MY POSSESSIVE LOVE

MY POSSESSIVE LOVE
Wisuda



Tak terasa waktu berlalu, sekarang Al dan Marsha sudah kembali ke rumah Wijaya. Mereka hendak mempersiapkan untuk acara wisuda Al besok.


Sore ini Marsha dan sang mamah masih sibuk di dapur dari pagi, mereka membuat beberapa makanan untuk dihidangkan. Dari mulai kue kering, bolu panggang, dan cemilan asin lainnya.


Saat Marsha sedang merapihkan beberapa kue ke dalam toples, tiba-tiba Al menghampirinya dan memberikan ponsel sang istri.


"Yank, ada telpon nih, tapi nomor luar negri, sapa sih? "ucap Al dengan sedikit curiga. Marsha menerima ponselnya dan mengerutkan kening saat melihat nomor yang tertera di sana.


" Aku juga ga tau! "ucap Marsha cuek sambil berlalu ke sofa dan duduk di sana, lalu mengangkat telponnya.


Al juga mengekori sang istri dan ikut duduk disampingnya. Sebelum Marsha mengucapkan halo tiba-tiba terdengar teriakan di sebrang.


" Shashaaa...gue kangen sama lo! "ucap cewe dari sebrang, yang membuat Marsha menjauhkan ponselnya. Al masih menatap tajam ke arah sang istri.


" Cewe, al, jan gitu ngapa liatnya! "omel Marsha pada sang suami.


" Maaf sapa ya? "jawab Marsha sopan.


" Iih shasha lo lupa ama gue, gue Wati temen SMA lo! "jelasnya. Marsha masih mengingat-ngingat wajah yang katanya teman SMA itu.


" Oooh iya, gue inget, lo yang suka sama si Gio kan eh malah ditikung sahabat lo! "jelas Marsha sambil terkekeh.


" Sueee ga perlu dijelasin juga woii! "omel Wati. Marsha terkekeh geli saat mendengar omelan temannya itu.


" Lah terus lo ngapa di luar negri, nyari bule lo, Wati? "tanya Marsha penasaran. Sementara Al masih asyik duduk di samping sang istri sambil menguping pembicaraan mereka.


" Sialan, ga lah gue masih cinta produk dalam negri. Gue udah nikah ya punya anak atu. "jawabnya sambil terkekeh.


" Gue jadi TKW di Singapura, Sha! "lanjutnya.


" Laki sama anak lo di bawa? "tanya Marsha penasaran.


" Gue disini kerja ya bukan piknik, markonah! "jawab Wati yanv membuat Marsha terkekeh geli.


Percakapan pun berlangsung cukup lama, sebelum mengakhiri percakapannya, Wati bilang akan pulang minggu depan, karena tiket agak sulit didapat gara-gara ada virus corona yang mulai menyebar di Singapura.


Itu juga alasan ia pulang selain kangen sama anak dan lakinya.


Marsha pun menutup telponnya dan menyimpan ponselnya di atas meja. Al masih menatap tajam ke arah sang istri.


"Ngapa sih liatnya gitu amad, Al? "tanya Marsha saat sadar Al sedang menatapnya.


" Kalo cemburu tuh suka ga liat-liat! "gerutunya dalam hati.


Marsha pun beranjak hendak kembali ke dapur untuk membantu sang mamah. Saat ia akan melangkah melewati sang suami tiba-tiba tubuhnya di tarik ke pangkuan sang suami.


" Iiih, Al, ngapain sih aku mau bantuin mamah! "omelnya sambil berusaha melepaskan pelukan sang suami.


" Bentar doang, yank, aku kangen! "ucapnya sambil menyandarkan dagunya di bahu sang istri.


" Udah awas ah, biar cepet beres, badan aku juga udah lengket gini pen mandi! "lanjutnya.


" Bentaran napa sih, yank? "ucap Al sambil mencium pipi sang istri.


" Shaaa....! "panggil sang mamah dari dapur.


" Iya, mah! "jawab Marsha. Lalu melepaskan tangan sang suami dari perutnya dan hendak beranjak, tapi Al malah mengeratkan pelukannya lagi.


" Bentar lagi, yank! "ucapnya sambil menelusupkan wajahnya di leher sang istri.


" Iih bentar kamu mah lama, awas dulu lah kasian mamah tuh pasti perlu bantuan aku, Al! "ucap Marsha yang tidak ditanggapi Al sama sekali. Akhirnya Marsha pun mencubit lengan sang suami cukup keras hingga pelukannya terlepas. Marsha tidak menyiakan kesempatan itu, lalu beranjak dan berlari ke arah dapur.


" Sakit, yank, galak banget sih! "omel Al sambil mengusap lengannya yang kena cubit.


" Biarin! "ucap Marsha cuek dan berlalu ke dapur menghampiri sang mamah. Al hanya mencebikan bibirnya dan masih mengusap lengannya.


Sekitar jam 7 malam semuanya sudah beres, Marsha dan sang mamah yang kelelahan akhirnya bisa membersihkan tubuhnya agar lebih segar.


Marsha baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya dan rambut yang terlilit handuk. Sementara Al sedang mengetik di laptopnya, karena sudah beberapa bulan ia mempelajari berkas-berkas perusahaan sang papah. Setelah wisuda ia akan resmi memegang cabang perusahaan sang papah.


Al menutup laptopnya dan menyimpannya di atas meja, saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Ia pun beranjak dan menyuruh sang istri duduk di depan meja rias lalu, mulai menggosokan handuk di rambut panjang sang istri.


"Seger banget, yank! "ucap Al sambil terus menggosokan handuk di rambut sang istri.


" Kamu pasti cape, yank, hayu kita istirahat kan besok kita berangkat pagi! "lanjut Al.


Marsha pun mengangguk dan beranjak untuk mengambil gaun tidurnya. Memakainya dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Al pun mengikuti sang istri berbaring di sampingnya. Mereka pun terlelap dengan Al memeluk tubuh sang istri.


Keesokan harinya


Al dan keluarga sudah siap berangkat ke acara wisuda Al. Al tampak gagah dengan jas hitamnya, semntara sang istri memakai setelan kebaya modern berwarna abu senada dengan baju sang mamah mertua. Keluarga Marsha pun ikut hadir dalam acara wisuda Al.


Al duduk diantara para wisudawan dengan baju toga yang melekat di tubuh mereka. Setelah acara sambutan dan sebagainya akhirnya para wisudawan itu dipanggil satu per satu untuk menerima ijazah dan pemindahan tali di topi toga. Sebagai simbol bahwa mereka sudah resmi menyandang titel sarjana.


Al termasuk ke dalam lulusan terbaik tahun ini dengan nilai ipk 4. Acara pun berlangsung dengan lancar. Mereka semua bergembira bersama keluarga masing-masing. Berfoto bersama adalah ritual wajib saat wisuda.


Sekitar jam 3 sore acara selesai mereka pun pulang bersama. Keluarga Al dan Marsha sekarang berkumpul di rumah Al untuk merayakan kelulusan Al. Bahkan tante Yuli dan suami pun sudah menunggu di rumah Al.


Mereka makan bersama dan bercengkrama bersama. Tante Yuli juga sudah memerima Marsha dengan tulus tanpa memanas-manasi lagi dengan menjidohkan Al pada yang lain.


Mereka semua bahagia bisa berkumpul bersama keluarga besar mereka.


Bersambung....


Happy reading...


Mba Wati...makasih udah mau jadi inspirasi dari cerita aku... 😘