Marsha dan memarkirkan mobilnya di sebuah rumah makan.
"Udah deh Al kamu pikir2 aza dulu buat tunangan sama aku. "kekeh Marsha yang masih merasa kesal. Al pun memegang bahu Marsha agar berbalik ke arahnya,
" Tatap aku, yank, aku bener bener nyesel, aku ngga akan pernah nyakitin kamu lagi, yank"ucap Al dengan wajah penuh penyesalan. Marsha memalingkan wajahnya dan berusaha melepaskan tangan Al dari bahunya.
"Aku mohon, yank! "mohon Al. Marsha akhirnya luluh ia pun mengangguk tanpa berucap sepatah kata pun.
" Makasih, yank"ucap Al sbil memeluk Marsha yang malah mendapat cubitan di perutnya.
"Jan modus deh, ngga jadi dimaafin. "ancam Marsha. Al pun melepaskan pelukannya dan mengajak gadisnya untuk makan siang. Al merasa dirinya kembali lagi setelah Marsha memaafkannya. Ia pun berjanji tak akan cemburu buta lagi dan akan selalu bertanya sebelum menyimpulkannya sendiri. Ia ngga mau kehilangan kekasih hatinya.
Bersambung....
Padahal jan dulu dimaafin ya...