
Sudah 2 bulan Al dan Marsha bertunangan, Al makin tambah posesif pada gadisnya. Kebetulan hari ini mereka sudah mulai libur kuliah. Al mengajak Marsha jalan2 ke air terjun yang terkenal di kotanya.
"Yank, biar romantis kita naek motor yu! "ucap Al pada kekasihnya. Marsha hanya mengangguk mengiyakan.
" Oke.. Besok aku jemput ya, jam 8 pagi ya biar ngga panas! "lanjutnya.
" Oke"jawab Marsha yang saat itu mereka sedang nonton film di rumah Marsha. Marsha tetap fokus pada layar didepannya tanpa menoleh ke arah kekasihnya yang dari tadi bawel.
Al yang ngerasa ngga ditanggepin, muncul ide jail buat ngerjain gadisnya. Saat ia akan mematikan tv nya tiba-tiba
Prettt
Lampu dan sekeliling rumah Marsha jadi gelap.
"Aaaaaaa....! "teriak Marsha sambil merangkul apa saja di sampingnya. Marsha masih pobia sama gelap jadi ia benar-benar selalu gemetar dan lemas saat ruangan gelap. Tentunya yang diuntungkan disini Al dia mendapat pelukan erat dari sang kekasih.
Al tersenyum dalam gelap, ia pun membalas pelukan Marsha dengan posesif.
"Kamu takut, yank? "goda Al sambil berbisik ke telinga Marsha. Marsha yang mengalungkan tangannya ke leher Al hanya mengangguk pelan. Tiba-tiba Al mengangkat Marsha ke pangkuannya.
" Iiih.. Ngapain sih, Al, jan cari kesempatan dalam kesempitan deh! "gerutu Marsha yang kaget saat tubuhnya diangkat ke pangkuan Al.
" Udah diem deh, yank! Ntar aku tinggalin sendirian mau, mana mamah sama papah kamu masih belum pulang. "ancam Al. Marsha hanya membuang nafas kasar dan pasrah daripada ia sendirian di rumah gelap.
" Yank! "ucap Al.
" Hmm"jawab Marsha sambil tetap melingkarkan tangannya pada leher Al.
"Nyari apa kek, Al biar ngga gelap gini, ngeri tau"gerutu Marsha. Al hanya terkekeh mendengar ocehan gadisnya yang panik.
"Ya mo gimana nyari, orang kamu nemplok terus di aku, masa aku hatua gendong kamu. "goda Al sambil terkekeh. Marsha memutarkan bola matanya jengah.
" Hp dimana, Al? "ucap Marsha baru inget.
" Ngga tau, lupa aku bukannya tadi kamu yang nyimpen? "tanya balik Al. Al menatap gadisnya dalam gelap walau terlihat samar tapi ia masih bisa melihat wajah cantik gadisnya karena ada sinar rembulan masuk ke sela2 jendela.
Al benar-benar senang berada sangat dekat dengan gadisnya, apalagi Marsha masih mempererat pelukannya seolah ngga mau ditinggalin.
"Al..! Ko diem sih? "ucap Marsha sambil berbalik ke arah Al yang otomatis wajahnya langsung berhadapan dengan Al yang menatapnya intens. Marsha tersentak kaget, saat akan memundurkan wajahnya, tengkuknya ditahan oleh tangan Al, dan Al mulai mengecup bibir Marsha lembut. Marsha mengerjap kaget, dan langsung mendorong dada Al dengan tangan satunya yang ngga melingkar ke leher Al. Tapi Al malah memperdalam ciumannya,dengan melumat dan menyesap bibir Marsha yang menjadi candunya dengan lembut. Marsha memang tidak menolak tapi juga tidak membalas karena Marsha ngga tau harus kaya gimana. Hingga berapa lama Al akhirnya melepas pagutannya untuk menarik nafas, begitu pun Marsha. Marsha menunduk malu saat bibirnya terlepas, pipinya terasa panas. Al hanya terkekeh melihat tingkah gadisnya yang masih malu saat ia cium, padahal ini bukan kali pertama bagi mereka.
"Al nyari lampu apa kek, serem ih lama2 kaya gini. "ucap Marsha tiba-tiba mengalihkan rasa malu yang meliputinya.
" Untung gelap, kalo terang muka gue pasti merah banget. "gumam Marsha dalam hati sambil memegang pipinya yang masih panas.
" Jan lama-lama! "ucap Marsha sambil menarik kemeja Al.
