MY POSSESSIVE LOVE

MY POSSESSIVE LOVE
Boncap. Pernikahan



Hari ini merupakan hari bersejarah bagi Jak dan Sita. Sita gadis mungil itu tampak cantik dengan riasan di wajahnya, dan kebaya warna silver yang membungkus tubuhnya.


Sita dan Jak akan mengikrarkan kisah cinta mereka dengan sebuah akad pernikahan yang sakral dan suci.


"Anak mamah cantik banget!" ucap mamah Sita sambil memutar tubuh putrinya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia terharu ternyata anak gadisnya mulai hari ini akan meninggalkannya.


"Mamah kok nangis sih? Ini kan hari bahagia Sita, Mah!" ucap Sita sambil mengusap air mata yang mulai turun di pipi sang mamah.


"Setelah kamu menikah, kamu sudah jadi milik suami kamu, Nak! Mamah bahagia karena Jak begitu mencintai dan menyayangi kamu, ingat tugas istri itu hanya patuh sama suami!" ucap sang mamah sambil menangkup wajah putrinya.


"Mamah!" sambil memeluk erat tubuh sang mamah.


Di rumah Jak


Lelaki bertubuh tinggi itu sudah berbalut tuxedo silver yang senada dengan sang calon istri. Ia terlihat lebih dewasa dan gagah.


"Mih, cepetan dong kita berangkat, nungguin apa lagi si?" Jak menggerutu dengan kesal, ia sudah nggak sabar ingin segera ke tempat pujaan hatinya.


"Ih, kamu tuh sabar dong, bentar lagi nungguin papih dulu!" balas sang mami, yang jengah dengan rengekan putranya, padahal dia udah dewasa, tinggal beberapa jam lagi sudah menjadi seorang suami.


"Ayo kita berangkat sekarang, Mih!" tiba-tiba sang papih dateng dan mengajak semuanya untuk pergi ke gedung tempat pernikahan sang putra.


"Yes!" sambil mengayunkan kedua tangannya ke bawah Jak langsung berlari ke mobilnya.


"Kamu tuh pengantin, masa mau nyetir sana duduk yang bener!" omel sang papi saat melihat Jak duduk di balik kemudi.


"Eh iya lupa!" kekehnya kemudian pindah ke samping kemudi.


Jak membuka ponselnya. Kemudian memberi pesan pada sahabatnya.


Jak : Gue Otw nih


Rendi : Oke, gue lagi nungguin istri dulu masih dandan dia


Alfan : Bentar maminya lagi ngebajuin dulu baby Naritta


Jak : Ok.


Kemudian ia pun memasukan ponselnya kembali ke saku jasnya. Wajahnya begitu sumringah, hari yang ia nantikan akhirnya terwujud.


Jak dan keluarganya berangkat dengan lima mobil, karena selain orangtuanya, banyak juga sanak saudara yang ikut.


Di gedung resepsi


Sita yang sudah siap dengan kebayanya, menunggu di ruangan tempat ia didandani. Sementara yang lain sedang memeriksa persiapan di luar. Sita pun membuka ponselnya.


Geng Ambyar


Diki : gue sama cabin lagi Otw


Arga : gue juga sama anak bini ini, bentar lagi nyampe


Ayu : gue baru mau otw nih 😁


Marsha : Gue masih dandan nih, baru beres dandanin baby naritta.


Resa : Yaelah mahmud mah sibuk ya


Sita : iya pokoknya buruan pada kemari dah gue deg-degan nih.


Baru saja ia selesai membalas chat di grupnya, terdengar dari luar.


"Mempelai pria sudah datang!" suara pembawa acara terdengar jelas di telinga Sita. Tangannya saling menjalin dan berkeringat ada rasa deg-degan dan gugup di hatinya. Untung saja sepupunya datang untuk menemani.


Setelah lama menunggu, akhirnya Sita dipanggil ke ruangan depan untuk proses ijab kabul. Dadanya makin berdetak tak karuan. Namun sepupu dan sang mamah menenangkannya.


Saat sampai di kursi akad, sudah nampak para tamu dan geng ambyar pun sudah hadir di sana. Sita begitu bahagia saat semua sahabatnya hadir.


Jak terpana melihat pujaan hatinya begitu cantik. Ia selalu melirik ke arah Sita, saat mereka duduk berdampingan.


