My First Night With My Boss

My First Night With My Boss
9. Sosok Yang Sering Di Bicarakan Oleh Para Pekerja Kantor



Di saat Lyra memasak, Lyra mulai mengingat nama pak Rigel yang pernah di sebutkan oleh teman kerja Nata yang bernama Vika pada saat di klub malam. Lyra juga mengingat dengan ucapan Denis yang menyebutkan pak Rigel merupakan orang yang bringis. Karena ingatan itu muncul, Lyra sampai harus berhati-hati membuat makanan yang di buatnya.


Lyra belum bertatap muka dengan Rigel, dan belum pula mengantarkan makanan ke ruang kerjanya. Tapi Lyra sudah merasa gugup dan gelisah.


"Satu kesalahan saja bisa membuatku di pecat," batin Lyra resah.


Gugup dan gelisahnya membuat Lyra sampai harus kehilangan fokus, sudah satu jam memasak ia malah baru menyelesaikan satu menu. Sementara pak Rigel sudah menyampaikan pada Susi agar Lyra bisa secepatnya membuatkannya makanan. Satu menu yang Lyra buat itu hanyalah ayam goreng dan nasi putih.


Lalu tiba-tiba saja bu Susi datang menghampiri Lyra.


"Tadi pak Rigel kembali menghubungi saya, dia bertanya apakah kamu sudah menyelesaikan masakannya."


"Saya baru selesai membuat ayam goreng. Satu menu lagi secepatnya akan saya selesaikan."


Susi menggeleng. "Satu jam yang kamu gunakan hanya bisa membuat satu masakan. Kamu harus secepatnya menyelesaikannya, jangan membuatnya menunggu terlalu lama."


"Baik bu, saya akan segera menyelesaikannya."


Lyra pun terburu-buru menyelesaikan masakannya. Satu menu terakhir yang di buatnya adalah tumis kangkung. Tumis kangkung yang di buatnya tak memakan waktu lama. Hanya dengan menggunakan bahan-bahan sederhana, Lyra mampu memasak tumis kangkung dalam kurun waktu dua puluh menit.


Lyra segera menyajikan dan menata masakan yang di buatnya ke piring. Setelah itu, iapun segera meletakan piring-piring yang telah di isi masakannya itu, ke nampan.


"Ruangannya pak Rigel di sebelah mana ya?" Tanya Lyra kepada Nur, yang saat ini Nur tengah memasak di sebelahnya.


"Ruangannya berada di lantai paling atas."


Lyra pun segera membawa nampannya pergi dari dapur.


"Hati-hati saat nanti bertemu dengan pak Rigel, jangan sampai membuat kesalahan," teriak Yunus kepada Lyra.


Seketika langkah Lyra pun terhenti. "Memang mengapa?"


"Jika kamu sampai membuat kesalahan, taruhannya adalah pekerjaanmu. Dia tak suka bila di kecewakan."


"Deg...


Jantung Lyra sampai berdebar kencang setelah mendengar peringatan dari Yunus.


"Apa dia seburuk itu, sampai satu kesalahan saja bisa membuat orang di pecat," gumam Lyra.


Lantai paling atas merupakan ruang kerja Rigel, Lyra membawa nampannya menaiki lift untuk sampai di sana. Saat Lyra memasuki Lift, ia bertemu dengan Nata dan Vika.


"Kamu mau kemana sampai harus membawa nampan segala?" Tanya Nata heran.


"Aku mau mengantar makanan untuk pak Rigel."


"Makanan untuk pak Rigel?" Ucap Vika yang juga merasa heran.


"Iya, dia tadi memintaku memasakan makanan untuknya."


Tiba-tiba saja Nata memegangi lengan Lyra. "Tak biasanya dia meminta makanan dari kantin. Apa lagi kamu yang membuatnya. Aku sangat tahu jika masakanmu enak, tapi dia adalah orang yang pandai mengkritik."


"Biarpun nanti kamu akan terkena kritikan pedas darinya, kamu akan memiliki keuntungan dengan hanya melihat wajah tampannya. Oh ya, tak hanya dia saja yang berwajah tampan, tapi sekertarisnya pun memiliki wajah yang tampan. Biarpun terkena kritikan pedas, setidaknya kamu dapat melihat dua wajah tampan sekaligus," lontar Vika.


Biarpun nanti yang mengkritiknya memiliki wajah tampan, tak semudah itu Lyra dapat menikmati wajah tampan dari seorang CEO yang bernama Rigel itu. Lyra berada di sini bukan untuk menikmati wajah tampan dari seorang pria, melainkan untuk bekerja. Apa lagi bila sampai Rigel mengkritik ataupun mengomelinya, mana bisa Lyra menikmati wajah tampannya, yang ada malah di buat takut olehnya.


Di saat Nata dan Vika turun dari Lift, Lyra malah semakin gelisah. Ia seorang diri berada di lift, dengan gelisahnya ia memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat ia memasuki ruangan pak Rigel. Lyra sampai-sampai tak bisa nyamannya berdiam diri. Lyra takut, bila sampai pak Rigel tak suka dengan masakannya yang di buatnya itu.


Dua menit kemudian, Lift sampai di lantai paling atas. Lyra keluar dari lift dengan jantung yang berdebar sangat kuat. Sampai-sampai berjalan lima langkahpun terasa lelah, hanya karena rasa gugup dan gelisahnya yang tak terkendali.