" Iya...! "jawab Al, dan berlalu. Tak berapa lama nampak Al membawa ponselnya dan menyalakan lampunya. Lalu kembali duduk disamping Marsha. Marsha sedikit merasa lega, walau cahaya lampu dari ponsel tidak seterang lampu neon, tapi lumayan memberi penerangan di ruangan itu. Al masih diem diaamping Marsha tanpa berucap apa2. Hal itu membuat Marsha heran dan sedikit takut.
"Al... Ko diem aza sih? "gerutunya sambil mengguncang lengan Al. Al hanya menatap Marsha tanpa berkata apapun. Hal itu membuat Marsha sedikit takut.
" Aduuuh kenapa sih, Al, ko diem gitu, apa jangan2... "gumam Marsha sambil menggelengkan kepalanya menepis semua bayangan yang menyeramkan.
Al menatap gadisnya dengan intens, lama-lama ia mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Marsha. Marsha yang sadar dengan itu beringsut memundurkan tubuhnya tapi malah mentok ke pegangan sofa.
"Al.. Jangan nakutin deh! "ucapnya sambil menahan dada Al dengan kedua tangannya. Al malah langsung melahap bibir Marsha lagi dengan lahap, hingga membuat Marsha gelagapan, dan memukul dada Al, tapi Almalah memperdalam ciumannya dengan menarik pinggang Marsha dan menahan tengkuk Marsha. Al benar-benar menikmatinya, ia sampai lupa kalo Marsha kehabisan nafas dan melepaskan pagutannya, dia mebiarkan gadisnya menghirup udara banyak2, setelah itu ia kembali melahap bibir gadisnya yang terasa manis. Marsha benar-benar gelagapan ia ngga bisa menghindari ciuman Al yang ngga seperti biasanya, Marsha terus memukul-mukul dada Al agar melepaskannya, tapi tak dihiraukan oleh Al, hingga akhirnya Marsha menggigit bibir Al dengan cukup keras.
"Aaw... Kok gigit sih, yank? "ucap Al sambil memegang bibirnya yang terkena gigitan.
" Abis kamu nyeremin tau, aku ampe ngga bisa nafas. "gerutu Marsha sambil menutup bibirnya dengan tangannya. Al tertawa pelan saat mendengar gerutuan gadisnya.
" Abis kamu manis. "goda Al.
Tak berapa lama lampu kembali nyala dan itu membuat Marsha lega. Mereka melanjutkan kembali nonton yang tadi terjeda gara2 mati lampu. Setelah film selesai, mamah sama papah Marsha akhirnya pulang, dan Al pun pamitan selain sudah malam, Al juga merasa tenang karena gadisnya ngga sendirian.
"Jangan lupa besok ya, Yank! "ucap Al saat Marsha mengantarnya ke depan, Marsha hanya mengangguk dan tersenyum.
Malam ini Marsha susah untuk melelapkan tubuhnya ke alam mimpi, ia masih merasakan saat Al tadi menciumnya. Sementara Al tidur dengan nyenyak setelah membayangkan saat iaencium gadisnya dengan puas.
Keesokan harinya Marsha sudah siap dengan pakaian santainya, ia menunggu Al menjemputnya. Sebelumnya Marsha sudah meminta izin pada orang tuanya untuk jalan sama Al hati ini.
Tak berapa lama terdengar suara deru motor Tiger di depan rumahnya, Marsha pun keluar ia melihat Al dengan setelan warna hitam dengan jaket kulit hitam melekat di tubuhnya, dengan helm warna senada. Al pun turun dan pamit pada orang tua Marsha.
"Nih pake helmnya, yank! "ujar Al sambil menyodorkan helm warna biru ke Marsha. Marsha pun menerimanya dan memakainya, saat akan mengaitkan talinya ia kesulitan, Al pun membantunya.
" Siap yank? "tanyanya.
" Siap, jangan ngebut ya, Al! "ucap Marsha. Al pun mengangguk dan mulai melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saat motornya sudah menjauh dari rumah Marsha, tiba tiba Al menarik tangan Marsha dan melingkarkannya di perutnya yang kotak2. Marsha merasa cangggung tapi Al menggenggam tangannya agar tetap melingkar di perutnya.
Mereka menikmati suasana jalanan saat berkendara naek motor, semuanya terlihat jelas.
Sampai tiba-tiba
Braaak.....
Bersambung....