
Alfan sampai ke rumahnya dan langsung masuk ke kamarnya. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, sebelumnya ia menggantungkan jaketnya di kursi belajar. Lalu Al memgambil ponselnya dan menghubungi Marsha, sekedar ngasih tau kalo ia sudah sampe rumah.
"Ko ngga diangkat sih, yank? "gumam Al. Namun saat ia mencoba menghubungi gadisnya lagi, ada nada getar di jaketnya.
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Al pun menghampiri jaketnya dan memeriksa benda di sakunya, tanpa memutuskan sambungan teleponnya.
" Aduuuh gue lupa hp Marsha masih disini."gumam Al sambil menepuk jidatnya. Tapi tak berapa lama ide jailnya muncul untuk mengecek ponsel kekasihnya.
Di rumah Marsha.
Marsha nampak mondar-mandir mencari ponselnya.
"Dimana hp gue ya, perasaan tadi di tas deh"gumamnya sampai berapa lama ia berpikir akhirnya ia mengingat kejadian di mobil Al.
"Aduuh pasti kebawa sama, Al deh. "sambil memegang keningnya. Tapi ia ngga pernah khawatir ponselnya tertinggal sama Al, karena Marsha memang ngga pernah chat sama siapa pun kecuali keluarga dan temannya, bahkan kalo ada no baru ngga pernah ia bales.
" Bagus deh, gue bisa bobo nyenyak nih, tanpa harus bales pesan atawa nerima telpon dari Al. "gumamnya sambil merebahkan tubuhnya.
Sementara Al berusaha membuka pin ponsel Marsha, ternyata tanggal ulang tahun Marsha.
" Cewe gue, simpel banget ngasih pin cuma tanggal ultah. "ucap Al sambil membuka semua pesan, tapi emang ngga aada yang aneh, bahkan ada no baru yang mengirim pesan tapi ngga pernah dibalas sama cewenya. Al akhirnya menutup ponsel Marsha dan langsung rebahan untuk melelapkan tubuhnya yang terasa lelah.
Tak terasa hari H tinggal menghitung jam. Marsha tampak didandani oleh perias yang dikirim oleh mamah Desi bahkan gaun nya juga sudah ia siapkan. Rumah Marsha sudah didekorasi dengan indah, semua orang tampak sibuk memeriksa semua persiapan agar tidak ada kekurangan ataupun kesalahan.
Marsha terlihat sangat cantik dengan gaun biru panjang dengan bahu terbuka, dan rambut ditata sedemikian rupa hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih.
"Aduuh, apa ini ngga terlalu terbuka ya, mbak? "tanya Marsha pada perias yang mendandaninya dan memakaikan gaunya.
" Ngga non, udah ini cantik banget".ucapnya sambil menatap kagum ke arah Marsha.
"Tapi aku kok risih ya, mbak. "ucap Marsha sambil menutupi bahunya.
" Ngga non udah cantik, ngga kebuka juga, biasanya ya kalo orang lain mah pengen baju yang sexy, ini mah bukan apa2, lagian ini udah dipilihin sama nyonya Desi. "jelasnya
Marsha akhirnya pasrah, toh yang milihin juga calon mertuanya.
Tepat jam 8 malam acara akan dimulai, Alfan juga sudah hadir dengan setelan jas dengan warna senada yang digunakan Marsha. Semua tamu undangan sudah hadir.
Di dalam mobil depan rumah Marsha nampak Doni dan Dona megintai rumah Marsha, mereka menginginkan acara pertunangan Alfan dan Marsha gagal. Doni mengepalkan tangannya saat melihat Al sedang memasangkan cincin di jari manis Marsha, begitu juga Dona.
Acara berjalan dengan lancar sekarang Marsha sudah resmi jadi tunangan Alfan Wijaya.
Saat semua orang bergantian memberi selamat, tanpa mereka sadari Doni dan Dona ada diantara mereka. Saat mereka akan memberi ucapan selamat, tiba2 Dona langsung memeluk Al yang membuatnya terlonjak dan mendorong Dona. Marsha uang melihat kejadian itu langsung memalingkan wajahnya, pipinya terasa panas melihat adegan itu.
"Jaga sikap lo! "tegas Al sambil memeluk pinggang Marsha posesif. Dona hanya tertawa sinis mendengar ucapan Al.
