
Arga, Diki dan Sita sudah menemukan Resa di ruang belakang rumah itu, Resa terikat di kursi. Sememtara Jak dan Randi sudahengamankan penghulu dan wali gadungan dengan mengikat keduanya di ruang tamu. Sekarang semua berpencar mencari Marsha dan Alfan. Mereka sedikit kesulitan karena rumah Doni memang sangat besar dan banyak ruangan. Sementara Papah Wijaya dan papah Rahadian sudah melaporkan semua kejadian penculikan Marsha ke polisi sekarang mereka di jalan menuju rumah Doni. Mamah Cantika sama Mamah Desi menunggu di rumah. Saat Jak sama Rendi menaiki tangga menuju lantai dua, terdengar teriakan
"Awaaaas... Al! "teriak Marsha terdengar dari kamar utama di lantai dua.
" Buruan, Jak! "teriak Randi sambil terus berlari dan mendobrak pintu kamar utama. Pemandangan yang pertama mereka lihat adalah Doni akan menghujamkan sebilah pisau ke punggung Al, sementara Marsha duduk berlutut di ranjang dengan pakaian yang sudah koyak dengan memperlihatkan bahunya.
Jak dan Randi tanpa aba-aba langsung menyergap Doni dan mengambil pisaunya. Sekarang Jak dan Doni yang baku hantam dan dibantu oleh Randi, sementara Al dipapah Marsha untuk keluar dari kamar itu. Marsha yang kesulitan berjalan gara2 kain yang pakainya akhirnya merobeknya hingga lutut, sehingga ia bisa leluasa berjalan dan memapah Al yang perutnya terus mengeluarkan darah.
"Al,, tahan sebentar ya kita langsung ke rumah sakit sekarang! "ucap Marsha sambil terus terisak nangis, karena Al sudah mulai pucat dan tubuhnya sudah mulai lemah, bahkan Marsha harus bersusah payah sampai keluar dengan beban tubuh Al yang berat.
Saat sampai di luar rumah sudah ada papah Wijaya dan papah Rahadian disana beserta polisi. Papah Wijaya langsung mengambil alih memapah putranya menuju mobilnya yang diikuti papah Rahadian yang merangkul putri semata wayangnya. Mereka semua bergegas ke rumah sakit terdekat, sementara Doni dan orang-orangnya sudah ditangani oleh polisi. Jak dan Randi pulang bersama semua sahabat Marsha. Mereka juga sebelumnya menyusul Al dan Marsha ke rumah sakit.
Papah Wijaya nampak menyetir denga kecepatan lumayan tinggi, ia khawatir putranya kenapa-napa. Sementara Papah Rahadian duduk disamping Papah Wijaya, mencoba untuk menenangkan papah Wijaya yang panik.
Al duduk menyender ke bahu Marsha dengan kedua tangannya melingkar di pinggang dan perut Marsha. Marsha yang merasa risih berusaha melepaskan salah satu tangan Al, tapi malah makin erat. Akhirnya Marsha pasrah, mungkin karena lelah tak terasa Marsha tertidur dengan kepala saling menyender, begitu juga Al. Akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Al yang disangka tertidur tenyata ia pingsan tak sadarkan diri akibat luka di perutnya. Sehingga petugas rumah sakit langsung membawa Al ke ruang IGD. Marsha dan papahnya menunggu di luar, mereka khawatir akan keadaan Al. Tak berapa lama semua temannya sudah datang menunggu Al.
"Aku mohon kamu sembuh, Al! "gumam Marsha sambil menunduk menahan tangis. Ia merasa bersalah karena gara-gara dia, Al masuk rumah sakit. Marsha makin khawatir karena sudah lama dokter belum juga keluar.
Akhirnya Dokter keluar dan mengabarkan kalo Al baik-baik saja, karena lukanya tidak terlalu dalam. Semua bernafas lega mendengar penuturan dokter. Marsha yang lebih dulu datang menemui Al yang sudah siuman.
"Al,, apa ini sakit? aku khawatir sama kamu! "ucap Marsha lembut sambil mengelus perut Al yang sudah diperban.
" Aku baik-baik aza, yank! "jawabnya sambil mengelus pipi gadisnya yang terlihat berantakan dengan pakaian koyak.
Marsha tersenyum sambil memegang jari Al yang menyentuh pipi nya, ia tak bisa lagi menahan tangisnya di depan kekasih posesifnya yang ia cintai.