"Apa pak Rigel ada di ruangannya?" Tanya Lyra kepada sekertaris yang bernama Ryan itu.


"Iya ada. Masuk saja, dia sedang menunggumu."


Dan bahkan suaranya tak terdengar sengau seperti orang flu pada umumnya. Biarpun merasa heran, Lyra tak memperdulikannya, karena yang perlu Lyra lakukan saat ini adalah segera mengantarkan makanan yang telah di buatnya kepada Rigel, tanpa perlu berlama-lama lagi.


Sebelum masuk, terlebih dahulu Lyra mengetuk pintu.


"Tok..Tok...


"Masuk saja," lontar CEO yang tengah berada di ruangan tersebut.


Lyra pun masuk ke dalam ruangan. Namun, di saat Lyra menginjakan kakinya, ia tak dapat melihat wajah dari CEO yang terkenal dengan kritikan pedasnya. Yang ia lihat hanyalah punggung kursi dan meja yang terdapat papan nama atas nama Rigel Callisto. Ia tak dapat melihat wajahnya, karena CEO tersebut duduk menghadap ke arah jendela.


"Maaf pak sebelumnya, saya sudah membuat anda menunggu lama," ucap Lyra bernada gugup.


"Tak apa, letakan saja makanannya di atas meja. Lalu sehabis ini kamu langsung pergi saja," pungkas Rigel.


Lyra pun meletakan piring dan gelasnya di atas meja. Setelah itu, ia pun kembali beranjak keluar dari ruangan.


Akhirnya Lyra dapat bernafas lega, ternyata Rigel tak mengkritik ataupun memarahinya seperti apa yang di pikirkannya tadi. Gelisahnyapun akhirnya mereda, kini ia tak lagi merasa takut akan di pecat Rigel. Karena Rigel sama sekali tak memarahi Lyra, padahal Lyra sudah membuatnya menunggu lama.


Yang tadinya gugup dan gelisah, perasaan Lyra kini sedikit lebih tenang setelah ia kembali ke dapur. Lyra membantu yang lainnya menyelesaikan masakan untuk makan siang seluruh pekerja di kantor. Namun, belum lama Lyra membantu, bu Susi kembali mendapati panggilan dari Rigel untuk Lyra. Rigel menyuruh Lyra kembali ke ruangannya. Lyra pun kembali merasa gelisah, kali ini gelisahnya lebih parah dari yang tadi.


"Apa ada yang salah dengan masakanku," gumam Lyra heran.


Lyra sampai-sampai tak bisa dengan tenangnya bernafas. Ia harus kembali ke ruangan yang menurut semua pekerja di gedung kantor, merupakan ruangan paling mengerikan.


Lyra kembali ke ruangan CEO, dan lagi-lagi Rigel masih duduk menghadap ke arah jendela.


"Hm, maaf. Apa ada yang ingin bapak sampaikan kepada saya, hingga membuat saya harus kembali datang kesini."


Rigel menghela, hingga hembusan nafasnya terdengar oleh telinga Lyra. Mendengar suara nafasnya saja jantung Lyra serasa mau putus. Lyra sangat tak nyaman berdiam diri, padahal baru dua menit ia berdiri tapi seperti sudah berjam-jam ia berada di ruangan tersebut.


"Kamu tahu jika masakanmu sangat tidak sehat, ayam goreng yang berminyak dan tumis kangkung yang rasanya seperti micin. Apa kamu akan membuat saya kolestrol," lontar Rigel tanpa berbalik menghadap Lyra.


"Maaf, apa mau saya buatkan lagi."


"Tentu saja buatkan lagi, apa kamu tidak lihat makanannya masih penuh dan saya hanya memakan dua sendok dari makanan yang kamu buat."


Tanpa berucap, Lyrapun sesegera mungkin mengambil piring-piringnya. Lalu kembali ke dapur kantin untuk membuat ulang makanannya. Lyra membuat menu lain yang lebih sehat yang tak menggunakan banyak minyak ataupun micin.


Namun, lagi-lagi saat Lyra selesai mengantarkan masakannya, Rigel kembali memanggilnya dan kembali mengkritik makanan yang di buatnya itu. Dan lagi-lagi Rigel masih duduk memunggungi Lyra. Sudah dua kali masakannya tak di terima baik oleh Rigel Callisto. Kali ini yang ketiga kalinya Lyra membuat ulang masakannya. Dan untuk kali ini juga Lyra tak akan kembali ke dapur sebelum ia melihat Rigel selesai memakan masakannya.


"Maaf sebelumnya, saya tidak akan kembali ke dapur sebelum pak Rigel selesai memakan masakan saya."


"Ck." Rigel berdecik. "Bila kamu berada di sini, kamu akan sangat menganggu saya."


"Saya minta maaf sekali lagi, bapak sudah tiga kali tidak menerima makanan yang saya buat. Mengapa bapak masih menginginkan saya yang membuatnya."


"Karena saya ingin memberi pelajaran untuk kamu."


Lyra mengerutkan kedua alisnya. "Apa maksud pak Rigel? Mengapa bapak ingin memberi saya pelajaran. Saya bahkan baru hari ini bekerja, dan saya juga tak merasa berbuat salah kepada pak Rigel."


Rigel kembali berdecik. "Ck, jika kamu ingin jawabannya, kamu tunggu saya selesai menghabiskan makanannya. Dan kamu boleh menunggu di depan pintu, nanti saya akan panggil kamu kembali."