" Jangan so suci Al, dulu aza kamu mepet2 sama aku. "ucap Dona ingin memanas-manasi Marsha. Padahal sebenernya Al itu tak pernah sekalipun menyentuhnya, jangankan cium peluk digandeng aza ngga pernah.
Marsha berusaha menahan rasa cemburunya karena masih banyak tamu sekarang.
Setelah itu nampak Doni menghampiri mereka, Marsha yang sadar akan kehadirannya, menggenggam erat lengan Al, ia masiherasa takut jika berhadapan dengan cowo tinggi itu.
"Kamu cantik banget sayang! "ucapnya sambil berusaha meraih Marsha, tapi dihalangi oleh Al dan Marsha terpundur dan berlindung di belakang Al.
" Jangan sentuh milik gue! "geram Al penuh penekanan.
"Breng***k! Ngapain lo di sini hah?! "teriak Rangga yang mengundang perhatian semua orang. Doni yang tak mengetahui sebelumnya langsung tersungkur dan dibantu oleh adiknya.
Mamah sama papah Marsha langsung menghampiri kegaduhan itu, disusul oleh mamah dan papah Al juga. Papah Wijaya langsung memanggil pak satpam yang bertugas di depan rumah Marsha.
"Pak, tolong amankan mereka dan jangan biarkan mereka masuk kesini! "tegas papah Wijaya pada pak Udin satpam dekat rumah Marsha.
" Mohon maaf atas ketidaknyamanan barusan, semuanya bisa menikmati kembali hidangan yang sudah disediakan! "ucap Papah Rahadian.
Marsha masih terlihat gemetar di kamarnya. Sebab setelah kejadian itu Marsha langsung dibawa masuk ke kamarnya oleh sodara sepupunya. Tak lama berselang Al masuk ke kamar Marsha ia khawatir pada kekasihnya.
" Yank, kamu ngga papa kan? "ucap Al sambil duduk disamping Marsha, sementara sodara sepupu Marsha pamit ke bawah.
Marsha masih menunduk dan masih terdengar isakan di bibirnya.
" Yank..! "ucap Al sambil memegang dagu Marsha agar melihat ke arahnya, matanya terlihat basah, hidung mancungnya memerah, tapi malah terlihat menggemaskan di mata Al.
" Maafin aku, yank, aku ngga tau kalo mereka akan kesini. "ucap Al sambil memeluk Marsha yangasih terdiam. Al mengusap punggung Marsha dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher Marsha yang terbuka.
" Aku ngga apa apa, Al. "ucap Marsha di tengah isaknya yang berusaha ia hentikan.
Al terus mempererat pelukannya, ia benar-benar mengkhawatirkan gadisnya yang baru saja sah menjadi tunangannya.
" Aku bakal jagain kamu, yank! "bisiknya.
Marsha melelapkan wajahnya ke dada Al. Ia merasa nyaman saat Al memeluknya seperti itu. Al melepas pelukannya dan menatap Marsha.
" Mau ke bawah lagi, yank? "ucap Al. Marsha mengangguk pelan sambil menggosok hidungnya yang memerah.
" Kamu ko makin cantik sih, yank."goda Al sambil mendekatkan wajahnya ke Marsha.
"Iih modus..! "jawab Marsha sambil mencubit lengan Al. Al malah langsung mencium kening Marsha.
" Ayo, yank! "ucap Al sambil menggandeng Marsha dan memapahnya menuju ke lantai bawah yang masih berlangsung acara.
Al dan Marsha kembali berbaur dengan keluarga dan tamu di bawah, mereka makan2 dan berbincang. Saat sedang berbincang tiba-tiba bang Rafa membuat pengumuman kalo kita harus berdansa dengan pasangan masing-masing, nah terus yang jomblo pegimana? Ini saat mereka untuk mencari pasangan.
Acara dansa pun dimulai bahkan Al dan Marsha pun ikut.
"Al aku ngga bisa "bisik Marsha. Al hanya mengangguk lalu mengarahkan Marsha agar memegang bahunya, semetara tanga Al memeluk pinggang Marsha posesif.
" Ikutin aku, yank"bisiknya di telinga Marsha, yang membuat Marsha merona.
Acara dansa pun selesai dan semua tamu sekarang mulai berpamitan pulang.
Acara sukses walau ada sedikit insiden gara-gara ulah Dona dan Doni.
Bersambung....