Sekarang kedua mempelai duduk di pelaminan dan menerima ucapan selamat dari setiap tamu.


"Kamu cantik banget sih, yang!" bisik Jak pada Sita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.


"Kamu juga ganteng banget!" jawab Sita sambil berbalik ke arah Jak suaminya. Kalo cewek lain biasanya suka malu-malu tapi Sita lain dia langsung membalas hal yang sama pada suaminya.


Kini giliran geng Ambyar yang menyalami mereka untuk mengucapkan selamat. Yang pertama kali adalah Marsha dan baby Naritta.


"Selamet ya say!" ucap Marsha sambil menggendong baby Naritta yang baru berumur lima bulan.


"Sini-sini ate gendong ya!" ucap Sita sambil meraih bayi gembil itu ke pangkuannya. Sementara itu Marsha memberi selamat sama Jak, yang disusul sama Al.


"Selamet bro! Cie yang mau belah duren ntar malem!" oceh Al sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Gue mah ngga perlu nunggu entar malem, beres resepsi juga gue tancap gas!" celoteh Jak yang langsung mendapat cubitan keras dari sang istri.


"Ih kalo ngomong sembaranga!" gerutu Sita sambil tetap menggendong baby Naritta. Jak hanya terbahak mendengar gerutuan sang istri.


Semuanya berjalan lancar hingga akhir acara sampai sore hari. Kini semua tamu dan temannya sudah pulang ke rumah mereka masing-masing.


Sita langsung diboyong ke rumah keluarga Jak, sehingga ia berpamitan pada sang mamah dan papahnya.


Jak dan Sita sudah duduk di mobil, yang dikendarain oleh supir pribadi Jak. Jak nampak kelelahan begitu juga Sita, walau kadang Sitaasih tetep ngoceh. Jak yang benar-benar kelelahan langsung terlelap di bahu sang istri.


"Diih yang katanya mau tancap gas, belum apa-apa udah ngimpi!" gumam Sita sambil terkekeh dan menangkup pipi suaminya.


Akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Jak. Sita membangunkan suaminya dengan menepuk-nepuk pipinya.


"Hmmm" gumamnya sambil tetap memejamkan matanya. Tanpa bangun dari lelapnya. Akhirnya Sita meminta supir untuk membangunkan Jak. Dia sudah gerah ingin segera mandi.


Setelah sampai di rumah, Sita diantar ke kamar Jak oleh asisten rumah tangga, Jak juga ikut sambil menguap.


"Aku mandi dulu ya, Kak!" ucap Sita sambil menyambar handuk dan jubah mandi milik suaminya.


Jak kembali merebahkan tubuhnya yang lelah, hingga kembali terlelap. Sementara Sita sudah beres mandi dan memakai piyama tidur.


"Diih malah tidur lagi!" gerutu Sita sambil memoles tipis wajahnya dengan make up.


Malam pun menjelang, Sita dan keluarga Jak sedang makan malam, sementara Jak dibiarkan tertidur di kamarnya.


Sekitar jam 10 malam, Sita kembali ke kamarnya hendak merebahkan tubuhnya yang lelah. Jak ternyata sudah terbangun dan duduk bersandar ke kepala ranjang.


"Kirain ngga bakalan bangun?" sindir Sita sambil merebahkan tubuhnya di samping sang suami.


"Maaf, yang kemarin aku begadang, jadi ngantuk banget tadi!" ucapnya parau.


Sita tak menggubris suaminya, matanya sudah lelah kemudian ia pun terlelap.


"Sebelum beranjak ke kamar mandi, Jak berbisik ke telinga istrinya, "Jangan bubu dulu yang, ini kan malam pertama kita, tungguin aku ya!" kemudian berlalu le kamar mandi dan membersihkan diri.


Sita sudah lelap dan dibuai oleh mimpinya. Saat Jak baru selesai mandi.


"Yang, bangun dong!" bisik Jak, tapi hanya gumaman tak jelas yang ia dengar, Sita benar-benar terlihat lelah.


Hingga dini hari Jak masih terjaga tanpa bisa menyentuh istrinya.


"Sue, malam pertama gue gatot!" gumamnya sambil menjambak rambutnya sendiri.


****


Yang nungguin boncap nya aku kasih ni,,,


Kali aja dapet THR, heheheh


Jan lupa baca ya