" Maafin aku, Al, gara gara aku kamu jadi terluka kaya gini. "ucapnya ditengah isak tangis yang sudah ia tahan sejak tadi.
Al mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Marsha meminta maaf padanya.
" Hey,,,ini semua bukan salah kamu, yank! "ucap Al sambil berusaha duduk dan menangkup wajah gadisnya agar melihat ke arahnya. Nampak gadisnya masih terisak dengan air mata mengalir di pipi mulusnya. Al mengusap air mata gadisnya dengan lembut.
" Aku yang seharusnya minta maaf, karena ngga bisa lindungin kamu setiap waktu, yank! "ucapnya lembut. Marsha menatap Al sendu dan tiba-tiba langsung memeluk Al dengan erat sambil menangis. Al langsung mematung menerima pelukan gadisnya untuk pertama kalinya, karena Marsha ngga pernah agresif seperti ini.
" Aku sayang banget sama kamu, Al! "lirihnya ditelinga Al. Al tersenyum bahagia mendengar bisikan Marsha di telinganya.
" Aku juga, yank! "balasnya sambil mencium rambut lembut Marsha. Marsha yang sudah merasa tenang akhirnya melepas pelukannya dan kembali menatap Al.
" Kok dilepas sih, yank?"gerutu Al. Marsha hanya terkekeh melihat Al yang merajuk.
"Iih dasar...! "ucap Marsha.
" Apa kamu harus dirawat, Al? "lanjutnya sambil mengusap air mata di pipinya yang masih basah.
" Tunggu bentar, Al, aku panggilin papah buat mapah kamu ya! "ucap Marsha tiba-tiba sambil beranjak akan pergi.
" Eh ko papah sih, sama kamu aza, yank! "ucap Al manja.
" Iih kamu tuh berat, tau, tadi aza badan aku sampai sakit gini! "gerutu Marsha sambil mengerucutkan bibirnya dan hendak memanggil papahnya. Tapi ternyata di depan ada Jak dan Randi,jadi Marsha nyuruh mereka saja untuk memapah Al keluar.
Menjelang malam mereka baru sampai di rumah Al, karena saat itu mamah Cantika menunggu mereka di rumah Al.
Kedua mamah itu sangat histeris melihat kedua anak kesayangannya datang dengan keadaan berantakan. Al langsung dibawa ke kamarnya sementara Marsha di bawa ke kamar tamu dan diberi baju ganti sama mamah Desi.
"Karena malam semakin larut, apa Pa Rahadian dan keluarga ngga keberatan untuk menginap di rumah kami malam ini? "ucap Papah Wijaya. Papag Rahadian hanya mengangguk dan memang seharian ini mereka kelelahan mencari anak-anaknya.
Saat makan malam Al yang manja malah ingin disuapin sama Marsha. Jadi Marsha dan Al makan di kamar Al, Marsha menyuapi Al dengan telaten, lalu meminumkan obat, dan menyuruhnya istirahat.
"Udah sekarang kamu tidur ya, Al, have a nice dream! "ucap Marsha sambil menyelimuti Al yang berbaring.
" Tunggu yank! "ucap Al saat Marsha akan pergi ke kamarnya. Marsha terdiam saat tangannya ditarik Al.
" Apa lagi, kamu mau minum? "tanya Marsha. Al hanya menggeleng dan menyuruhnya mendekat seolah inhin membisikan sesuatu.
" Apaan sih, Al? "omel Marsha yang dirasa aneh akan permintaan Al, saat ia mendekatkan wajahnya tiba-tiba Al mencium bibir Marsha dan sedikit melumatnya. Marsha hanya mengerjap karena kaget.
" Iiih Al...! "teriaknya sambil menjauh dari Al.
" Itu ucapan selamat malam dari aku, yank! "kekehnya sambil mengusap bibirnya dengan ibu jarinya. Marsha hanya terdiam dan akhirnya pergi keluar dan masuk ke kamarnya.
Di ruang keluarga nampak para orang tua sedang berbincang.
" Saya khawatir dengan keadaan Marsha yang selalu diganggu oleh lelaki itu.!"ucap Papah Wijaya.
"Bagaimana kalau.... "
Bruuuuuk......
Bersambung.....
Gue ko nyesek ya pas nulis ini... ðŸ˜
"